Panti Jompo di Singapura Gunakan Terapi Musik untuk Bantu Lansia Penderita Demensia


Berita lansia - Studi psikologis menunjukkan bahwa musik memiliki dampak positif pada penderita demensia dalam hal kognisi, emosi, dan kesehatan secara keseluruhan.

2024-03-01 15:34:44

Geriatri.id - Di Singapura, sebuah panti jompo yang dikenal sebagai Apex Harmony Lodge memberikan pengalaman unik kepada sekelompok lansia yang menderita demensia. Mereka menikmati sesi "silent disco" setiap hari Minggu sore.

Dalam sesi tersebut, para lansia menari mengikuti irama lagu-lagu hits dari era 1940-an hingga 1980-an sambil menggunakan headphone untuk mendengarkan musik.

Studi psikologis menunjukkan bahwa musik memiliki dampak positif pada penderita demensia dalam hal kognisi, emosi, dan kesehatan secara keseluruhan.

Sesi silent disco di Apex Harmony Lodge menampilkan beragam lagu dalam bahasa Inggris, Melayu, dan dialek Mandarin.

Panti jompo ini memiliki keahlian khusus dalam merawat orang-orang dengan demensia, seperti yang dilaporkan oleh VOA Jakarta.

Salah satu penghuni, Christine Chong, yang berusia 54 tahun yang menunjukkan gejala awal demensia, mengungkapkan bahwa meskipun dia tidak pandai menari, dia tetap berpartisipasi karena merasa gembira.

Penghuni lainnya, Goh Kian Ho, 63, dengan antusias menyanyi, menari, dan bertepuk tangan.

Baca juga: Kenali Gejala Caregiver Burnout dan Cara Mengatasinya

Kementerian Kesehatan Singapura memperkirakan bahwa pada tahun 2030, jumlah penderita demensia di Singapura akan meningkat menjadi 152 ribu dari 86 ribu pada tahun ini.

Dalam menghadapi tantangan ini, terapi musik telah terbukti membantu penderita demensia, terutama Alzheimer.

Grace Wong, seorang psikolog di Apex Harmony Lodge, menjelaskan bahwa musik lama yang diputar selama sesi silent disco dapat membangkitkan kenangan dan emosi pada penghuni, menciptakan perasaan yang akrab dan nyaman bagi mereka.


Inisiatif silent disco ini diadopsi dari kegiatan serupa di Inggris dan Australia, kemudian disesuaikan dengan selera musik lokal oleh Johnson Soh, seorang warga Singapura dan mantan eksekutif musik.

Soh mendirikan perusahaan yang menawarkan program musik untuk lansia setelah ayahnya didiagnosis mengalami demensia.

Lebih dari 10 institusi di Singapura telah mengadopsi program ini sejak dimulainya pada tahun 2019.

Prakarsa ini dikenal sebagai "Return to the Tea Dance" dengan tujuan untuk menghidupkan kembali kenangan bahagia dari acara menari setiap Minggu sore yang populer di kalangan generasi muda Singapura pada tahun 1960-an.

Baca juga: Waspada Nyeri Punggung pada Lansia, Kenali Penyebabnya

Johnson Soh menyatakan bahwa setiap orang memiliki soundtrack dalam hidup mereka, dan musik selalu memiliki potensi untuk memberikan dampak pada suatu saat dalam hidup kita.

Melalui terapi musik seperti silent disco, Apex Harmony Lodge memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi para penghuni panti yang menderita demensia. Ini membantu memicu kenangan, mengatasi kebosanan, dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.***

Ilustrasi: Lansia penderita demensia di panti jompo Singapura jalani terapi lewat musik. (Pixabay)

Video Lansia Online

 

lansia,lansia singapura,panti jompo ,merawat lansia,berita lansia,lansia sehat,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Peran Keluarga dalam Mendampingi Lansia

Mengenal Perubahan Tubuh di Usia Emas Saat Berpuasa

Habis Lebaran, Yuk Gerak Lagi

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026