
Geriatri.id - Tanggal 24 April diperingati sebagai Hari Sadar Bising Sedunia. Kebisingan dapat berpengaruh pada kesehatan tubuh. Paparan kebisingan yang terus berulang dapat menyebabkan stres.
Selain itu, kebisingan dapat mengganggu komunikasi, mengurangi kemampuan konsentrasi dan daya ingat, serta meningkatkan risiko kecelakaan saat berkendara.
Menurut situs resmi World Health Organization (WHO), gangguan pendengaran menjadi masalah kesehatan global semakin meningkat, terutama disebabkan polusi suara dan meningkatnya kebisingan di lingkungan sekitar.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Berikut efek negatif akibat paparan kebisingan yang terus berulang dikutip dari dinkes.ntbprov.go.id:
1. Gangguan pendengaran
Kebisingan secara terus-menerus dapat merusak sel-sel pendengaran di telinga yang berpotensi menyebabkan pendengaran mengalami kerusakan permanen.
Kebisingan dapat merusak sel-sel rambut di dalam telinga. Sel-sel rambut tersebut bertugas mentransmisikan sinyal suara ke otak.
Jika sel-sel rambut rusak, informasi suara tidak dapat diteruskan ke otak dengan baik. Ini dapat mengganggu kemampuan pendengaran.
Ada beberapa gangguan pendengaran yang dapat disebabkan kebisingan, yaitu tuli sementara, tuli permanen dan tinnitus.
2. Gangguan tidur
Kebisingan yang berlebihan dapat mengganggu tidur seseorang, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan lainnya seperti kelelahan, kurang konsentrasi, dan mudah tersinggung.
Gangguan tidur kronis dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung, dan depresi.
Selain itu, gangguan tidur dapat membuat seseorang merasa lelah dan kurang produktif di siang hari.
3. Gangguan kesehatan mental
Paparan kebisingan secara terus-menerus dan berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan mental.
Dalam beberapa kasus, kebisingan dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi.
Paparan kebisingan berkepanjangan dapat memicu reaksi stres yang mempengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka.
4. Gangguan kesehatan fisik
Kebisingan berlebihan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, sakit kepala, dan masalah jantung.
Paparan kebisingan berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan fisik seperti gangguan kardiovaskular, gangguan pendengaran, gangguan tidur dan gangguan hormonal.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Mengurangi paparan kebisingan
Agar pendengaran tetap sehat, penting untuk mengurangi paparan kebisingan yang berlebihan di lingkungan sekitar.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan yaitu:
1. Pilih lokasi hunian jauh dari sumber kebisingan atau menjauh dari wilayah jalan raya atau industri.
2. Gunakan bahan isolasi suara, seperti bata atau panel dinding suara untuk mengurangi suara yang keluar atau masuk ke rumah.
3. Gunakan peralatan pelindung pendengaran, seperti alat pelindung telinga saat bekerja di lingkungan bising atau mengendarai sepeda motor.
4. Kurangi penggunaan alat elektronik yang menghasilkan suara, seperti televisi atau stereo, terutama pada malam hari.
5. Jika mengalami masalah pendengaran, gunakan alat bantu dengar sehingga tidak perlu menaikkan volume suara yang dapat mengganggu orang lain.
6. Sedapat mungkin menggunakan mobil, truk, atau motor dilengkapi sistem isolasi suara yang baik.
7. Untuk masyarakat di daerah perkotaan, hindari terlalu sering membunyikan klakson saat berkendara.
8. Mulai mengedukasi masyarakat tentang dampak kebisingan pada kesehatan dan lingkungan serta cara untuk menguranginya.***
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri