
Geriatri.id - Daging kambing adalah salah satu bahan makanan yang populer saat Hari Raya Idul Adha. Daging kambing kurban dapat diolah menjadi aneka hidangan seperti sate, gulai atau kari.
Di balik kelezatannya, daging kambing dianggap sebagai salah satu penyebab tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kolesterol tinggi. Mitos atau fakta?
Ada dua macam daging yaitu daging merah dan daging merah olahan. Daging merah meliputi semua jenis daging berotot dari mamalia, termasuk daging sapi dan kambing.
Sedangkan daging olahan adalah daging yang telah diolah melalui pengasinan, pengawetan, fermentasi, diasap atau proses lain untuk meningkatkan raas atau keawetannya.
Ada perbedaan antara daging merah dan daging olahan yaitu kandungan garam (natrium) dan nitritnya akan lebih banyak pada daging olahan dibandingkan daging merah.
Berdasarkan literatur, mengonsumsi daging olahan memiliki risiko lebih besar mengalami tekanan darah tinggi dibandingkan mereka yang mengkonsumsi daging merah.
Baca Juga: Cara Mudah Mengolah Daging Merah Tanpa Mengabaikan Kesehatan Jantung
Hal ini sejalan dengan salah penyebab hipertensi yaitu jumlah garam yang dikonsumsi berpengaruh terhadap tekanan darah seseorang.
Tingkat garam pada daging olahan yang tinggi dapat meningkatkan risiko hipertensi. Karena itu, hal yang disalahkan bukan perihal daging kambingnya tetapi bagaimana cara memprosesnya.
Dalam proses pengolahannya, seringkali orang menambahkan banyak garam pada daging kambing. Tujuannya untuk memberikan rasa yang lebih gurih dan mengurangi bau amis pada daging kambing.
Namun, penambahan garam yang terlalu banyak pada daging kambing bisa berdampak negatif bagi kesehatan manusia, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan.
Sebaiknya, batasi penggunaan garam dalam proses pengolahan daging kambing.
Penggunaan bumbu lain seperti rempah-rempah atau bawang putih pada daging kambing dapat memberikan rasa lebih lezat tanpa harus menambahkan terlalu banyak garam.
Bagaimana hubungan daging kambing dengan kolesterol?
Penelitiaan menunjukkan daging merah tanpa lemak (lean meat) tidak meningkatkan kolesterol jahat dalam darah.
Sedangkan daging berlemak, daging olahan, minyak, makanan cepat saji merupakan sumber lemak jahat (jenuh) yang dapat memicu peningkatan kolesterol.
American Heart Association menyarankan untuk mengonsumsi kolesterol dengan beberapa cara.
- Mengkonsumsi protein nabati lebih banyak dibandingkan lemak hewani
- Memilih daging tanpa lemak
- Membatasi konsumsi daging berlemak dan daging olahan
Berikut tips menikmati daging dengan cara yang lebih sehat:
Baca Juga: Cara Sehat Konsumsi Daging Kurban di Momen Idul Adha
- Batasi jumlah dan memilih jenis daging yang tanpa lemak
- Makan daging seporsi antara dua sampai dengan tiga ons atau
- Pilih daging tanpa lemak
- Potong bagian lemak sebelum memasak dan tuangkan lemak yang meleleh setelah dimasak
- Gunakan metode memasak minim menggunakan minyak seperti rebus dan panggang
- Minimalkan makan daging olahan
- Hindari penambahan garam atau msg yang berlebihan.***
*Ilustrasi - Pengukuran tekenan darah.(Pexels)
Sumber: Kemenkes
Video Lansia Online
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri