
Geriatri.id - Calon jemaah haji diimbau untuk dapat beradaptasi dengan cuaca di Tanah Suci agar terhindar dari heat stroke. Diperkirakan suhu di Tanah Suci pada musim haji tahun ini mencapai 40 derajat Celsius.
Heat stroke atau serangan panas adalah bentuk hipertermia atau penyakit yang berhubungan dengan panas.
Heat stroke ditandai dengan peningkatan suhu tubuh tidak normal serta gejala fisik yang menyertainya, termasuk perubahan fungsi sistem saraf
“Jemaah haji, khususnya lansia, sebaiknya sudah mempersiapkan kondisi dan menjaga serta meningkatkan kesehatan dirinya, terlebih sebelum melaksanakan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci, termasuk juga harus mengenali kondisi gejala heat stroke,” ujar Kasi Lansia, Disabilitas, dan PKP3JH Daker Madinah, Dokter Leksmana, di Jakarta dikutip dari laman Kemenag, Senin 6 Mei 2024.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Leksmana mengatakan gejala heat stroke yang tidak segera ditindaklanjuti dapat berdampak buruk pada kesehatan jemaah haji.
Menurut pria yang akrab disapa dr. Leks ini, cuaca panas dapat mengganggu kesehatan jemaah. Gejalanya dehidrasi, serangan panas, lemas, hilang fokus dan rusaknya permukaan kulit.
Berikut tiga tips menghindari heat stroke dari dr. Leks:
1. Banyak minum air putih tanpa menunggu haus
Upayakan minum tiga sampai empat liter air atau setara dengan 12 sampai 16 gelas per hari.
“Minum air putih yang banyak, hindari meminum air kopi atau teh, apalagi yang mengandung gula,” kata dr. Leks.
2. Menyemprot wajah dengan air bersih untuk mengurang panas di kulit.
3. Menggunakan alat pelindung diri
Gunakan alat pelindung diri ketika melakukan aktivitas di luar hotel atau penginapan.
Misalnya, payung, topi berdaun lebar, kacamata hitam, pelembap kulit, tabir surya (sunscreen) dan masker medis untuk menjaga kelembapan aliran napas.
“Jangan lupa pakai baju longgar dan nyaman untuk dapat mencegah naiknya suhu tubuh, berlindung dari sengatan matahari langsung, dan istirahat yang cukup,” ucapnya.
Kuota haji Indonesia 1445 H/2024 M sebanyak 241.000 jemaah. Rinciannya, 213.320 jemaah haji reguler dan 27.680 jemaah haji khusus.
Dari jumlah itu, ada lebih kurang 45.000 jemaah lansia dengan usia 65 tahun ke atas.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Kepada jemaah haji lansia, dr Leks berpesan untuk mengkonsultasikan kondisi kesehatannya kepada dokter yang biasa menangani mereka.
“Mintakan saran dokter terkait kondisi kesehatan, termasuk juga olahraga ataupun aktivitas fisik yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan,” katanya.
Dia menyarankan jemaah haji membawa obat-obatan pribadi yang dibutuhkan.
"Sebab dikhawatirkan obat-obatannya yang dibutuhkan tidak termasuk dalam list obat yang disiapkan tim kesehatan,” pungkasnya.***
*Dok. Jemaah haji di Masjidil Haram.(Kemenag)
Video Lansia Online
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri