
Oleh: dr. Czeresna Heriawan Soejono, Sp.PD., K.Ger., M.Epid, FACP, FINASIM
Geriatri.id - Menyiapkan layanan geriatri bagi rumah sakit, saat ini memang semakin penting. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, dalam 20 tahun ke depan, jumlah orang berusia lanjut di Indonesia akan mencapai 39 juta jiwa.
Karena itu, sangat penting untuk menyediakan pelayanan kesehatan untuk merawat warga berusia lanjut yang sudah berbeda dibandingkan dengan mengurus orang dewasa muda atau anak-anak.
Secara umum, ada tiga unsur yang perlu diperhatikan dalam pelayanan rumah sakit khusus geriatri.
Pertama, sumber daya manusia. Kedua, ada alur pelayanan. Ketiga, sarana dan prasarana.
Untuk SDM, yang terpenting adalah sumber daya yang mengerti cara merawat lansia.
Pada orang usia lanjut, ketika sakit, misalnya infeksi paru-paru, dia bukan hanya merasakan gejala terkait penyakitnya seperti sesak nafas, batuk, tetapi juga gejalan fisik lain seperti menjadi lemah, mengompol, tidak mampu berjalan sehingga terpaksa tinggal di tempat tidur.
Itu baru gambaran sederhana terkait penanganan kesehatan pada lansia.
Karena itu sangat penting bagi SDM yang merawat lansia untuk mempelajari sesuatu yang memang berbeda, tidak sama pengelolaannya.
Beban SDM untuk merawat bisa dua hingga tiga kali lipat untuk merawat orang lanjut usia.
Berita Lansia:
LANSIA ONLINE, Kelas Kesehatan dari Rumah
Bila Lansia Sakit, Begini Cara Tepat Merawatnya
3 Kunci Sukses Agar Lansia Sehat, Apa Saja?
Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia Tanpa Kerentaan
Sementara untuk proses pelayanan, yang terpenting dilakukan sesuai dengan bagaimana seharusnya.
Dari sisi sarana dan prasarana, harus mampu menunjang fase penyembuhan dan pemulihan pasien yang memerlukan strategi khusus yang berbeda dengan pasien dewasa.
Pada fase ketika mengobati atau fase akut, seringkali apa yang terjadi pada pasien geriatri dalam perjalanan penyakitnya terjadi hal yang di luar dugaan.
Misalnya pasien dirawat karena infeksi paru, dalam perjalan perawatan, sudah diberikan infus, antibiotik, makanan, pada perawatan misalnya hari keempat, tiba-tiba pasien mengamuk atau tiba-tiba tidur terus selama 24 jam.
Hal ini akan sangat membingungkan bagi yang merawat.
Jadi perlu sarana dan prasarana misalnya tata letak tempat tidur dan sebagainya.
Kemudian perlu pelatihan bagi perawat, dokter yang bisa menjamin walaupun terjadi hal-hal yang tidak terduga, bisa tetap terkelola dengan kaidah yang semestinya.
Kemudian, pada fase pemulihan, pasien lanjut usia memerlukan fase pemulihan yang panjang.
Yang dibutuhkan rumah sakit bukan hanya instalasai gawat darurat dan tempat rawat inap saja, tetapi juga perlu fasilitas klinik asuhan siang (day care), dimana pasien geriatri itu seharian diterapi di sana, dikelola sehingga dengan demikian pemulihan bisa lebih cepat ketimbang dia hanya di rumah saja berbaring sehingga pemulihan justru menjadi lama.
Pada fase pemulihan, pasien lansia juga perlu proses pengaktifan tubuh dan jiwa yang terstruktur dan sistematis.
Polikliniknya pun perlu disesuaikan. Pada yang sederhana saja, untuk pintu misalnya, perlu pintu masuk yang bisa mengakomodir kursi roda.
Dari sisi kejiwaan, pada fase pemulihan, pasien lansia juga membutuhkan perawatan psikologis seperti memenuhi kebutuhan duduk mengobrol dengan teman sebaya.
Fasilitas semacam ini perlu disediakan pihak rumah sakit, dimana pasien lansia bisa datang untuk bisa bersosialisasi, untuk bisa menjalin hubungan dengan teman sebaya.
Pasien mungkin pada fase pemulihan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tetapi dengan fasilitas sosialisasi ini, pasien bisa datang ke rumah sakit, khusus untuk bersosialisasi untuk bisa tetap aktif.
Pemulihan secara psikologis ini penting, dan kita sering kali hanya memperhatikan faktor fisik, tetapi tidak memperhatikan faktor psikologis atau kejiwaan yang sering banyak mewarnai penyakit pada lansia.
Faktor psikologis jika bis dikelola dengan baik justru bisa mempercepat proses pemulihan.***
Video Lansia:
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri