5 Pertanyaan Seputar Masalah Pekerja Lansia di Asia Termasuk Indonesia


Berita Lansia - Ekonom Asian Development Bank (ADB) Aiko Kikkawa dan Raymond Gaspar menjawab pertanyaan seputar peran kelompok lanjut usia (lansia) di pasar kerja Asia ternasuk Indpnesia.

2024-05-04 20:51:26

Geriatri.id - Ekonom Asian Development Bank (ADB) Aiko Kikkawa dan Raymond Gaspar menjawab pertanyaan seputar peran kelompok lanjut usia (lansia) di pasar kerja Asia ternasuk Indpnesia.

Jawaban yang disampaikan berdasarkan penelitian untuk makalah terbaru mereka. Makalah tersebut diterbitkan dalam Journal of Population Ageing.

Populasi Asia mengalami penuaan dengan cepat. Pada tahun 2050, individu berusia 65 tahun ke atas akan mencapai 18%, atau 800 juta dari total populasi di kawasan ini, naik dari hanya 8% pada 2019. 

Hal ini akan bertepatan dengan menyusutnya angkatan kerja, dengan jumlah orang berusia antara 16-64 tahun yang mencapai puncaknya pada 2045 dan kemudian mulai menurun. 

Kelompok lansia di Asia dan pemerintahnya sedang bergulat dengan permasalahan penuaan yang sehat, memebengkaknya program pensiun dan masa kerja lebih panjang.

Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi

Berikut jawaban pertanyaan yang ditujukan kepada ekonom ADB Aiko Kikkawa dan Raymond Gaspar dikutip dari blogs.adb.org:

1. Apakah lansia di Asia bekerja?

Ya, dan faktanya para lansia di Asia (di sini didefinisikan sebagai mereka yang berusia 60 tahun ke atas) bekerja hingga usia jauh lebih tua dibanding rekan mereka di negara maju. 

Selama tiga dekade terakhir, tingkat partisipasi angkatan kerja di wilayah ini yang berusia antara 60-64 tahun masih relatif tinggi, yaitu lebih dari 50%. Negara-negara maju di Eropa, Amerika Utara dan Asia baru mencapai tingkat tersebut baru-baru ini.

2. Di mana biasanya lansia di negara berkembang di Asia bekerja?


Banyak di antara mereka yang bekerja di sektor pertanian dan ritel berupah rendah. 

Di Bangladesh, 58,9% orang berusia 60–64 tahun bekerja di sektor pertanian, sedangkan di Vietnam 65,2%. 

Setelah pertanian subsisten, banyak lansia yang terus bekerja bekerja di sektor grosir dan eceran, terutama di Indonesia dan Filipina (setidaknya 15% dari individu berusia 60an). 

Selain itu, banyak dari mereka yang tetap aktif bekerja adalah pekerja informal dan wiraswasta di daerah pedesaan, seringkali tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pensiun yang memadai, sehingga membuat mereka memiliki pilihan terbatas untuk pensiun.

3. Di Asia, apakah perempuan lansia cenderung bekerja?

Jumlah perempuan lansia yang tetap aktif di pasar tenaga kerja umumnya terus meningkat. 

Di Indonesia, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan berusia 60–64 tahun meningkat menjadi 45,6% pada 2017 dari 37,1% pada 2005. 

Tren ini dapat ditelusuri dari peningkatan pendidikan dan pengalaman kerja sebelumnya yang difasilitasi penerapan kebijakan pasar tenaga kerja inklusif gender. 

Sementara itu, jumlah laki-laki lansia cukup stabil, dan kadang-kadang mengalami sedikit penurunan (misalnya, jumlah laki-laki berusia 60–64 tahun di Bangladesh menurun 4,8 poin persentase dari tahun 2006 hingga 2016). 

Sebagian disebabkan peningkatan status pendapatan yang memungkinkan mereka memilih masa pensiun dan hidup dari dana pensiun dan tabungan.

4. Dengan meningkatnya angka harapan hidup, apakah lansia akan bekerja lebih lama?


Iya dan tidak. Individu yang lebih sehat dapat bekerja lebih lama namun angka kematian lebih rendah juga mendorong orang menabung untuk masa pensiun dan keluar dari pasar kerja pada usia pensiun yang telah ditentukan. 

Harapan hidup yang lebih panjang tidak secara otomatis berarti rentang hidup sehat lebih panjang sehingga memungkinkan untuk bekerja. 

Peningkatan angka kematian secara keseluruhan di Asia lebih banyak terjadi pada kelompok anak di bawah 5 tahun dan lebih sedikit pada kelompok usia lanjut karena meningkatnya kasus penyakit tidak menular. 

Terbukti, kesehatan yang buruk, cedera, dan kecacatan menjelaskan sebagian besar ketidakhadiran sementara atau permanen dari pasar kerja bagi individu berusia 60an, yang relatif tinggi di Bangladesh (33,0%) dan Indonesia (28,6%).

5. Apa yang dapat dilakukan pemerintah untuk mendukung keinginan lansia bekerja lebih lama?

Meski menaikkan usia pensiun mungkin tidak dapat dihindari pada suatu saat, prioritasnya adalah memastikan kesempatan kerja yang luas diberikan kepada orang lansia di luar pekerjaan pertanian berupah rendah dan pekerjaan ritel yang meningkatkan informalitas. 

Langkah-langkah untuk mencegah diskriminasi usia di tempat kerja harus dipromosikan sambil meninjau kembali praktik sumber daya manusia berbasis senioritas.

Keterampilan yang ketinggalan zaman merupakan tantangan utama bagi lansia untuk tetap bekerja. 

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Dukungan komprehensif terhadap pembelajaran seumur hidup akan sangat berharga dengan memperkenalkan insentif finansial bagi pekerja dan pengusaha sambil tetap memperhatikan kebutuhan spesifik mereka yang lebih tua. 

Memperkuat layanan kesehatan dan perawatan pencegahan yang tersedia secara universal untuk mengatasi meningkatnya kejadian penyakit tidak menular di kalangan lansia. 

Mengadopsi teknologi yang meningkatkan produktivitas lansia dan menyesuaikan mereka dengan pekerjaan.

Peluang akan semakin besar jika Asia secara efektif memanfaatkan bakat dan keahlian dari populasi pekerja lanjut usia yang lebih terdidik dan lebih sehat yang terus bertambah.***

*Ilustrasi - Pertanyaan seputar masalah pekerja lansia di Asia termasuk Indonesia.(Pixabay)
 


ARTIKEL LAINNYA

Mengapa Kecepatan Berjalan Bisa Menjadi Indikator Kesehatan Lansia?

Home Care Semakin Populer, Apa Keuntungan dan Tantangannya?

Cekcok Sampai Bawa Sajam, Kenapa Bisa Terjadi pada Lansia?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026