
Geriatri.id - Para peneliti mengungkapkan bahwa mengganti garam biasa dengan pengganti garam dapat secara signifikan mengurangi risiko hipertensi pada orang lanjut usia (lansia) tanpa meningkatkan risiko terjadi tekanan darah rendah.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi, merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular dan kematian, yang mempengaruhi lebih dari 1,4 miliar orang dewasa di seluruh dunia dan mengakibatkan jutaan kematian setiap tahunnya.
Dikutip dari openaccessgovernment.org, Direktur Eksekutif Institut Penelitian Klinis Universitas Peking di Beijing, Tiongkok, Yangfeng Wu mengatakan penelitian ini menekankan dampak pilihan makanan terhadap kesehatan jantung dan pentingnya pilihan makanan rendah sodium.
Dr. Wu menyoroti prevalensi konsumsi garam berlebih dalam makanan olahan dan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat akan alternatif lebih sehat.
Penelitian yang diberi nama DECIDE-Salt ini fokus pada evaluasi strategi pengurangan natrium di kalangan lansia yang tinggal di fasilitas perawatan di Tiongkok.
Lebih dari 600 partisipan berusia 55 tahun ke atas dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menggunakan pengganti garam dan kelompok lainnya melanjutkan dengan garam biasa.
Tidak ada partisipan yang menggunakan obat antihipertensi pada awal penelitian.
Setelah dua tahun masa tindak lanjut, peserta yang menggunakan pengganti garam mengalami hipertensi 40% lebih rendah dibanding mereka yang menggunakan garam biasa.
Temuan ini menekankan efektivitas pengganti garam dalam mengendalikan tekanan darah dan menyarankan solusi yang menjanjikan untuk pencegahan dan pengelolaan hipertensi.
Pengganti garam dan tekanan darah rendah
Studi ini tidak menemukan bukti hipotensi atau tekanan darah rendah di antara peserta yang menggunakan pengganti garam, sehingga mengatasi kekhawatiran umum pada orang dewasa lebih tua.
Dr. Wu menekankan pentingnya hasil ini dalam melindungi kesehatan jantung dan mengurangi risiko kardiovaskular sambil tetap menikmati makanan beraroma.
Meski temuannya menjanjikan, penelitian ini mengakui keterbatasan tertentu, termasuk sifat post-hoc dan hilangnya kunjungan tindak lanjut pada beberapa peserta.
Namun, analisis sensitivitas ganda mendukung kekokohan hasil, memberikan keyakinan terhadap efektivitas pengganti garam.
Rik Olde Engberink dari Amsterdam University Medical Center menyoroti potensi pengganti garam sebagai strategi alternatif untuk mengurangi asupan garam secara global.
Olde Engberink menyarankan penerapan awal pengganti garam oleh industri makanan untuk meningkatkan rasio natrium-kalium dalam makanan olahan, sehingga semakin meningkatkan dampaknya terhadap hasil tekanan darah.
Dengan menganjurkan penggunaan pengganti garam secara luas, para profesional kesehatan berusaha mempengaruhi individu agar membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan melindungi kesehatan jantung mereka.***
*Ilustrasi - Pengganti garam mengurangi risiko hipertensi pada lansia.(Pixabay)
Video Lansia
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri