
Geriatri.id - Kanker merupakan penyakit yang bisa dikendalikan apabila dilakukan diagnosis dini dengan tepat. Rendahnya kesadaran masyarakat melakukan deteksi dini disebabkan stadium awal kanker yang tidak menunjukkan gejala sehingga kerap tidak disadari penderita.
Karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB) tengah mengembangkan kandidat radiofarmaka baru berbasis siklotron, menggunakan Micro-Positron Emission Tomography/Computed Tomography (microPET/CT).
Peneliti PRTRRB BRIN Isti Daruwati menjelaskan alasan melakukan riset untuk menemukan kandidat radiofarmaka baru menggunakan microPET/CT.
“Positron yang dipancarkan radiofarmaka PET dapat digunakan untuk visualisasi atau pencitraan molekuler menggunakan kamera PET,” ujar Isti dikutip dari laman BRIN, Jumat 21 Juni 2024.
Dia menjelaskan kamera hibrid PET/CT merupakan salah satu bagian dari pemanfaatan Ilmu Kedokteran Nuklir.
Baca Juga: Riset: Kanker Payudara pada Wanita Lansia Kerap Terdiagnosis Berlebihan
“Keberhasilan pencegahan atau pengobatan kanker ditentukan oleh tingkat deteksi dini. Kamera PET/CT ini sensitif, khususnya dalam deteksi dini kanker, dan BRIN mendukung melalui PET/CT untuk pencitraan hewan model kanker,” terangnya.
Riset ini, lanjut dia, menggunakan mencit (tikus) untuk pengembangan kandidat radiofarmaka baru.
Kamera PET/CT berperan dalam pengembangan radiofarmaka pada tahapan uji preklinik sebelum diuji ke manusia.
PET/CT mampu mendeteksi fungsi organ maupun sistem pada tubuh manusia atas berbagai penyakit, khususnya kanker serta mampu menggambarkan fungsi metabolisme molekuler jaringan tubuh di berbagai organ tubuh pasien secara tiga dimensi.
“Riset awal pemeriksaan PET/CT dilakukan dengan menggabungkan informasi dari komponen informasi fungsional berupa perubahan metabolisme sel tubuh dari PET, dan informasi morfologi dan lokasi dari suatu kelainan tubuh dari CT. Sehingga, memberikan informasi yang akurat dan diagnosis berbagai macam penyakit yang lebih tepat, terutama untuk kasus onkologi,” jelas Isti.
“Selain itu, PET/CT dapat menentukan lokasi penyebaran kanker di seluruh tubuh dan keberhasilan terapi,” tambahnya.
Isti mengatakan dalam riset ini, penyuntikan sejumlah dosis kecil radioaktif dilakukan dalam bentuk radiofarmaka melalui pembuluh darah, dengan cara injeksi pada ekor mencit.
Kemudian, dilakukan pencitraan pada microPET/CT scanner dalam posisi berbaring dan kondisi hewan telah dianestesi.
“Apabila riset ini telah berhasil pada mencit, akan dilakukan fase uji klinik, sampai akhirnya dapat dipergunakan untuk manusia,” kata Isti.
Dia berharap, di kemudian hari, riset ini dapat membantu masyarakat Indonesia untuk mendapatkan ketepatan dan keakuratan diagnosis.
Baca Juga: Apa yang Harus Dilakukan untuk Kurangi Risiko Kanker pada Lansia?
Dengan demikian dapat menekan jumlah kesakitan, mendapatkan tata laksana pengobatan terbaik, serta menekan jumlah kesakitan dan kematian akibat kanker.
“Melalui riset menggunakan kamera microPET/CT ini, akan ada banyak riset BRIN terkait radiofarmaka baru yang siap hilir,” pungkasnya.***
*Ilustrasi - Ancaman penyakit kanker.(Pixabay)
Video Lansia Online
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri