Risiko Kesehatan Akibat Diabetes dan Sarkopenia pada Lansia


Berita Lansia - Penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Korea mengeksplorasi dampak kesehatan gabungan dari diabetes dan sarkopenia pada orang lanjut usia (lansia). 

2024-03-05 19:54:59

Geriatri.id - Penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Korea mengeksplorasi dampak kesehatan gabungan dari diabetes dan sarkopenia pada orang lanjut usia (lansia). 

Para peneliti mengungkap risiko kesehatan terkait dengan terjadinya diabetes dan sarkopenia pada orang lansia yang berhubungan dengan kematian secara keseluruhan dan kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Diabetes mellitus dan sarkopenia menimbulkan tantangan besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di kalangan lansia. 

Kondisi-kondisi ini memiliki mekanisme patofisiologis yang sama dan terkait secara dua arah. Masing-masing berkontribusi terhadap peningkatan risiko terhadap kondisi lainnya. 

Penelitian sebelumnya menunjukkan diabetes dan sarkopenia secara individual terkait komplikasi kesehatan serius, termasuk kondisi kardiovaskular yang dapat mengakibatkan kematian. 

Namun, penelitian mengenai dampak kesehatan gabungan dari diabetes dan sarkopenia masih terbatas, khususnya pada populasi rentan seperti lansia.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, tim peneliti melakukan penelitian longitudinal untuk menilai dampak gabungan diabetes dan sarkopenia terhadap semua penyebab dan kematian kardiovaskular di masyarakat. 

Tim peneliti dipimpin Profesor Eyun Song dan Profesor Kyung Mook Choi dari Korea University College of Medicine, Korea Selatan.  

Studi ini tersedia online pada 21 Agustus 2023 dan diterbitkan dalam Jurnal Metabolisme Volume 148 Edisi 155678 pada 1 November 2023.

Studi ini menganalisis data dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional Korea (2008–2011) serta data kematian dari Catatan Kematian Nasional Korea. 

Temuan penelitian ini mengungkapkan kejadian diabetes dan sarkopenia hampir dua kali lipat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian karena semua penyebab. 

Khususnya, kejadian kematian kardiovaskular meningkat secara signifikan pada kelompok yang menunjukkan diabetes atau sarcopenia. Namun tidak pada kelompok yang menunjukkan kedua kondisi tersebut.

Sekitar 22%–24% penduduk Korea Selatan menderita diabetes dan sarcopenia, dan sebagian besar dari mereka menghadapi risiko kematian dua kali lipat.

Menerapkan strategi perawatan kesehatan preventif seperti mencegah hilangnya otot pada pasien diabetes berpotensi mengurangi kejadian bersamaan dan risiko kematian tinggi terkait dengan kedua kondisi tersebut. 

Individu dalam kategori risiko tinggi disarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup, olahraga teratur, dan pola makan seimbang untuk mengurangi kemungkinan kehilangan otot. 

Faktanya, pasien lansia dengan diabetes disarankan untuk menjalani pemeriksaan sarkopenia agar dapat segera menerima perawatan guna mengatasi ancaman gabungan dari kondisi ini.

Terdapat kebutuhan untuk mengembangkan pedoman layanan kesehatan baru untuk pasien diabetes dan sarkopenia, mengingat tantangan dan risiko kesehatan mereka yang unik. 

“Di masa depan, pasien diabetes mungkin wajib menerima pemeriksaan kesehatan yang memantau massa otot, kekuatan otot, dan kinerja fisik mereka selama kunjungan klinis dan bagi pasien dengan sarcopenia untuk memantau darah mereka. kadar glukosa dan melakukan perubahan gaya hidup untuk mempertahankan status glikemiknya,” ujar Dr. Song dilansir eurekalert.org. 

Dari hasil penelitian mereka, Dr. Choi mengatakan ketika diabetes dan sarcopenia ‘hidup berdampingan’, terdapat peningkatan tambahan pada semua penyebab kematian akibat penyakit kardiovaskular. 

"Ini menggarisbawahi pentingnya skrining yang cermat dan strategi pencegahan pada populasi berisiko tinggi. Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme rumit yang menghubungkan diabetes dan sarcopenia dan mengembangkan pengobatan yang ditargetkan untuk meningkatkan hasil kesehatan,” tandasnya.*** 

Ilustrasi - Glukometer atau alat cek gula darah.(piqsels) 


ARTIKEL LAINNYA

Cekcok Sampai Bawa Sajam, Kenapa Bisa Terjadi pada Lansia?

Radio vs Gadget: Mana yang Lebih Disukai Lansia?

Humor dan Kehangatan: “Obat” Sederhana dalam Merawat Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026