
Geriatri.id - Perkembangan teknologi digital mempermudah aktivitas kehidupan manusia tetapi juga turut mendorong maraknya penipuan di era digital. Salah satu kelompok yang rentan menjadi korban penipuan adalah lanjut usia (lansia).
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat sepanjang Agustus 2018 - 16 Februari 2023 ada 1.730 konten penipuan online.
Total jumlah kerugian para korban fantastis mencapai Rp18 triliun.
Sedikitnya terdapat lima jenis penipuan yang marak yaitu berkedok hadiah (36,9%), mengirim tautan atau link (33,8%), penipuan jual beli di platform (29,4%), melalui situs web atau aplikasi palsu (27,4%) dan penipuan berkedok krisis keluarga (26,5%).
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Bagaimana cara meminimalisir agar tidak menjadi korban penipuan online pada lansia? Digital Strategy Expert, Tuhu Nugraha Dewanto memberikan sejumlah tips keamanan digital termasuk untuk lansia atau pendampingnya.
Tips keamanan digital itu adalah menggunakan kata sandi yang kuat, tidak memberikan atau mengumbar informasi pribadi, mewaspadai email dan pesan mencurigakan, memeriksa sumber dan menggunakan verifikasi dua langkah.
Selanjutnya update perangkat lunak, menggunakan anti virus, mengedukasi diri sendiri, berhati-hati dengan tawaran menggiurkan dan membicarakan hal meragukan dengan orang terpercaya.
"Idealnya membuat password berbeda untuk akun berbeda dan menggunakan dua langkah verifikasi," ujar Tuhu di Youtube Geriatri TV ditulis Minggu, 14 Januari 2024.
Tuhu menyebutkan beberapa contoh modus penipuan seperti telepon dari orang tidak dikenal. Biasanya penelepon akan meminta calon korban untuk menyebutkan nomor atau kode tertentu.
Modus penipuan lainnya, penipu mengirimkan undangan berupa file dalam bentuk APK atau PDF ke calon korbannya.
Tuhu mengingatkan untuk tidak membuka kiriman file mencurigakan. Karena mungkin saja itu malware yang digunakan untuk meretas data calon korban.
"Kalau filenya APK udah gak usah dibuka, langsung diblok aja nomornya, walaupun kadang-kadang nomor (pengirimnya) orang yang kita kenal karena bisa jadi nomornya sudah di-hijacked," sarannya.
Terkait penggunaan QRIS dalam transksi, Tuhu memberikan tips untuk meminimalisir risiko. Caranya dengan membuka dua rekening. Artinya selain QRIS, juga ada satu rekening lain.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
"Saya sarankan punya rekening pakai QRIS, satu lagi pakai ATM misalnya yang dalam jumlah gede ada disitu. Jadi ditransfer kesitu (QRIS) secukupnya aja untuk memitigasi risiko," pungkasnya.***
Ilustrasi - Tips untuk lansia agar terhindar dari penipuan di era digital.(Pixabay)
Video Lansia Online
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri