
Geriatri.id - Hari ini, 12 November 2019 diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN). Adapun tema HKN ke-55 tahun ini adalah Generasi Sehat Indonesia Unggul.
Membicarakan generasi, tentu saja tidak hanya mencakup generasi anak-anak dan muda.
Akan tetapi, juga generasi lanjut usia tak luput dari perhatian. Perlu kita tahu, di Indonesia jumlah penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun.
Bahkan, diperkirakan hingga 2019 ini, jumlah lansia sudah mencapai angka 7 persen dari total penduduk.
Nah, jumlah tersebut diprediksikan akan terus meningkat hingga 9,9 persen atau 27 juta jiwa. Karena itulah, Indonesia dikatakan negara aging society atau berpenduduk tua. Demikian diungkapkan Ketua Perhimpunan Geriatri Medik Indonesia (PERGEMI), Prof. dr. Siti Setiati, SpPD-KGER.
Profesor gerontologi yang akrab disapa Ati ini menegaskan, para lansia di Indonesia memiliki banyak tantangan dalam kehidupannya lantaran karakteristik yang berbeda dengan kaum muda. seperti kita ketahui, kaum dewasa muda umumnya memiliki karakteristik mandiri, mampu melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik, kemampuan kognitif yang mumpuni, dan tidak atau belum memiliki penyakit atau hanya satu penyakit.
Sebaliknya, lanjut Prof. Ati, para lansia kecenderungan tak bisa lagi mandiri, bergantung pada bantuan orang lain, kurang mampu lagi melakukan kegiatan sendiri dalam kesehariannya, kemungkinan membutuhkan pengasuh atau caregiver, kemampun kognitif yang menurun, problem psikososial yang kompleks dan mengalami beberapa penyakit. Hal tersebut tentunya membutuhkan konsekuensi dan penanganan yang komprehensif.
Terkait, kesehatan para lansia, ternyata hanya 13,3 persen saja yang tergolong sehat dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal. Sementara, sejumlah 25 persen sudah renta atau tak mampu lagi melakukan kegiatan sehari-hari. Selain itu, sekitar 61,6 persen lansia mengalami penyakit tertentu namun bisa menjalankan aktivitas harian.
Nah, menurut Prof Ati, berbagai tantangan dan risiko akan dihadapi para lansia. Salah satunya adalah risiko fatal atau meninggal dunia karena mengalami penyakit seperti stroke, jantung atau diabetes.
Risiko lainnya adalah mengalami beberapa penyakit dan tak bisa ditangani secara komprehensif.
Selain itu, risiko lansia terlantar atau tak diurus dengan baik oleh keluarganya bahkan muncul risiko kekerasan terhadap lansia (elderly abuse).
Terkait penyakit, para lansia berisiko mengalami beberapa penyakit sekaligus.
Misalnya, hipertensi, disertai diabetes, demensia, stroke, pneumonia atau depresi. Jadi, lansia bisa saja menderita 5-7 problem kesehatan sekaligus.
Sebenarnya, kata Prof Ati, berbagai komplikasi akibat penyakit dapat dicegah atau dihindari. Bagaimana caranya?
Konsisten menjalankan pola atau gaya hidup sehat. Di antaranya adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang, aktif bergerak atau berolahraga, istirahat yang cukup dan mengasah otak agar tetap bekerja aktif.
Tak kalah penting adalah pemberian vaksinasi untuk mengurangi risiko mengalami penyakit tertentu. Misalnya, vaksin influenza, hepatitis, pneumonia atau herpes zooster.
Terakhir, hal yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa para lansia membutuhkan pelayanan kesehatan yang jangka panjang. Karena itu, pihak rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya perlu terus ditingkatkan.
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas layanan pihak rumah sakit adalah melakukan berbagai pelatihan bagi para dokter agar memiliki kemampuan yang baik dalam menangani lansia.
Ya, semoga para lansia di Indonesia makin mampu menjaga kesehatannya dengan baik.***
Penulis: Hilman
Foto: freepik.com
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri