Deteksi Dini Bagi Masyarakat Berisiko Diabetes Melitus Lewat Skrining


Berita Lansia - Kegiatan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular dilakukan di pos pembinaan terpadu (posbindu), pos pelayanan terpadu (posyandu), maupun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). 

2024-04-19 07:50:44

Geriatri.id - Setiap badan usaha wajib mencantumkan kandungan gula dalam bentuk label gizi makanan. Hal itu mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. 

Peraturan tersebut untuk memudahkan konsumen mengetahui kandungan gula dalam suatu makanan atau minuman.

Hal ini mengingat zat yang berasa manis ini merupakan salah satu faktor pemicu seseorang dapat terkena penyakit diabetes. 

Dengan membaca nilai gizi yang tercantum, masyarakat diharapkan tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Meski demikian, menurut International Diabetes Federation (IDF), organisasi payung 230 lebih perhimpunan diabetes di berbagai negara, jumlah penduduk Indonesia yang mengalami diabetes mencapai 19,5 juta jiwa pada tahun 2021.

Jumlah itu diprediksi akan menjadi 28,6 juta jiwa pada 2045. 

Baca Juga: 10 Gejala Diabetes pada Lansia yang Harus Diwaspadai

Hal ini membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerbitkan kebijakan untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus penderita diabetes di Indonesia melalui program skrining penyakit tidak menular (PTM).

“Skrining sangat penting dilakukan untuk menemukan diabetes secara dini bagi masyarakat yang berisiko menderita diabetes melitus (DM) sehingga hal itu dapat dicegah dan diberikan edukasi perubahan gaya hidup dan diharapkan dapat normal kembali,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dr. Eva Susanti, S. Kp., M. Kes.

Kegiatan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular dilakukan di pos pembinaan terpadu (posbindu), pos pelayanan terpadu (posyandu), maupun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). 

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan meliputi pengukuran indeks masa tubuh yang meliputi tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut. 

Kegiatan lainnya, pengukuran tekanan darah atau tensi darah dan tes gula darah.


Program ini, kata Eva, menyasar masyarakat usia 15 tahun ke atas, baik orang sehat maupun orang sakit atau yang memiliki faktor risiko.

“Ketika kita melakukan deteksi secara dini, maka masalahnya akan lebih mudah karena dia belum berat, kemudian kita akan melakukan upaya tata laksananya lebih baik karena dia belum berat. Jika kondisinya masih ringan saja, maka dengan diberikan intervensi masalahnya akan selesai,” kata Eva.

Dia menambahkan, dengan melakukan skrining atau deteksi dini, selain lebih mudah dalam proses pengobatannya, hal itu juga akan menekan biaya kesehatan. 

Jika seseorang sudah terdeteksi diabetes sejak awal, langkah selanjutnya menjaga agar gula darah dalam tubuhnya terkontrol sehingga dapat hidup dengan normal. 

Namun, apabila penyakitnya baru diketahui ketika sudah parah, hal itu bisa menyebabkan penderita mengalami stroke, penyakit kardivoaskular, ataupun masalah pada ginjal.

Lebih lanjut Eva mengatakan, selain program skrining yang sudah berjalan selama ini, Kemenkes juga berencana melakukan skrining prediabetes.

Program ini diharapkan dapat mencegah seseorang terkena diabetes.

“Sekarang kita mau bergerak di prediabetes, jadi sebelum sampai diabetes sudah kita tata laksana jangan sampai dia terkena diabetes. Untuk pemeriksaan prediabetes itu ada pemeriksaan gula darah setelah puasa dan dua jam setelah puasa,” kata Eva. 

“Kalau dia puasa dulu, kadar gula darah 100 sampai 126 itu sudah masuk prediabetes, jadi harus diintervensi. Kalau lebih dari 126, berarti sudah diabetes.”

Jika seseorang sudah menderita diabetes, lanjut dia, tidak dapat disembuhkan, namun masih bisa dikendalikan dengan intervensi gaya hidup, yaitu dengan membiasakan perilaku hidup sehat, melakukan kontrol rutin, dan meminum obat sesuai anjuran dokter. 

Baca Juga: Diabetes dengan Komplikasi Penyebab Kematian Tertinggi Ketiga di Indonesia

Masyarakat juga dianjurkan menerapkan slogan PATUH agar dapat terhindar dari diabetes, yaitu:

- Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter;

- Atasi penyakit dengan pengobatan yang benar dan teratur;

- Tetap diet dengan gizi seimbang;

- Upayakan aktivitas fisik dengan aman;

- Hindari rokok, alkohol dan zat karsinogenik lainnya, termasuk tidak mengkonsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan.***

Sumber: sehatnegeriku.kemkes.go.id, 10 Januari 2024.

*Ilustrasi - Pengecekan gula darah.(Pexels)

Video Lansia Online


ARTIKEL LAINNYA

Mengapa Kecepatan Berjalan Bisa Menjadi Indikator Kesehatan Lansia?

Home Care Semakin Populer, Apa Keuntungan dan Tantangannya?

Cekcok Sampai Bawa Sajam, Kenapa Bisa Terjadi pada Lansia?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026