Lebih Banyak Menyerang Lansia, Wabah Penyakit Langka Landa Negara Ini


Berita Lansia - Wabah penyakit streptokokus grup A, Streptococcal Toxic Shock Syndrome (STSS) melanda Jepang dengan infeksinya yang telah mencapai rekor baru.

2024-03-16 21:38:49

Geriatri.id - Wabah penyakit streptokokus grup A, Streptococcal Toxic Shock Syndrome (STSS) melanda Jepang dengan infeksinya yang telah mencapai rekor baru.

Penyakit streptokokus sangat menular dan mematikan. Institut Penyakit Menular Nasional Jepang (NIID) mencatat tahun lalu ditemukan 941 kasus STSS. 

Sementara, pada dua bulan pertama tahun 2024, terdapat 378 kasus dengan infeksi teridentifikasi di semua prefektur.

NIID menemukan penyakit ini lebih banyak menyerang orang lanjut usia (lansia). Namun angka kematiannya justru lebih besar pada kelompok di bawah 50 tahun.

Surat kabar Asahi Shimbun melaporkan, 65 orang berusia di bawah 50 tahun didiagnosis STSS pada periode Juli 2023-Desember 2023. Dari jumlah itu, 21 orang atau sepertiganya meninggal.

"Masih banyak faktor belum diketahui terkait mekanisme di balik bentuk streptokokus fulminan dan kami belum pada tahap untuk memberikan penjelasannya," demikian pernyataan NIID dikutip The Guardian menulis, Jumat 15 Maret 2024.

Bakteri streptococcus pyogenes menjadi penyebab sebagian besar kasus STSS.  

Penyakit streptokokus atau lebih dikenal sebagai radang A dapat menyebabkan sakit tenggorokan, terutama pada anak-anak. Banyak juga pengidap penyakit ini yang tanpa menyadarinya dan tidak menjadi sakit.

Dalam beberapa kasus, bakteri streptococcus pyogenes dapat memicu penyakit serius, komplikasi kesehatan, dan kematian, terutama pada orang di atas 30 tahun.

Sementara, gejala penyakit ini pada lansia seperti pilek. Dalam kasus yang jarang terjadi, gejalanya dapat memburuk termasuk radang tenggorokan, radang amandel, pneumonia, dan meningitis. 

Dalam kasus paling parah, penyakit ini dapat menyebabkan gagal organ dan nekrosis.


Ken Kikuchi adalah profesor penyakit menular di Universitas Kedokteran Wanita Tokyo.

Dia sangat prihatin dengan lonjakan jumlah pasien infeksi streptokokus invasif parah pada tahun ini. 

Dia meyakini reklasifikasi Covid-19 adalah faktor penting di balik peningkatan infeksi streptokokus pyogenes. 

Setelah pandemi, lanjut dia, banyak orang mengabaikan langkah-langkah dasar untuk mencegah infeksi, seperti disinfeksi tangan secara rutin.

"Status imunologi masyarakat setelah pulih dari Covid-19 mungkin mengubah kerentanan terhadap mikroorganisme tertentu. Kita perlu memperjelas siklus infeksi penyakit streptokokus pyogenes invasif yang parah dan segera mengendalikannya," tandasnya.

Seperti Covid-19, infeksi streptokokus menyebar melalui tetesan dan kontak fisik. Bakteri ini juga dapat menginfeksi melalui luka di tangan dan kaki.

Pengobatan infeksi strep A dengan antibiotik, namun pasien dengan kondisi parah memerlukan kombinasi antibiotik dan obat lain, serta perhatian medis intensif.

Menteri Kesehatan Keizo Takemi awal tahun ini merekomendasikan tindakan pencegahan seperti menjaga kebersihan jari dan tangan, serta menerapkan prosedur saat batuk.***

Ilustrasi - Lansia Jepang.(Pexels)


ARTIKEL LAINNYA

Renta, Kenapa Bisa Terjadi?

Tahun Baru Islam 1448 H: Memaknai Hijrah di Era “Indonesia Menua”

Yoga Adalah Pilihan Olahraga Cerdas bagi Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026