
Geriatri - Pergantian tahun dalam kalender Islam selalu membawa gaung yang sama setiap tahunnya: panggilan untuk hijrah. Ketika kita memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah yang jatuh pada 16 Juni 2026 ini, esensi perpindahan dan perubahan itu terasa jauh lebih kontekstual, bahkan mendesak.
Kali ini, refleksi Muharram tidak boleh hanya berhenti pada resolusi spiritual individu yang klise, melainkan harus ditarik ke dalam realitas sosial yang sedang membayangi bangsa kita: fenomena ageing population.
Indonesia saat ini sedang "menua" dengan laju yang lebih cepat dari perkiraan. Data terbaru menunjukkan bahwa populasi lanjut usia (lansia) kita diproyeksikan menembus angka 40 juta jiwa pada tahun 2030. Saat ini, di tahun 2026, gelombang pralansia (usia 50–59 tahun) dan lansia baru sedang tumbuh pesat. Kita sedang bergeser dari bangsa yang didominasi usia muda menuju bangsa yang dipenuhi rambut memutih.
Lantas, apa hubungannya Tahun Baru Islam dengan statistik demografi ini? Di sinilah "Hijrah Makna" itu harus kita deklarasikan.
Selama ini, narasi yang berkembang di masyarakat sering kali menempatkan lansia sebagai kelompok yang pasif, rentan, atau bahkan dianggap sebagai "beban ketergantungan" (dependency ratio). Menatap Tahun Baru Islam 2026, paradigma keliru ini harus dihijrahkan.
Dalam perspektif Islam, usia tua bukanlah masa jeda untuk berhenti bermakna. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. "Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. Tirmidzi)
Bagi jutaan pralansia dan lansia yang tengah tumbuh di Indonesia hari ini, 1 Muharram 1448 H adalah momentum transisi dari fase mengejar karier formal (usia produktif secara ekonomi) menuju fase kemandirian yang kontributif (produktif secara sosial dan spiritual). Lansia tangguh bukanlah mereka yang sekadar menghabiskan hari tua dengan melamun, melainkan mereka yang menularkan kearifan, menjaga kohesi sosial di masyarakat, dan menjadi jangkar moral bagi generasi muda yang kian gamang.
Namun, spiritualitas tanpa realitas adalah kepalsuan. Kita tidak bisa menuntut para lansia untuk berhijrah menjadi "Lansia Tangguh" jika ekosistem negara tidak mendukung. Ada tantangan besar yang membayangi kelompok ini:
Oleh karena itu, semangat Tahun Baru Islam 2026 ini juga harus diadopsi oleh pembuat kebijakan dan masyarakat umum. Hijrah secara struktural berarti mengubah kota dan desa kita menjadi lingkungan yang ramah lansia (age-friendly environment). Masjid-masjid harus mulai berbenah—menyediakan fasilitas yang ramah bagi fisik lansia yang mulai melemah. Layanan kesehatan primer harus lebih proaktif melakukan jemput bola, bukan sekadar menunggu di puskesmas.
Jika dikelola dengan spiritualitas Muharram yang tepat, ledakan jumlah lansia di Indonesia tidak akan menjadi bencana, melainkan berkah yang disebut sebagai Bonus Demografi Kedua. Kelompok pralansia yang melek teknologi di tahun 2026 ini memiliki potensi besar untuk tetap berdaya secara ekonomi (lewat wirausaha digital mikro) maupun sosial (menjadi mentor bagi gen-Z dan generasi alfa).
Tahun Baru Islam adalah momen perpindahan dari kegelapan menuju cahaya, dari kepasrahan menuju aksi nyata. Menyambut 1 Muharram 1448 H, mari kita rangkul populasi pralansia dan lansia kita bukan sebagai masa lalu yang sedang memudar, melainkan sebagai aset masa depan bangsa.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Mari kita menua bersama dengan anggun, bermartabat, dan penuh berkah di bawah payung rida-Nya. (a2s)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri