
Geriatri.id - Ketombe merupakan kondisi kulit abnormal yang sering terjadi dan ditandai pengelupasan dan rasa gatal pada kulit kepala. Ketombe biasanya dimulai pada usia dewasa muda hingga paruh baya. Namun, tidak berarti lanjut usia (lansia) tidak berketombe.
Setiap orang menginginkan rambut berkilau dan sehat. Namun, iklim tropis Indonesia menyebabkan cuaca panas yang sering menimbulkan masalah pada rambut dan kulit kepala.
Udara panas meningkatkan jumlah keringat sehingga mengakibatkan rambut menjadi lepek dan kotor. Kondisi ini membuat kulit kepala berketombe sehingga akar rambut menjadi lemah dan lebih mudah rontok.
Ketombe atau dandruff adalah salah satu kelainan kulit kepala ringan tanpa suatu peradangan yang disebabkan jamur Pityrosporum ovale.
Jamur lipofilik dari genus Malassezia ini merupakan flora normal kulit kepala pada lapisan atas stratum korneum dan merupakan flora normal kulit manusia yang dapat berasosiasi pada keadaan ketombe dan dermatitis seboroik.
Ketombe berupa skuama halus dan kasar yang dimulai sebagai bercak kecil, kemudian mengenai seluruh kulit kepala.
Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap ketombe, yaitu peningkatan produksi sebum pada kelenjar sebasea, faktor kerentanan individu, faktor lingkungan (suhu dan kelembapan lingkungan), stres, dan pertumbuhan jamur yang berlebihan di kulit kepala sehingga menyebabkan kepala berskuama.
Baca Juga: 5 Cara Alami Mengurangi Kerontokan Rambut pada Lansia
Kebotakan atau alopesia adalah kondisi dimana mengalami kerontokan rambut parah pada bagian tertentu, kerontokan ini akan terus berlangsung dalam waktu lama dan dapat menyebabkan kebotakan permanen.
Ada tiga hal utama yang dianggap ilmuwan sebagai pemicu utama gangguan yaitu faktor usia, ketidakstabilan hormon dan genetik dan lebih sering ditemukan pada wanita.
Sedangkan pada pria lebih disebabkan hormon Androgen dehydrotestoteron (DHT). Faktor lain penyebab kebotakan adalah reaksi alergi akibat penggunaan bahan cat rambut yang mengandung senyawa anilin.
Kaitan ketombe dan rambut rontok dikutip dari laman Kemenkes.
- Ketombe menyebabkan iritasi dan rasa gatal di kulit kepala. Orang berketombe biasanya menggaruk kulit kepala untuk mengatasi rasa gatal dan menyebabkan akar rambut menjadi tidak kuat. Ini yang kemudian membuat rambut menjadi rontok.
Selain itu bitnik putih dari ketombe dapat menutupi folikel rambut sehingga rambut tidak bisa tumbuh dengan baik dan menyebabkan rambut menjadi rontok.
- Salah satu efek samping penggunaan anti ketombe adalah kerusakan rambut yang menyebabkan rambut rontok, berubah warna dan patah-patah.
Mencuci rambut menggunakan sampo adalah salah satu cara mencegah ketombe.
Namun sampo antiketombe masih banyak mengandung senyawa seperti zink pirithione yang dapat merusak kulit dan menyebabkan rambut rontok.
Baca Juga: Tak Hanya Dialami Lansia, Kenali 9 Penyebab Kerontokan Rambut
- Zat aktif seperti senyawa belerang, selenium sulfida, zink pyrithione yang tertimbun dan terserap folikel rambut, dapat mengakibatkan kerusakan rambut (rambut rontok, berubah warna dan patah-patah).
- Ciri-ciri ketombe ditandai dengan skuama berlebih pada kulit kepala tanpa disertai tanda-tanda inflamasi, dapat disertai gatal dan atau rontok pada rambut kepala.
- Ketombe kering yang dibiarkan terus-menerus dapat merusak kulit kepala, sehingga rambut rontok serta timbul ketidaknyaman.
Pengobatan ketombe dengan menggunakan ketokonazol 2% merupakan obat golongan azol sintetik dengan spectrum luas yang menjadi standar atau bahan baku pengobatan infeksi superfisial, seperti ketombe.
Bahan anti-jamur ini tersedia dalam bentuk shampo. Ketokonazol memiliki mekanisme kerja menghambat biosintesis ergosterol yang merupakan komponen penting pembentuk membrane sel jamur.
Penunan membrane sel jamur ergosterol menyebabkan rusaknya permebialitas membran, akibatnya sel jamur kehilangan komponen intraselulernya.***
Ilustrasi - Rambut sehat bebas ketombe.(Pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri