Risiko Disabilitas Akibat Sindrom Metabolik Pada Lansia


Berita Lansia - Sindrom metabolik pada lansia bisa membawa risiko pada terjadinya disabilitas

2019-10-28 22:13:17

Oleh: dr. IGP Suka Aryana, SpPD, KGer, FINASIM

Geriatri.id - Sindrom metabolik pada lansia bisa membawa risiko pada terjadinya disabilitas. Sindrom metabolik bisa menyebabkan terjadinya risiko resistensi insulin, kegemukan, penumpukan lemak (kolesterol) dan tekanan darah tinggi. Secara klinis, berdasarkan standar WHO, seseorang dapat dikatakan menderita sindrom metabolik jika memenuhi kriteria berikut:

  • Resistensi insulin: resistensi terhadap impaired fasting glucose (i-IFG) atau terganggunya kadar glukosa puasa, impaired glucose tolerance (i-IGT) atau kondisi gula darah meningkat melebihi angka normal, diabetes melitus tipe 2 atau penurunan sensitivitas insulin.
  • Berat badan melebihi normal dengan ukuran pada pria rasio pinggang ke pinggul lebih besar dari 0,90; pada wanita rasio pinggang ke pinggul lebih besar dari 0,83, atau indeks masa tubuh di atas 30kg/m2.
  • Lemak, Trigliserida (lemak dalam darah) lebih dari 150mg/dL, dan/atau HDL-C (kolesterol HDL) kurang dari 35 mg/dL pada pria; atau kurang dari 39 pada wanita.
  •  Tekanan darah di atas 140/90 mm Hg.
  •  Glukosa, terjadi gangguan pada gula darah puasa, peningkatan kadar gula darah atau diabetes melitus tipe 2.


Sindrom metabolis bisa menyebabkan asupan protein menjadi berkurang akibat asam amino yang seharusnya diserap oleh sel dengan bantuan insulin, menjadi terganggu akibat adanya resistensi insulin. Dampaknya adalah terjadinya pengurangan atau penurunan massa otot. Penurunan massa otot akan membuat tubuh menjadi lemah dan kemampuan melakukan aktivitas menjadi terganggu.

Jika kondisi ini dibiarkan, bukan hanya otot saja yang terpengaruh, tetapi seluruh organ lain juga terganggu sehingga terjadi frailty atau kerentaan. Akibatnya timbul jatuh, disabilitas, ketergantungan, bahkan bisa terjadi kematian.

Untuk menghindari terjadinya sindrom metabolis, modifikasi gaya hidup adalah terapi yang paling penting. Kurangi berat badan 5-10% dari berat badan sebelumnya selama empat hingga enam bulan, lakukan diet buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan dan bijian yang tinggi. 

Konsumsi produk susu dan daging sedang hingga rendah. Pertimbangkan makanan dengan indeks glikemik rendah, asupan protein 10%-35% dari total asupan kalori dan 25%-35% kalori sebagai lemak total. 

Lakukan latihan fisik untuk meningkatkan kondisi fisik, namun bagi lansia dengan kondisi rentan, harus dilakukan dengan panduan tertentu. Aktivitas fisik yang dianjurkan adalah aerobik seperti renang, jalan kaki atau berlari dan latihan ketahanan.***

lansia, merawat lansia,geriatri,sindrom metabolik

ARTIKEL LAINNYA

Kehidupan Lansia yang Menginspirasi Lewat 5 Drama Cina

Tetap Aktif, Tetap Sehat: Kunci Menjaga Jantung di Usia Lanjut

Cara Memilih Tensimeter yang Cocok di Rumah

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026