In Memoriam Bu Bas, Pejuang Lansia di Komunitas


Bu Bas, begitu dia biasa disapa, adalah istri seorang Ketua RW yang juga merupakan penggerak pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK)

2019-09-17 08:33:30

Oleh: dr. Sri Sunarti, SpPD-KGer, Divisi Geriatri, FKUB-RSUD dr Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur

Posyandu di Jalan Adi Mulyo Kepanjen Malang Jumat pagi itu aktif seperti biasanya. Ibu-ibu kader posyandu dengan seragam kaos berwarna oranye hampir selesai menyiapkan meja, kursi, timbangan, dan telur rebus buat balita. Tak lupa mereka juga menyiapkan penganan pisang untuk para lansia karena posyandu tersebut juga melayani pembinaan kesehatan bagi para lansia.

Saya sebagai dokter di Divisi Geriatri RSUD Dr. Saiful Anwar, dan juga bekerja di laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, bersama beberapa kolega, hari itu, datang ke posyandu untuk melakukan penelitian. Rombongan kami terdiri dari dokter anggota tim peneliti, dua perawat komunitas dan seorang ahli gizi komunitas. 

Kedatangan kami adalah dalam rangka menjajaki timbulnya masalah sindroma kerapuhan di masyarakat yang dikaitkan dengan turunnya kualitas hidup pada lansia. Disamping itu, kami mencari permasalahan riil lansia dalam mempertahankan kesehatannya untuk kami kemas dalam bentuk intervensi sosial berupa sekolah lansia yang akan kami dirikan di Malang. 

Kegiatan kami hari itu adalah untuk mengambil data terkait gizi lansia di komunitas, dan juga house hold collecting data atau mengumpulkan data dari rumah ke rumah. Di posyandu, kami disambut ramah para ibu kader posyandu dan tentu saja mereka terbuka pada kami untuk melakukan wawancara dan pengambilan data yang dibutuhkan.

Datang ke Posyandu di Jalan Adimulyo seakan membuka kembali memori saya akan saat-saat bertumbuh besar hingga menjadi seperti sekarang ini. Saat berkeliling melihat rumah warga sekitar, saya pun menapaktilasi tempat-tempat di mana saya bermain dulu, saat kecil. 

Saya datang kembali ke sana setelah lebih dari tiga puluh tahun untuk melakukan penelitian. Tetapi situasi di Adi Mulyo tidak banyak berubah, masyarakatnya tetap ramah, bersahabat dan selalu terbuka menerima kami. Orang barat bilang itu social capital dan social wisdom, kita bilang warisan leluhur yang adi luhung di Indonesia yang ramah tamah-gemah ripah. 

Salah satu kader posyandu lansia adalah Ibu Basuki, sahabat almarhumah ibu saya. Bu Bas, begitu dia biasa disapa, adalah istri seorang Ketua RW yang juga merupakan penggerak pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK) di wilayah itu.

Bu Bas dan Ibu saya aktif di Pokja 4 PKK waktu itu, kebetulan almarhum Ibu saya adalah perawat dan suami Bu Bas bekerja di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Jadi pas untuk membidangi kesehatan dan pengaturan jarak kelahiran pada Ibu-ibu di masyarakat.

Sosok Bu Bas, setelah sekian puluh tahun kemudian, juga tidak banyak berubah, tetap ramah dan menganggap saya seperti anak sendiri. Meski telah lanjut usia, Bu Bas, tetap merupakan tokoh penggerak kaum ibu yang gigih memperjuangkan kesejahteraan kaum ibu, termasuk para lansia seperti dirinya. 

Bu Bas adalah orang yang juga ikut membidani kelahiran pos pembinaan terpadu (posbindu) bagi para lansia yang dikelola bersama dengan para ibu kader posyandu. Kepedulian Bu Bas pada kesehatan dan kesejahteraan lansia membantu membuka izin bagi berjalannya penelitian kami. Dengan keterlibatan beliau, maka kaum ibu pun mau terbuka untuk membantu kami termasuk mengantar kami ke rumah-rumah warga.

Keterlibatan aktif Bu Bas dan memori dimana ibu saya masih sehat dan beraktifitas seperti Ibu-ibu sekarang sangat menginspirasi saya dan tim. Luar biasa semangat dan keikhlasan para pejuang-pejuang itu, tanpa pamrih berkorban waktu, tenaga dan kadang-kadang biaya untuk sekadar  menyediakan kudapan sehat bagi balita dan lansia. 

Semua memori manis itu seolah terhenti ketika di hari Ahad pagi, sebuah kejutan menghampiri saya. Saya mendengar Bu Bas dipanggil Allah, hanya dua malam perawatan di rumah sakit, hampir tanpa keluhan sebelumnya. Beliau pergi meninggalkan teladan bagi kami untuk terus berkecimpung membantu upaya peningkatan kualitas hidup dan kesehatan para lansia. 

Bu Bas memberi teladan, menjadi lansia bukan berarti berhenti untuk terus memberikan sumbangsih bagi masyarakat. Lansia merupakan aset bangsa yang punya hak hidup sehat, aktif dan kontributif sepanjang sisa usia yang dikaruniakan-Nya. Lansia punya hak dan kewajiban untuk tampil menjadi pejuang tuk meningkatkan kesejahteraan, kesehatan serta kualitas hidup sesamanya, meski mengidap penyakit.

Atas jasa bu Bas,kami bisa dengan lancar mengumpulkan data sosial masyarakat yang hingga hari ini masih terus kami panen satu demi satu, data dari para lansia di wilayah Jalan Adi Mulyo. Bu Bas membuka pintu buat kami untuk bisa menyusun berbagai informasi terkait kesehatan para lansia.

Dari data tersebut kami bisa mengkaji pola makan, aktifitas fisik di dalam rumah dan lingkungan sekitar yang masih dapat dilakukan, dan parameter sosial lainnya. Dengan begitu bisa diketahui bagaimana praktik baik para lansia dalam mempertahankan kualitas hidupnya.

Amal Bu Bas kepada kami adalah amal jariyah. Hadiahnya telah dijanjikan Allah berupa surga. Hadiah terindah bagi pejuang kesehatan masyarakat, khususnya para lansia. Sugeng Tindak, Bu Bas, Allah sangat sayang Ibu. 

Berita Terkait:

Lansia Abdikan Hidupnya Kampanyekan Daur Ulang

Tips Angelina Jolie Menyongsong Masa Tua

Nenek 90 Tahun Raih Gelar Masters of Aging

rawat lansia,merawat lansia,geriatri,lansia sehat,pejuang lansia,dr sri,inspiratif

ARTIKEL LAINNYA

Kehidupan Lansia yang Menginspirasi Lewat 5 Drama Cina

Tetap Aktif, Tetap Sehat: Kunci Menjaga Jantung di Usia Lanjut

Cara Memilih Tensimeter yang Cocok di Rumah

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026