
Oleh: dr. IGP Suka Aryana, SpPD, KGer, FINASIM
Geriatri.id - Sindrom metabolik pada lansia bisa membawa risiko pada terjadinya disabilitas. Sindrom metabolik bisa menyebabkan terjadinya risiko resistensi insulin, kegemukan, penumpukan lemak (kolesterol) dan tekanan darah tinggi. Secara klinis, berdasarkan standar WHO, seseorang dapat dikatakan menderita sindrom metabolik jika memenuhi kriteria berikut:
Sindrom metabolis bisa menyebabkan asupan protein menjadi berkurang akibat asam amino yang seharusnya diserap oleh sel dengan bantuan insulin, menjadi terganggu akibat adanya resistensi insulin. Dampaknya adalah terjadinya pengurangan atau penurunan massa otot. Penurunan massa otot akan membuat tubuh menjadi lemah dan kemampuan melakukan aktivitas menjadi terganggu.
Jika kondisi ini dibiarkan, bukan hanya otot saja yang terpengaruh, tetapi seluruh organ lain juga terganggu sehingga terjadi frailty atau kerentaan. Akibatnya timbul jatuh, disabilitas, ketergantungan, bahkan bisa terjadi kematian.
Untuk menghindari terjadinya sindrom metabolis, modifikasi gaya hidup adalah terapi yang paling penting. Kurangi berat badan 5-10% dari berat badan sebelumnya selama empat hingga enam bulan, lakukan diet buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan dan bijian yang tinggi.
Konsumsi produk susu dan daging sedang hingga rendah. Pertimbangkan makanan dengan indeks glikemik rendah, asupan protein 10%-35% dari total asupan kalori dan 25%-35% kalori sebagai lemak total.
Lakukan latihan fisik untuk meningkatkan kondisi fisik, namun bagi lansia dengan kondisi rentan, harus dilakukan dengan panduan tertentu. Aktivitas fisik yang dianjurkan adalah aerobik seperti renang, jalan kaki atau berlari dan latihan ketahanan.***
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri