Ada Apa di Balik Masalah Penuaan di Negara Tertua di Eropa?


Berita Lansia - Data terbaru dari Eurostat Italia bersama Portugal memiliki persentase penduduk berusia di atas 65 tahun tertinggi, yaitu sebesar 24%. 

2024-02-27 09:02:18

Geriatri.id - Italia merupakan negara tertua di Uni Eropa, dengan rata-rata usia penduduk di atas 48 tahun. Data terbaru dari Eurostat menyebutkan Italia bersama Portugal memiliki persentase penduduk berusia di atas 65 tahun tertinggi, yaitu sebesar 24%. 

Bagaimana Italia bisa menjadi begitu tua?

Jawabnya, karena menurunnya angka kelahiran di negara itu. 

Profesor Statistik Demografi dan Sosial di Universita Cattolica di Milano,

Alessandro Rosina mengatakan kepada Euronews, selama 40 tahun terakhir rata-rata jumlah anak per keluarga di Italia di bawah 1,5. 

“Data terkini di bawah 1,24 per perempuan,” ujarnya.

Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi

Menurut dia, diperlukan angka 2 kelahiran per wanita untuk menjaga kestabilan populasi.

Penurunan tingkat kesuburan ini, menurut Tomassini, dimulai pada tahun 1980-an, meskipun kadang-kadang berfluktuasi.

“Arus migrasi hanya sedikit memperlambat proses penuaan ini,” katanya. 

“Jika tidak, dampaknya akan jauh lebih besar.”

Meski ada periode di mana keseimbangan negatif ini diimbangi tingkat migrasi positif yang lebih tinggi tetapi hal ini tidak lagi terjadi.

“Akibatnya, penurunan populasi di Italia menjadi lebih nyata,” kata Tomassini. 

Giovanni Lamura dari Institut Kesehatan dan Sains Penuaan Nasional Italia kepada Euronews menilai fakta bahwa orang lanjut usia (lansia) di Italia bisa hidup lebih lama sebenarnya merupakan hal positif.

“Masyarakat dapat hidup lebih lama berkat kebijakan-kebijakan yang bermanfaat, dana pensiun yang besar, dan sistem layanan kesehatan gratis yang memungkinkan mereka yang tidak mampu sekalipun untuk menerima layanan kesehatan,” katanya. 

Tapi ada sisi lain, lanjut dia, negaranya belum melakukan investasi terhadap generasi muda sebanyak generasi sebelumnya.

“Italia harus berbuat lebih banyak untuk membantu keluarga-keluarga muda secara finansial, namun Italia memiliki utang PDB yang sangat besar (140,6% dari seluruh PDB per September 2023) yang berada di bawah pengawasan internasional, sehingga Italia tidak dapat terjerumus lebih jauh ke dalam utang dengan bantuan dana baru yang besar - untuk kebijakan keluarga,” katanya.


Dikatakan Rosina, seperti wrga Eropa lainnya, masyarakat Italia  memimpikan memiliki anak dan keluarga. Namun kebijakan yang ada kurang memadai untuk mendukung realisasi rencana dan impian tersebut.

“Italia merupakan salah satu negara dengan rata-rata usia orang tua tertinggi untuk memiliki anak pertama mereka (di Eropa), terutama karena generasi muda kesulitan memasuki dunia kerja dan mendapatkan pekerjaan tetap, serta kesulitan mendapatkan rumah sendiri,” jelasnya. 

Mereka yang memiliki anak kemudian menghadapi tantangan untuk mencoba menyeimbangkan kehidupan keluarga dan kehidupan kerja di negara yang kekurangan dukungan ekonomi dan infrastruktur memadai bagi orang tua muda dan anak-anak mereka.

“Di Italia, kelahiran seorang anak kemungkinan besar mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi orang tua, serta komplikasi kehidupan mereka dari sudut pandang organisasi, dibandingkan di negara lain,” kata Rosina.

“Kebijakan negara yang terbatas yang ditujukan untuk mendukung keluarga muda memberikan pesan negatif bahwa memiliki keluarga tidak memberikan nilai bagi masyarakat dan tidak layak untuk didukung.”

Bagaimana masa depan Italia?

Profesor Statistik Demografi dan Sosial di Universitas Molise, Cecilia Tomassini, memperkirakan penuaan penduduk Italia dan penurunan angka kelahiran akan terus berlanjut di masa depan.

“Kecuali jika terjadi intervensi yang signifikan, seperti krisis kematian atau ledakan bayi baru lahir,” katanya. 

“Dalam jangka pendek, migrasi mungkin berperan sebagai variabel penting yang dapat mempengaruhi dinamika populasi, meskipun secara politik hal ini dapat menjadi hal yang licin.”

Pemerintah sayap kanan pimpinan Giorgia Meloni telah menjadikan peningkatan angka kelahiran sebagai salah satu prioritas, namun sejauh ini gagal mencapai hasil yang nyata.

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Kelompok sayap kanan ini telah mengurangi separuh PPN atas popok dan susu bayi, namun perawatan anak masih mahal dan sulit terjangkau bagi banyak orang.

Ketakutan terbesar bagi negara ini adalah pertumbuhan ekonomi yang lemah akan terus menurun, sehingga pada akhirnya tidak mampu membiayai sistem pensiun dan kesejahteraannya.

“Jika tingkat kesuburan tetap sama, Italia hanya akan memiliki 320.000 bayi baru lahir dalam 25 tahun, dengan struktur demografi yang semakin tidak seimbang,” kata Rosina.

“Ini bukan masa depan distopia, tapi skenaro paling mungkin terjadi berdasarkan dinamika saat ini. Jika Italia tidak mengikuti contoh kebijakan terbaik di Eropa dalam bidang ini, pembangunan dan keberlanjutan sosial negara tersebut akan terancam dalam beberapa dekade mendatang,” pungkasnya.*** 

Sumber: euronews

Ilustrasi - suasana di sebuah wilayah di Italia.(Pixabay)

Video Lansia Online


ARTIKEL LAINNYA

Renta, Kenapa Bisa Terjadi?

Tahun Baru Islam 1448 H: Memaknai Hijrah di Era “Indonesia Menua”

Yoga Adalah Pilihan Olahraga Cerdas bagi Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026