
Geriatri.id - Sebagian besar orang mungkin masih asing dengan cacar Alaska atau Alaskapox virus. Seorang pria lanjut usia (lansia) meninggal dunia akibat cacar Alaska.
Alaskapox virus adalah penyebab cacar Alaska yang pertama kali ditemukan di Fairbanks, Alaska, Amerika Serikat (AS), tahun 2015.
Kematian pria lansia itu merupakan yang pertama akibat virus ini. Pria yang tinggal di Semenanjung Kenai, Alaska itu menjalani perawatan di rumah sakit pada November 2023. Dia meninggal dunia pada akhir Januari 2024.
"Ini kasus infeksi cacar Alaska pertama yang mengakibatkan rawat inap dan kematian," ujar Departemen Kesehatan Alaska, dikutip dari The Guardian, Rabu 14 Februari 2024.
Pria lansia yang meninggal tersebut dilaporkan menjalani pengobatan kanker. Sistem kekebalan tubuhnya bermasalah akibat obat-obatan antikanker yang dikonsumsinya.
Menurunnya sistem kekebalan pria lansia tersebut diduga berkontribusi pada keparahan kondisinya akibat serangan cacar Alaska.
Sejak pertama kali ditemukan pada 2015, awalnya hanya muncul enam kasus Alaskapox atau dikenal juga sebagai AKPV.
Semua pasien tinggal di wilayah Fairbanks, berjarak sekitar 483 kilometer dari Semenanjung Kenai. Kasus mereka ringan sehingga dapat pulih bahkan tanpa perawatan di rumah sakit.
Dikutip dari CNN, gejala Alaskapox ditandai dengan kemunculan satu atau lebih lesi kulit seperti bekas gigitan serangga, ruam atau kemerahan disertai gatal.
Gejala lainnya adalah pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot, serta demam.
Ahli epidemiologi dan Kepala Bagian Epidemiologi Alaska, Joe McLaughlin menyarankan segera mendatangi layanan kesehatan jika mengalami serangkaian gejala tetapi tidak menemukan penyebabnya.
"Anda harus segera menemui penyedia layanan kesehatan. Mereka dapat melakukan penilaian tambahan dan melakukan beberapa pengujian," ujarnya.
Sistem kekebalan tubuh mempengaruhi tingkat keparahan yang terserang cacar Alaska.
Jika sistem kekebalan tubuh lemah, orang berpotensi mengalami gejala Alaskapox yang lebih parah.
Pria lansia yang meninggal dunia akibat Alaskapox dilaporkan mengalami penyembuhan luka yang lambat, malnutrisi, gagal ginjal akut dan gagal napas.
Karena itu, orang dengan sistem kekebalan yang lemah perlu mendapatkan perawatan antivirus dan imunoglobulin saat terinfeksi cacar Alaska.***
Ilustrasi - Alaskapox atau cacar Alaska. (National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri