Hari Media Sosial, Etika Bermedsos Masyarakat Dinilai Masih Memprihatinkan


Berita Lansia - Media sosial dimanfaatkan berbagai kalangan termasuk lanjut usia (lansia) untuk tujuan tertentu. Hari Media Sosial diperingati pada tanggal 10 Juni setiap tahunnya. 

2024-06-11 12:51:27

Geriatri.id - Hari Media Sosial diperingati pada tanggal 10 Juni setiap tahunnya.  Peringatan Hari Media Sosial telah dilakukan sejak tahun 2015.

Media sosial dimanfaatkan berbagai kalangan termasuk lanjut usia (lansia) untuk tujuan tertentu.

Tujuan peringatan Hari Media Sosial agar masyarakat bisa menggunakan media sosial dengan lebih bijak dan memberikan efek positif bagi diri sendiri dan orang lain.

Menurut laman resmi Hari Media Sosial di Indonesia, pencetus Hari Media Sosial di Indonesia adalah pengusaha asal Solo, Jawa Tengah (Jateng), Handi Irawan.

Handi Irawan adalah pemilik Frontier Group. Dia yang memulai karirnya sebagai pakar pemasaran juga dikenal sebagai content and knowledge based speaker terbaik di Indonesia.

Baca Juga: Ponsel Pintar dan Aktif di Media Sosial Bikin Lansia Awet Muda

Pakar Universitas Airlangga, Dr Listiyono Santoso MHum menyoroti etika bermedia sosial masyarakat Indonesia.

Menurut dia, etika bermedia sosial masyarakat masih sangat memprihatinkan.

“Menurut saya perlu mendapatkan perhatian. Masyarakat belum bisa membedakan sesuatu antara urusan privat dan publik,” ujarnya dikutip dari kominfo.jatimprov.go.id, Senin 10 Juni 2024.

Dosen Etika FIB Unair itu juga mengatakan media sosial sifatnya publik sehingga harus memperhatikan ketentuan etis yang sifatnya publik. 

“Kalau sesuatu persoalan privat jangan masuk atau terunggah dalam media sosial. Ini yang sering terjadi di masyarakat kita, memasukkan ranah privat ke ranah publik,” katanya.

Listiyono juga menyoroti cara bermedia sosial yang salah dan kerap terjadi di masyarakat. 


Dia mencontohkan, konflik keluarga dan konflik antar individu yang kerap masuk atau terunggah dalam media sosial. 

Melihat fenomena itu, dia menegaskan masyarakat membutuhkan edukasi literasi dan cara berpartisipasi di media sosial.

“Ini yang seringkali muncul di masyarakat kita dan butuh literasi media sosial biar tahu mana urusan dalam ranah privat dan mana urusan dalam ranah publik,” katanya.

Mengenai fenomena buzzer atau pendengung, Wakil Dekan I FIB UNAIR itu mengatakan fenomena tersebut merupakan sebuah keniscayaan. 

Baca Juga: Lansia Ber-Medsos, Kenapa Tidak?

Buzzer, lanjut dia, sengaja hadir untuk menciptakan framing kondisi tertentu dengan tujuan menyudutkan kelompok tertentu.

“Masyarakat kalau memiliki literasi bermedia sosial yang baik, maka akan bisa membedakan mana yang sesuai realitas dan mana yang sengaja tercipta dengan tujuan tertentu,” pungkasnya.***

*Ilustrasi - Berbagai platform media sosial.(Pixabay)

Video Lansia Online

 


ARTIKEL LAINNYA

Mengapa Kecepatan Berjalan Bisa Menjadi Indikator Kesehatan Lansia?

Home Care Semakin Populer, Apa Keuntungan dan Tantangannya?

Cekcok Sampai Bawa Sajam, Kenapa Bisa Terjadi pada Lansia?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026