
Geriatri.id - Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan terus menerus, dan berkesinambungan.
Proses penuaan mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia pada tubuh yang mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan.
Penuaan seringkali diiringi dengan munculnya berbagai gangguan kesehatan mulai dari gangguan metabolisme hingga penurunan daya tahan tubuh.
Penurunan kondisi fisik pada lansia seperti kehilangan gigi, indera pengecap dan penciuman menurun, tidak mudah merasa lapar, mudah diare, sembelit dan kembung sangat mempengaruhi asupan makan atau daya terima terhadap makanan.
Salah satu cara agar tetap sehat saat lansia adalah dengan mengatur pola makan.
Deteksi dini dan pemberian zat gizi merupakan hal yang penting dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah gizi pada lansia.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Status gizi dapat diukur indeks massa tubuh (IMT). IMT didapatkan dari berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.
Kategori, IMT < 18>, IMT 18,5 – 15 (normal), IMT 26 – 29 (kegemukan) dan IMT > 29 (obesitas).
Nutrisi yang baik pada lansia dapat mencegah malnutrisi, mendukung fungsi fisik, mengurangi risiko penyakit kronik, mendukung kesehatan mental serta mencegah disabilitas.
Untuk mendapatkan nutrisi yang baik, lansia harus mengkonsumsi makanan seimbang.
Makanan seimbang bagi lansia
· Kurangi asupan lemak dan garam.
· Protein tidak dikurangi dan tidak ditambah.
· Kalsium ekstra sangat penting, khususnya untuk perempuan postmenopause, diet kaya kalsium dipadukan dengan suplementasi vitamin D dan minum susu secara teratur.
· Vitamin D tidak perlu ditambah.
· Hindari makanan yang digoreng, sereal, tepung, dan krim cokelat manis.
· Memperbanyak konsumsi serat dari diet untuk mengatasi berbagai gangguan yang berkaitan dengan penuaan seperti konstipasi, diabetes, dan penyakit jantung yaitu buah-buahan seperti pepaya.
· Pilih ragam makanan seperti produk susu, puding, telur rebus, sayuran (yang telah dikukus), salad yang telah dipotong kecil-kecil, buah lembut seperti pisang dan jeruk.
· Pilih makanan yang berwarna, menarik, dan lezat serta sajikan dengan cara menyenangkan yang bisa membangkitkan selera.
· Kurangi asupan karbohidrat, khususnya glukosa/ gula.
· Mengonsumsi berbagai jenis makanan sesuai dengan pedoman diet sehat dan seimbang.
· Meningkatkan frekuensi makanan dalam sehari dengan kudapan (selingan) di antara waktu makan utama (3 x makan utama 3 x makan selingan, porsi kecil tapi sering).
· Menghindari perut kosong di malam hari (> 12 jam) dengan memundurkan jam makan malam serta mengawalkan sarapan pagi dan atau memberikan kudapan.
· Memberikan makanan dengan nilai kalori tinggi dan atau protein tinggi.
· Mendesain menu sesuai dengan keinginan/preferensi pasien dan memodifikasi tekstur makanan menurut kemampuan mengunyah dan menelan.
· Memberikan suasana yang menyenangkan saat makan.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Perhitungan Kebutuhan Gizi
1. Kebutuhan energi (kalori)
· BB aktual digunakan pada pasien dengan IMT kurang dan normal.
· Kebutuhan energi pasien dengan IMT kurang dapat berubah sesuai dengan perubahan berat badan aktual yang didapatkan saat monev.
· BB ideal digunakan pada pasien dengan IMT lebih atau obese.
· Kebutuhan energi lansia sehat dimulai dari 25 -30 kkal/kg/hari
· Kebutuhan energi pasien lasia dengan kondisi stress metabolik 30 -35 kkll/kg/hari
2. Kebutuhan Protein, asupan protein untk lansia disarankan lebih tinggi dibandingkan dewasa muda.
PROT-AGE merekomendasikan: 1 – 1,2 gram protein/kg. BB/ hari untuk lansia sehat. Pasien lansia dengan risiko malnutsrisi 1, 2 – 1, 5 gram/kg. BB/hari, Pasien dengan diagnosa malnutrisi dan infeksi parah: 2 gram/kg. BB/hari.
Kebutuhan ini tidak berlaku untuk lansia dengan gangguan ginjal atau pada lansia yang harsus membatasi konsumsi protein.
3. Kebutuhan Lemak
Jenis Lemak Total Lemak As Lemak Jenuh (SFA) As. Lemak Trans (TFA) As. Lemak Tidak Jenuh Ganda (PUFA) As. Lemak Tidak Jenuh Tunggal (MUFA)
Total lemak – SFA – PUFA – TFA < 300>
4. Kolesterol Kebutuhan 20 -35% dari total kalori
5. Kebutuhan Cairan
Kebutuhan cairan harian lansia dihitung berdasarkan berat badan: 25-30 ml/kg. BB Faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan: Faktor Demam Berkeringat Hiperventilasi Hipertiroid
Peningkatan Kebutuhan Cairan 12, 5% untuk setiap kenaikan suhu 10 C di atas normal 10 – 25%, 10 – 60%, 25 – 60%.***
Ilustrasi - Lansia (Diskominfo Jabar)
Sumber: Kemenkes
Video Lansia Online:
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri