
Geriatri.id - Populasi lansia secara global diprediksi terus mengalami peningkatan. Jumlah penduduk dunia dengan usia 80 tahun akan meningkat kurang lebih empat kali lipat antara tahun 2000-2050.
Di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terdapat pertumbuhan 450.000 jiwa. Dengan kondisi tersebut, diprediksi jumlah penduduk lansia pada tahun 2025 akan mencapai 34,22 juta jiwa.
Pertumbuhan populasi lansia tersebut tentunya diiringi dengan peningkatan kebutuhan terkait dengan pelayanan kesehatan.
Hal ini karena pada lansia, secara fisiologis akan mengalami perubahn faktor biologis, diantaranya penurunan fungsi indra, pencernaan, motorik, dan fungsi kognitif.
Di kalangan lansia penurunan fungsi kognitif merupakan penyebab terbesar terjadinya ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas normal sehari-hari, dan merupakan alasan tersering yang menyebabkan terjadinya ketergantungan terhadap orang lain untuk perawatan diri.
Penurunan fungsi kognitif pada lansia dapat meliputi berbagai aspek yaitu orientasi, registrasi, atensi dan kalkulasi, memori dan kecepatan berpikir.
Beberapa penelitian terdahulu mengungkapkan fungsi kognitif lansia dapat dioptimalkan melalui berbagai cara, seperti latihan senam otak, latihan peningkatan fungsi memori, latihan kecepatan berpikir, fungsi eksekutif, atensi dan permaninan game.
Sama seperti tubuh, menjaga otak tetap aktif adalah penting di semua tahap kehidupan. Permainan otak dan teka-teki berfungsi sebagai latihan mental yang mengurangi risiko penyakit Alzheimer dan penurunan kognitif.
Latihan otak memberikan cara sederhana untuk meningkatkan daya ingat dan keterampilan memecahkan masalah.
Ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangan dalam memilih jenis permainan untuk melatih otak lansia yaitu:
1. Format
Format permainan otak terdapat pilihan berbeda, dari permainan papan klasik hingga teka-teki kata dan bahkan permainan video online yang dapat memberikan peluang untuk interaksi sosial.
Format permainan yang dimaksud dapat berupa permainan di ponsel atau tablet, komputer atau buku.
Lansia dapat memilih jenis permainan pelatihan otak yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Tingkat kesulitan
Penting bagi orang di sekitar lansia untuk menemukan permainan yang menantang tetapi tidak terlalu membuat frustrasi.
Jika mencari permainan otak untuk orang tercinta didiagnosis penyakit Alzheimer misalnya, pilih latihan otak dan permainan yang tidak mustahil untuk diselesaikan pada tingkat kognitif mereka saat ini.
Mulailah perlahan dengan beberapa teka-teki pemula dan secara bertahap maju ke teka-teki lebih sulit untuk tugas pemecahan masalah lebih menantang.
3. Biaya bulanan
Beberapa aplikasi dan program desktop memerlukan biaya bulanan untuk bermain.
Mereka biasanya menyediakan fitur lebih mendalam seperti pelacakan, program pelatihan yang dipersonalisasi, dan dukungan.
Jenis program ini bukan untuk semua orang, meskipun cukup efektif.
4. Jenis permainan
Pilih game yang disukai orang tersayang untuk dimainkan. Jika mereka benar-benar membenci Sudoku, bantu mereka dan jangan membeli teka-teki Sudoku.
Ada banyak jenis permainan otak yang bisa dipilih. Jadi tidak ada alasan untuk memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak disukai.
Pada saat yang sama, penting untuk memvariasikan jenis permainan pelatihan otak.
Jika mereka mencari lebih banyak interaksi sosial, misalnya, cari game pelatihan otak yang dapat dimainkan dengan orang lain – baik online atau secara langsung.***
Sumber: Rizky Fajar Bahtiar, Amd. Kep. - RS Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang
Ilustrasi - Memilih jenis permainan untuk melatih otak lansia.(Pixabay)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri