Kenali 3 Jenis Diskriminasi Terhadap Lansia


Berita Lansia - Kesehatan jiwa, khususnya lanjut usia (lansia), bukan dilihat pada saat ini saja, tetapi harus sudah diperhatikan pada tahap awal perkembangan yang terjadi dari kehidupan sebelumnya.

2024-06-21 21:04:38

Geriatri.id - Dosen dan Pengembang Sekolah Lansia CeFas URINDO Tri Suratmi mengatakan masyarakat belum memahami kalau ageisme atau diskriminasi terhadap lansia itu berbahaya.

Karena itu, lanjut dia, diperlukan rekonstruksi perilaku masyarakat untuk lebih adab terhadap lansia dan perlu diedukasikan pada semua tingkatan usia.

Hal itu disampaikan Tri dalam talkshow  “Lansia ku di Era Ageing Population: Loneliness, Ageism, and Mental Health”, Rabu 19 Juni 2024.

Diskusi yang digelar Pusat Riset Kependudukan (PRK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini diprakarsai Kelompok Riset Dinamika Keluarga membahas sejumlah permasalahan kesehatan jiwa atau mental dalam keluarga.

Tri menjelaskan, penelitian tentang ageisme di Indonesia masih minim. Hal itu perlu kajian dari berbagai pemangku kepentingan, sehingga hasilnya dapat dijadikan dasar untuk mengusulkan kebijakan. 

Baca Juga: Studi: Bisa Memangkas Harapan Hidup, Jangan Biarkan Lansia Kesepian

Dia mengatakan, ageisme pertama kali diistilahkan ahli Gerontologi, Robert N. Butler, sebagai cara untuk mengekspresikan diskriminasi kepada individu yang lebih tua.

Dia menjelaskan ada tiga jenis ageisme, yaitu kognitif, emosional, dan perilaku. 

Ageisme kognitif terjadi ketika stereotip digunakan untuk memikirkan individu sehubungan dengan usia mereka. 

Misalnya, berpikir orang lebih tua akan menyebrang jalan lebih lambat dibandingkan orang lebih muda. 

Sedang ageisme emosional merupakan prasangka yang dimiliki seseorang terhadap orang lain terkait usia. Prasangka seringkali dikaitkan dengan emosi. 

Ageisme perilaku ketika orang secara fisik atau verbal bertindak untuk menunjukkan diskriminasi terhadap orang lain berdasarkan usianya.

Ageisme berdampak negatif terhadap kesehatan individu lansia. Penelitian menunjukkan orang bersikap negatif terhadap penuaan dapat hidup 7,5 tahun lebih pendek dibandingkan yang berpandangan positif.

“Korban ageisme terbukti memiliki tingkat stres kardiovaskular yang lebih tinggi dan penurunan tingkat efikasi diri dan produktivitas,” katanya. 

Artinya, mempercayai stereotip yang menyertai ageisme dapat memperpendek umur seseorang.

Masyarakat berpaham ageisme cenderung mempromosikan stereotip ageisme, yang dapat menyebabkan lansia merasa terisolasi seolah menjadi beban masyarakat. 

Efek negatif ageisme mengakibatkan lansia mengalami peningkatan kejadian depresi dan gangguan suasana hati lainnya.


Sementara itu, Dosen Keperawatan Jiwa Universitas Respati Indonesia (URINDO) Thika Marliana mengatakan kesehatan jiwa, khususnya lanjut usia (lansia), bukan dilihat pada saat ini saja, tetapi harus sudah diperhatikan pada tahap awal perkembangan yang terjadi dari kehidupan sebelumnya.

Thika memaknai kesehatan jiwa berdasarkan Undang-undang Nomor 17  tahun 2023 tentang kesehatan. Menurut dia, prinsipnya ada empat indikator sehat jiwa. 

Sehat bukan hanya badan bebas penyakit tapi juga mentalnya siap, spiritualnya matang, dan secara sosial bisa terlibat menjadi individu.

Thika menjelaskan fase-fase kehidupan. Rasa percaya terbentuk secara mental pada individu usia 0-1 tahun. 

Lalu, usia 1-3 tahun masuk pada tugas tumbuh kembang untuk membentuk kemandirian.  

Fase prasekolah yaitu usia 4-6 tahun adalah saat membentuk inisiatif. 

Fase anak usia 6-12 tahun, secara mental harus distimulasi bahwa dia puas dan bisa menyelesaikan tugas yang diberikan. 
Sedang fase remaja, masa membentuk identitas diri.

Baca Juga: Waspada, Kesepian Bisa Sebabkan Gizi Buruk pada Lansia

Fase dewasa, dia harus sudah bisa membina hubungan dengan lawan jenis dalam kelompok.

Dia juga memaparkan tentang Inner child, di mana sisi kepribadian seseorang yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. 

“Kadang, orang sering mempersepsikan ini sebagai luka masa kecil. Kita nggak sadar secara psikologis, semua kejadian itu sifatnya netral dan positif. Agama apapun, menyebutkan, semua kejadian sebagai pemberian Tuhan yang terbaik buat kita. Pemaknaan itulah, akhirnya membedakan satu orang dengan orang lainnya,” pungkasnya.***

*Ilustrasi - Lansia kesepian.(Pixabay)

Video Lansia Online


 


ARTIKEL LAINNYA

Mengapa Kecepatan Berjalan Bisa Menjadi Indikator Kesehatan Lansia?

Home Care Semakin Populer, Apa Keuntungan dan Tantangannya?

Cekcok Sampai Bawa Sajam, Kenapa Bisa Terjadi pada Lansia?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026