Benarkah Konsumsi Kopi Bisa Turunkan Risiko Alzheimer?


Berita Lansia - Jumlah pengidap penyakit alzheimer dan demensia lainnya (AD) di dunia diperkirakan 152 juta orang pada tahun 2050. 

2024-04-12 21:48:15

Geriatri.id - Antara tahun 1990-2019, penyakit alzheimer meningkat di dunia, terutama di kalangan lanjut usia (lansia). Risiko perempuan terkena penyakit ini lebih tinggi, namun risiko laki-laki menunjukkan peningkatan lebih cepat. 

Jumlah pengidap penyakit alzheimer dan demensia lainnya (AD) di dunia diperkirakan 152 juta orang pada tahun 2050. 

Namun, sejak tahun 2008 terjadi sedikit penurunan angka demensia baik pada pria maupun wanita di Eropa.

Meski begitu, AD masih menjadi masalah dengan lebih dari 10 juta orang terkena dampaknya. Diperkirakan angka ini akan meningkat secara signifikan. 

Dibanding laki-laki, perempuan adalah kelompok paling berisiko terkena dampak demensia.

Baca Juga: Manfaat Yoga Bagi Lansia Perempuan Mulai dari Mengurangi Stres Hingga Cegah Alzheimer

Kopi, kafein dan risiko alzheimer

Mayoritas penelitian menunjukkan mengonsumsi kopi atau kafein dalam jumlah sedang dan teratur dikaitkan dengan penurunan risiko pengembangan AD. 

Namun, beberapa penelitian menunjukkan hasil berbeda-beda.

- Sebuah tinjauan tahun 2017 menyimpulkan konsumsi kopi dalam jumlah sedang dapat menurunkan risiko kondisi neurodegeneratif umum, termasuk AD. 

Namun, penulis menyimpulkan perbedaan metodologi dalam penelitian berarti perbandingan dan kesimpulan mungkin sulit dicapai, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.

- Meta-analisis studi prospektif tahun 2018 yang fokus pada penyakit alzheimer tidak mengungkapkan hubungan antara konsumsi kopi dengan AD. 

Risiko relatif penyakit alzheimer untuk setiap peningkatan konsumsi kopi satu cangkir per hari adalah 1,0111.

- Sebuah tinjauan tahun 2022 menunjukkan kafein mungkin bersifat neuroprotektif terhadap demensia dan kemungkinan AD. Tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan hubungan ini. 

Para penulis berpendapat kafein mungkin merupakan normalisasi kognitif dan bukan penambah kognitif. Gender dapat mempengaruhi efek neuroprotektif dari kafein.

- Tinjauan teoretis tahun 2017 menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi kopi lebih tinggi yang diprediksi secara genetis dan kemungkinan lebih tinggi terkena AD. 

Namun peran polimorfisme genetik dalam pola makan dan AD memerlukan penyelidikan lebih lanjut.


Mekanisme aksi

Tinjauan tahun 2021 menunjukkan metilxantin, seperti kafein, dianggap bertindak sebagai antagonis reseptor adenosin atau sebagai antioksidan. 

Baca Juga: Tips Merawat Lansia dengan Penyakit Alzheimer

Pada gilirannya mereka diyakini memodulasi mekanisme molekuler terkait dengan penyakit neurodegeneratif seperti akumulasi protein yang salah lipatan, stres oksidatif dan peradangan saraf.

Salah satu hipotesis menyatakan modulasi reseptor adenosin, yaitu reseptor A2A, memberikan perlindungan saraf melalui pengendalian peradangan saraf. 

Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi hipotesis ini.

Selain itu, tinjauan bioaktif dalam kopi tahun 2021 menunjukkan potensi peran senyawa kopi lainnya, termasuk trigonelin, asam klorogenat, dan asam caffeic.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan tersebut.***

Sumber: coffeeandscience.org

Ilustrasi - Alzheimer  salah satu penyakit yang menyerang kalangan lanjut usia (lansia).(Pixabay)


ARTIKEL LAINNYA

Mengapa Kecepatan Berjalan Bisa Menjadi Indikator Kesehatan Lansia?

Home Care Semakin Populer, Apa Keuntungan dan Tantangannya?

Cekcok Sampai Bawa Sajam, Kenapa Bisa Terjadi pada Lansia?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026