
Geriatri.id - Kehidupan yang panjang dan sehat merupakan keberkahan yang tiada tara, dan semakin banyak orang yang mampu mencapai usia lanjut.
Selama tahun 2020 dan 2021, dunia mengalami penurunan rata-rata umur harapan hidup, yang tercermin dari jumlah korban yang tinggi akibat pandemi.
Meskipun demikian, rata-rata umur hidup manusia telah meningkat sekitar 10 tahun sejak tahun 1950.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal GeroScience memberikan wawasan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan umur panjang.
Baca juga: 10 Gejala Penyakit Jantung Pada Lansia yang Kerap Diabaikan
Studi tersebut mengidentifikasi tiga kesamaan utama yang dimiliki oleh para centenarian atau mereka yang mencapai usia seratus tahun.
Studi tersebut menyoroti tiga biomarker yang lebih umum ditemukan pada tes darah orang yang mencapai usia 100 tahun dibandingkan dengan mereka yang tidak.
Penelitian yang dilakukan oleh Karin Modig, seorang profesor di Karolinska Institutet Swedia dan salah satu penulis studi tersebut, mengungkapkan kesamaan kriteria orang yang mencapai usaia 100 tahun.
"Mereka yang mencapai usia seratus tahun cenderung memiliki kadar glukosa, kreatinin, dan asam urat yang lebih rendah sejak usia 60-an dan seterusnya."
Penelitian ini melibatkan data dari 44.000 orang lanjut usia di Swedia yang menjalani tes kesehatan antara usia 64-99 tahun.
Kadar glukosa, kreatinin, dan asam urat yang tinggi dapat menjadi indikator masalah kesehatan yang serius.
Sebagai contoh, kadar kreatinin yang tinggi dapat mengindikasikan masalah ginjal atau kardiovaskular, sedangkan kadar asam urat yang tinggi dapat berhubungan dengan peradangan.
Kadar glukosa darah yang tinggi juga dapat menjadi penyebab diabetes.
Ketiga faktor tersebut adalah penanda disfungsi metabolisme dan jaringan yang terkait dengan proses penuaan.
Menurut Jose R Rojas-Solano, seorang dokter di The Regenerative Medicine Institute (RMI) yang fokus pada penelitian umur panjang dan penuaan sel menyatakan bahwa ketiga faktor tersebut bukanlah penyebab, namun akibat dari kerusakan sel.
Selain tiga biomarker utama, penelitian ini juga menunjukkan korelasi antara kadar kolesterol, zat besi, dan umur panjang.
Meskipun demikian, ketiga biomarker utama dianggap lebih signifikan secara statistik dibandingkan dengan yang lain.
Baca juga: Tips Puasa Nyaman dan Lancar Bagi Lansia di Bulan Ramadan
Gaya hidup juga memainkan peran penting dalam menentukan umur panjang.
Para ahli dari National Institutes of Health (NIH) menekankan bahwa gaya hidup yang sehat dapat membantu mencapai umur panjang.
Thomas Perls, seorang pakar penuaan dan direktur New England Centenarian Study di Boston University School of Medicine, menyatakan bahwa gen hanya merupakan bagian kecil dari persamaan.
Dia menekankan bahwa akal sehat dan kebiasaan sehat dapat memberikan dampak besar pada umur panjang dan kualitas hidup.
Gen hanya menyumbang kurang dari sepertiga peluang Anda untuk mencapai usia 85 tahun, sementara selebihnya tergantung pada kebiasaan hidup yang sehat.
Penelitian ini tidak memberikan rekomendasi langsung, namun intervensi gaya hidup yang sehat kemungkinan besar dapat memengaruhi positif pada biomarker yang dianggap signifikan.
Karin Modig menyarankan untuk memeriksakan kesehatan ginjal, hati, serta kadar glukosa dan asam urat secara teratur seiring bertambahnya usia.
Rojas Solano juga menekankan bahwa gaya hidup sehat bersama dengan obat dan suplemen yang tepat dapat membantu meningkatkan dan mempertahankan fungsi seluler dan organ, yang pada gilirannya dapat memperbaiki pengukuran biomarker tersebut.***
Ilustrasi lansia berumur panjang hingga mencapai 100 tahun. (Pixabay)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri