
Geriatri.id - Asma adalah penyakit kronis pada saluran napas yang ditandai peradangan dan penyempitan saluran napas. Penyakit ini bisa diidap siapa saja mulai anak hingga lansia.
Asma dapat memengaruhi orang dari segala usia. Meski tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, dengan pengelolaan tepat, penderita asma dapat menjalani kehidupan yang aktif dan sehat.
Untuk mendiagnosis asma, dokter akan melakukan langkah-langkah berikut:
Wawancara Medis: Dokter akan mengumpulkan riwayat medis pasien, termasuk gejala yang dialami, pemicu yang mungkin, dan riwayat keluarga dengan asma atau penyakit atopik lainnya.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Pemeriksaan Fisik: Dokter akan memeriksa paru-paru dan saluran napas menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara napas dan mengidentifikasi tanda-tanda penyempitan saluran napas.
1. Tes Fungsi Paru
Tes fungsi paru seperti spirometri, dapat dilakukan untuk mengukur kapasitas paru-paru dan aliran udara yang keluar saat bernapas. Tes ini membantu dalam menegakkan diagnosis asma.
2. Tes Alergi
Jika diduga alergi sebagai pemicu asma, tes kulit atau tes darah dapat dilakukan untuk mengidentifikasi alergen spesifik pemicu reaksi asma.
Pada penderita asma, saluran napas menjadi sensitif terhadap berbagai rangsangan seperti alergen, udara dingin, polusi udara, atau aktivitas fisik.
Ketika terpapar rangsangan tersebut, saluran napas mengalami peradangan yang menyebabkan pembengkakan dan produksi lendir berlebih, serta otot-otot di sekitar saluran napas menjadi lebih sempit.
Akibatnya, aliran udara terbatas, mengakibatkan gejala seperti sesak napas, batuk, dan mengi.
Asma pada lansia
Asma pada lansia perlu mendapat perhatian khusus karena lebih mungkin mengancam keselamatan jiwa dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Mengapa asma pada lansia lebih berbahaya?
1. Kekuatan otot menurun
Penurunan kekuatan otot menjadi salah satu penyebab asma mudah menyerang lansia.
Kondisi ini membuat saluran napas mudah menyempit ketika terpicu debu, udara dingin dan lain-lain.
Penyebab penurunan kekuatan otot karena pertembahan usia, kurang asupan makanan, dan penyakit metabolik lain seperti gangguan ginjal.
2. Daya tahan tubuh menurun
Seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh juga mengalami penurunan. Pada kelompok usia muda, infeksi virus dan asma mungkin akan lebih mudah ditangani sehingga dapat sembuh dengan cepat.
Namun pada lansia, infeksi akan lebih sulit diobati sehingga durasi sakit bisa lebih lama dengan kondisi lebih berat.
3. Sulit dideteksi
Seringkali asma pada lansia sulit dideteksi karena kekeliruan diagnosis. Ini karena umumnya mereka datang dengan keluhan sesak napas.
Penyebab sesak napas pada lansia lebih sering penyakit paru obstruktif kronik. Ketika disadari, serangan yang terjadi sudah berat dan penyebab sebenarnya adalah asma.
4. Mengonsumsi lebih dari satu jenis obat
Banyak lansia mengonsumsi lebih dari satu jenis obat sehingga kerap kesulitan mengatur jarak antara mengonsumsi obat asma dengan obat lainnya.
Konsumsi obat secara sembarangan dapat menimbulkan efek samping yang merugikan.
5. Lupa minum obat
Terkadang lansia lupa minum obat, terutama yang memiliki penyakit Alzheimer. Lupa minum obat dapat memengaruhi level serangan asma pada lansia.
Pengobatan asma untuk mengendalikan gejala, mencegah serangan asma dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Beberapa pendekatan pengobatan asma meliputi:
Inhaler pengendali
Inhaler pengendali digunakan untuk mengendalikan gejala asma dalam jangka panjang.
Ini termasuk inhaler kortikosteroid yang membantu mengurangi peradangan saluran napas dan inhaler bronkodilator membantu melebarkan saluran napas.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Inhaler penderitaan akut
Inhaler penderitaan akut atau inhaler rescue digunakan selama serangan asma untuk meredakan gejala dengan cepat.
Inhaler ini mengandung bronkodilator yang membantu melebarkan saluran napas secara cepat.
Obat-obatan tambahan
Dokter dapat meresepkan obat tambahan seperti antihistamin atau obat antiinflamasi untuk mengontrol gejala alergi yang memicu serangan asma.
Manajemen lingkungan
Menghindari pemicu asma seperti alergen atau iritan lingkungan sangat penting.
Ini termasuk menjaga kebersihan rumah, menghindari asap rokok, mengontrol kelembaban, dan menggunakan alat penjernih udara jika diperlukan.
Perubahan gaya hidup
Gaya hidup sehat seperti olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, dan mengelola stres dapat membantu mengontrol gejala asma.
Penting untuk mengikuti instruksi dokter dan menjaga komunikasi yang baik dengan tim medis untuk pengelolaan asma yang efektif.
Dalam kasus asma yang parah atau tidak terkontrol dengan baik, dokter mungkin merujuk pasien ke spesialis paru-paru untuk perawatan lebih lanjut.***
*Ilustrasi - Rontgen paru-paru.(Pixabay)
Video Lansia Online
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri