
Geriatri.id - Mikroplastik bisa disebut si kecil cabe rawit. Meski tak kasat mata namun dampaknya mengancam kesehatan manusia dari berbagai kelompok usia.
Mungkin tak pernah terbayangkan, limbah plastik yang dibuang sembarangan dapat tertelan manusia saat mengonsumsi ikan atau hewan lain yang hidup di perairan.
Apa itu mikroplastik?
Mikroplastik adalah potongan plastik yang sangat kecil dan dapat mencemari lingkungan. Meski ada berbagai pendapat mengenai ukurannya, mikroplastik didefinisikan memiliki diameter kurang dari 5 mm.
Terdapat dua jenis mikroplastik mikro primer dan mikro sekunder.
Mikro primer diproduksi langsung untuk produk tertentu yang digunakan manusia seperti sabun, deterjen, kosmetik, dan pakaian.
Sementara mikro sekunder berasal dari penguraian sampah plastik di lautan.
Kedua jenis mikroplastik ini dapat bertahan di lingkungan dalam waktu lama.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Mikroplastik dapat ditelan makhluk hidup sangat kecil seperti bakteri, amoeba dan plankton yang hidup di perairan hingga akhirnya dimakan pemangsanya seperti ikan atau hewan air lainnya sehingga akan mengalami penimbunan di dalam tubuh hewan pemangsa.
Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia, salah satunya melalui makanan. Misalnya mengonsumsi ikan atau hewan air yang tercemar limbah plastik, penggunaan garam saat pengawetan ikan dan penggunaan wadah makanan dari plastik.
Hasil penelitian Eka Chlara Budiarti dari Ecological Observation and Wetlands Conservation menemukan mikroplastik dapat memasuki tubuh manusia melalui beberapa cara seperti pernapasan, pencernaan dan paparan terhadap benda plastik yang sudah mengalami pelapukan.
Proses penguraian limbah plastik
Mikroplastik merupakan material plastik berukuran lebih kecil dari 5 milimeter hingga 1 mikron.
Tipenya dibagi menjadi empat. Tipe pertama merupakan butiran berbetuk bulat halus. Tipe kedua fragmen yang merupakan pecahan dari plastik makro.
Tipe ketiga yaitu tipe film yang sangat tipis bahkan hampir transparan biasanya berasal dari plastik pembungkus.
Tipe keempat berbentuk serat yang biasanya berasal dari senar pancingan dan serat pakaian.
Sumber mikroplastik yang banyak ditemukan di perairan berasal dari buangan kantong plastik baik berukuran besar maupun kecil, bungkus nasi atau sterefoam, kemasan makanan siap saji dan botol minuman plastik.
Limbah plastik itu mengalami proses penguraian lingkungan, termasuk dari sinar matahari. Proses ini membuat plastik menjadi rapuh dan pecah.
Meski tidak terurai sepenuhnya, materi ini akan berubah menjadi potongan-potongan kecil yang disebut mikroplastik.
Beberapa jenis mikroplastik yang umum mengkontaminasi makanan antara lain
Bisphenol-A (BPA)
Bahan kimia untuk menghasilkan plastik polikarbonat yang kuat, seperti pada wadah makanan dan produk kebersihan.
Ftalat (phthalate)
Bahan kimia untuk menghasilkan plastik yang fleksibel, transparan, dan tahan lama seperti pada wadah makan.
Dioksin
Bahan kimia yang merupakan produk sampingan herbisida dan pemutih kertas yang mencemari lingkungan.
Polietilen dan polipropilen
Bahan kimia untuk kemasan plastik makanan, seperti polyethylene terephthalate (PET), high density polyethylene (HDPE), low density polyethylene (LDPE), dan polypropylene (PP).
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Dampak mikroplastik bagi kesehatan
Eka Chlara Budiarti mengingatkan mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat terendap di saluran pernapasan, saluran pencernaan dan organ lain.
Endapan mikroplastik dalam tubuh merupakan endapan benda asing yang tidak dapat dicerna atau diserap tubuh. Ini dapat menimbulkan iritasi.
Bila dibiarkan terlalu lama akan terjadi peradangan yang dapat memicu timbulnya tumor bahkan kanker.
Memang sulit untuk sepenuhnya terhindar dari paparan mikroplastik, namun setidaknya masih ada cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparannya.
- Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik karena plastik akan terurai dan dapat larut ke dalam makanan.
- Utamakan menggunakan wadah makanan non plastik saat menaruh makanan atau minuman.
- Hindari minum minuman menggunakan botol plastik atau kemasan plastik.
Cegah plastik mencemari lingkungan
Saat ini, memang belum ada penelitian terkait cara menanggulangi sampah mikroplastik. Namun bisa dimulai dengan mengurangi penggunaan sumber dari mikroplastik, yaitu plastik dalam keseharian.***
Sumber: ayosehat.kemkes.go.id
Ilustrasi: Mikroplastik.(plasticchange.org)
Video Lansia Online
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri