Mengapa Negara Tetangga Indonesia Ini Disebut Zona Biru Buatan Manusia?


Berita Lansia - Zona Biru (Blue Zone) adalah sebutan untruk beberapa wilayah di dunia dengan penduduk berumur panjang dan sehat. Singapura menjadi kawasan baru yang masuk ke dalam daftar Zona Biru.

2024-04-23 22:04:52

Geriatri.id - Zona Biru (Blue Zone) adalah sebutan untruk beberapa wilayah di dunia dengan penduduk berumur panjang dan sehat. Singapura menjadi kawasan baru yang masuk ke dalam daftar Zona Biru.

Menurut pencetus istilah Zona Biru, Dan Buettner, angka harapan hidup Singapura menyesuaikan dengan kesehatan tertinggi di dunia. Singapura menjadi Zona Biru 2.0 buatan manusia. 

"Jadi, apapun yang dilakukan Singapura merupakan upaya untuk kehidupan paling lama dan sehat di bumi," ujar Buettner dikutip dari CNBC Make It, Senin 22 April 2024.

Sebelumnya, lima kawasan telah ditetapkan sebagai Zona Biru asli. Kelima kawasan itu meliputi Ikaria (Yunani), Okinawa (Jepang), Ogliastra (Sardinia/Italia), Loma Linda (California/Amerika Serikat) dan Semenanjung Nicoya (Kosta Rika).

Buettner meneliti kebiasaan warga Zona Biru yang sehat dan berumur panjang. Kebiasaan itu disebut "Power 9" atau sembilan prinsip. 

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Sembilan prinsip itu meliputi bergerak alami dalam kehidupan sehari-hari, memiliki tujuan, menjaga rutinitas untuk menghilangkan stres, berhenti makan saat 80 persen kenyang dan makan lebih banyak makanan nabati

Selanjutnya, mengonsumsi alkohol dalam jumlah sedang dan teratur, berpartisipasi dalam komunitas, menjaga orang terkasih tetap dekat dan dikelilingi orang dengan kebiasaan sehat.

Apa faktor pendorong Singapura masuk daftar Zona Biru buatan manusia?

1. Jalan Kaki

Berbeda dengan mobilitas warga di berbagai belahan dunia dengan berkendara, sebagian besar warga Singapura memilih jalan kaki. Mereka berjalan kaki karena kebutuhan, bukan untuk olahraga.

"Singapura menerapkan pajak mobil dan pajak bensin, pajak penggunaan jalan raya dan kemudian berinvestasi besar-besaran untuk walkability, bikeability, dan transportasi umum," kata Buettner.

Untuk dapat membeli mobil di Singapura harus memenuhi persyaratan yang ketat. Warga di negara itu harus mendapatkan izin kepemilikan mobil, COE, atau sertifikat terlebih dulu. Biaya untuk mendapatkan itu bisa lebih mahal dariharga mobil.  


"Kebijakan itu bukan kebetulan, tetapi melalui perencanaan yang sangat baik. Dampaknya, membuat orang berjalan dan tidak mengendarai mobil," kata Buettner.

2. Dekat dengan orang terkasih

Penelitian menunjukkan warga Zona Biru memprioritaskan orang tercinta dan menjaga mereka untuk tetap dekat.

Singapura memiliki kebijakan Proximity Housing Grant, memberikan insentif finansial kepada masyarakat yang tinggal bersama atau dekat dengan orangtua dan anak mereka.

"Dibanding menampung lansia di panti jompo seperti AS, para lansia di sana tetap terikat dengan keluarga. Banyak dari mereka yang dirawat keluarga dengan lebih baik. Ini mendukung harapan hidup orang lansia," kata Buettner.

3. Rasa memiliki

Menjadi bagian dari komunitas keagamaan berkorelasi dengan harapan hidup lebih panjang.

Menurut Pew Research Center, hampir 80 persen orang dewasa Singapura berafiliasi dengan komunitas keagamaan. 

"Hanya lima dari 263 orang berusia 100 tahun yang kami wawancarai tidak berasal dari komunitas keagamaan," ungkap Buettner.

"Penelitian menunjukkan menghadiri kebaktian empat kali sebulan menambah harapan hidup 4-14 tahun," lanjutnya.

4. Kebiasaan sehat

Singapura suksesn menjadikan makanan sehat lebih murah dan lebih mudah diakses dibanding junk food. 

Dewan Kesehatan tengah mempromosikan pilihan yang lebih sehat seperti beras merah dan biji-bijian. 

Kementerian Kesehatan juga konsen dengan bahaya merokok. 

"Singapura telah melakukan pekerjaan baik dengan tampilan bungkus rokok bergambar kanker mulut. Singapura adalah salah satu negara yang menerapkan pajak rokok," katanya.

Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi

5. Pelayanan kesehatan mudah diakses


Warga Singapura memiliki akses terhadap layanan medis berkualitas, termasuk layanan kesehatan seperti pencegahan, pengobatan, rehabilitasi, dan perawatan paliatif. 

Pemerintah Singapura berupaya menciptakan kebijakan subsidi biaya layanan kesehatan. Menurut Buettner, ini berbeda dengan layanan kesehatan di Amerika Serikat yang sangat mahal dan tidak efisien.  

6. Penegakan hukum

Singapura menerapkan hukum dengan ketat terhadap senjata dan narkoba. Pelanggar terancam hukuman penjara, cambuk atau hukuman mati.

Itulah faktor pendorong Singapura masuk daftar Zona Biru buatan manusia.***


ARTIKEL LAINNYA

AI Lebih ‘Laris' di Kalangan Perempuan Lansia di Jepang

HLUN 2026: Momentum Mewujudkan Indonesia Ramah Lansia

Pengabdian ala Oma Hedy

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026