Benarkah Diet dengan Pembatasan Kalori Bisa Perlambat Penuaan? 


Berita Lansia - Para peneliti masih belum mengetahui secara pasti mengapa mengurangi kalori dapat memperlambat penuaan. Namun terdapat bukti bahwa hal utu memicu perubahan pada tingkat sel.

2024-01-20 10:57:05

Geriatri.id - Para peneliti masih belum mengetahui secara pasti mengapa mengurangi kalori dapat memperlambat penuaan. Namun terdapat bukti bahwa hal utu memicu perubahan pada tingkat sel.

Sebuah penelitian menunjukkan mengonsumsi lebih sedikit kalori mungkin memperlambat laju penuaan dan meningkatkan umur panjang pada orang dewasa yang sehat. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Nature Aging.

Penelitian yang didanai National Institute on Aging, bagian dari National Institutes of Health, adalah uji coba terkontrol secara acak pertama yang mengamati dampak jangka panjang dari pembatasan kalori.

Menurut penulis senior studi, Dan Belsky, hal ini menambah banyak bukti bahwa diet dengan pembatasan kalori dapat memberikan manfaat kesehatan yang besar, termasuk menunda penuaan.

Belsky merupakan asisten profesor epidemiologi di Mailman School of Public Health di Columbia University, New York.

Baca juga: Tetap Segar di Masa Tua dengan Menjaga Asupan Cairan pada Lansia

“Hal utama yang dapat diambil dari penelitian kami adalah laju penuaan biologis dapat diperlambat dan perlambatan tersebut dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup dan perilaku,” ujar Belsky dikutip dari nbcnews.com.

Dalam uji klinis fase 2 selama dua tahun, 220 orang dewasa diacak untuk mengurangi asupan kalori 25% – 500 kalori untuk orang yang umumnya mengonsumsi 2.000 kalori sehari – atau tidak melakukan perubahan pada pola makan mereka. 

Para peserta memiliki indeks massa tubuh, atau BMI, antara 22-27.

Orang-orang dalam kelompok yang dibatasi kalori diberi tiga kali makanan siap saji setiap hari selama bulan pertama untuk membiasakan diri dengan ukuran porsi. 

Mereka juga diberikan konseling perilaku tentang diet selama 24 minggu pertama. 

Peserta yang tidak termasuk dalam kelompok pembatasan kalori tidak diberi tahu berapa banyak mereka harus makan dan tidak mendapatkan konseling apa pun.


Dr Evan Hadley, direktur divisi geriatri dan gerontologi klinis di National Institute of Aging, mengatakan kebanyakan orang dalam kelompok pembatasan kalori hanya mengurangi asupan kalori harian sekitar 12%.

“Tapi 12% itu sudah cukup untuk membuat perubahan signifikan,” ujarnya.

Untuk mengukur laju penuaan, para peneliti menggunakan algoritma bagaimana biomarker DNA tertentu dalam darah berubah seiring waktu.

Algoritma ini didasarkan pada data yang diperoleh sebelumnya dari sekitar 1.000 orang.

Partisipan itu diikuti selama 20 tahun untuk melihat seberapa cepat fungsi organ – termasuk jantung, hati, ginjal dan paru-paru – menurun seiring bertambahnya usia. 

Algoritme itu bertindak sebagai semacam “speedometer”, yang membantu mengukur seberapa cepat partisipan dalam penelitian ini mengalami penuaan.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengurangi kalori memperlambat laju penuaan sebesar 2% hingga 3%, dibandingkan dengan orang yang menjalani pola makan normal.

Hal ini berarti, kata Belsky, penurunan kemungkinan kematian dini sebesar 10%-15%.

“Kita semua memiliki kekuatan untuk mengubah pola penuaan,” katanya.

Belum diketahui apakah perlambatan penuaan akan bertahan setelah dua tahun. Peserta dalam penelitian ini tidak ditindaklanjuti setelah intervensi dua tahun. 


Sebuah studi terpisah, yang juga didanai badan tersebut, berencana melihat efek dari diet pembatasan kalori setelah 10 tahun.

Studi baru ini memperkuat temuan dari penelitian sebelumnya bahwa pembatasan kalori dapat memberikan manfaat kesehatan, termasuk hidup lebih lama dan lebih sehat.

Para peneliti masih belum mengetahui secara pasti mengapa pengurangan kalori sepertinya memperlambat proses penuaan, meski ada bukti pembatasan kalori mendorong perubahan pada tingkat sel.

“Hal ini mungkin menyebabkan semacam mekanisme respon kelangsungan hidup dalam tubuh yang mempunyai efek membersihkan sampah intraseluler,” kata Belsky. 

Baca juga: Benarkah Kebijaksanaan Seseorang Terkait dengan Penuaan?

“Ini adalah sinyal bagi tubuh yang mengatakan, 'Hei, perhatikan. Ada tekanan sumber daya di lingkungan. Kita perlu memastikan kita menggunakan semua sumber daya yang tersedia secara efisien.'”

Pankaj Kapahi, peneliti di Buck Institute for Research on Aging, mengatakan selain pembatasan kalori, olahraga dan makan makanan seimbang juga merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam 

“Anda memerlukan berbagai intervensi untuk melihat dampak kesehatan secara penuh,” kata Kapahi yang tidak terlibat dalam penelitian.

Kapahi menambahkan temuan penelitian ini tidak berarti orang harus kelaparan, karena itu dapat menyebabkan kekurangan gizi dan kesehatan mental yang buruk.

“Pembatasan kalori harus dilakukan pada tingkat marginal,” katanya.

Valter Longo, ahli biokimia dan direktur Longevity Institute di University of Southern California, mengatakan membatasi kalori dalam jangka waktu lama bisa berbahaya.


Penelitian pada hewan, menunjukkan pembatasan kalori jangka panjang dikaitkan dengan risiko berkurangnya kekuatan otot, metabolisme lebih lambat, dan gangguan sistem kekebalan tubuh.

“Hal ini mungkin menyebabkan efek anti-penuaan yang kuat, namun mungkin juga menimbulkan kelemahan pada tingkat tertentu atau masalah lain yang mungkin tidak begitu bermanfaat,” kata Longo yang tidak terlibat dalam penelitian.

Hadley memperingatkan agar tidak menafsirkan hasil penelitian secara berlebihan.

Dia mengingatkan pembatasan kalori mungkin tidak berlaku untuk semua orang, termasuk mereka yang memiliki berbagai kondisi tertentu. 

Dia menyarankan untuk berbicara dengan dokter sebelum menjalani diet pembatasan kalori.

“Ini tidak berarti ini adalah kunci universal penuaan sehingga akan memperlambat segalanya,” pungkasnya.***

Ilustrasi - Lansia menggendong cucu.(Pixabay)

Video Lansia Online

 

lansia ,lansia sehat,lansia bahagia,merawat lansia,lansia online,berita lansia,geriatri

ARTIKEL LAINNYA

Apa yang Harus Dilaksanakan Sebelum Caregiver Memulai Tugasnya

Renta Itu Apa? Ketika “Sudah Tua” Bukan Lagi Penjelasan yang Cukup

Singapura Putar Otak Wujudkan Negara Ramah Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026