
Penulis: Husna Sabila
Geriatri.id - Komunikasi adalah kebutuhan dasar setiap manusia -- bagaimanapun kondisinya. Hilangnya kesempatan untuk berkomunikasi secara efektif pada lansia yang kehilangan kemampuan wicara mungkin akan membuat mereka maupun keluarga serta pendampingnya menjadi lebih mudah merasa frustasi.
Kehilangan kemampuan wicara pada lansia adalah hal yang mungkin terjadi sebab beberapa kondisi penyakit yang mereka alami seperti stroke, alzheimer, parkinson, maupun penyakit lain yang berhubungan dengan sistem saraf dan otak.
Namun perlu digarisbawahi bahwa meskipun kehilangan kemampuan wicara mereka, lansia tetap membutuhkan komunikasi dengan orang lain.
Di saat bersamaan, keluarga atau pendamping perlu mengetahui cara berkomunikasi dengan mereka.
Perlu diingat bahwa mulut bukanlah satu-satunya alat komunikasi yang dianugerahkan tuhan kepada manusia.
Telinga dan ‘sentuhan’ juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi. Selain itu, telinga merupakan ‘alat komunikasi’ yang paling terakhir mengalami kegagalan jika lansia menderita sakit kronis.
Beberapa hal yang dapat dilakukan keluarga maupun caregiver yang mendampingi lansia dengan keterbatasan, ataupun kemampuan wicara yang hilang, untuk dapat tetap terhubung dan berkomunikasi dengan lansia yaitu sebagai berikut:
Memaksimalkan kemampuan mendengar lansia
Kemampuan mendengar lansia cenderung bertahan lebih lama bahkan ketika mereka menderita penyakit kronis. Oleh karena itu, lansia tetap bisa mendengarkan Anda berbicara dengan mereka.
Untuk membangun komunikasi yang hangat dengan lansia, Anda dapat mulai menceritakan hal-hal sederhana yang terjadi hari itu, ataupun apa yang terjadi pada keluarga baru-baru ini.
Meskipun terlihat diam tanpa suara, seorang lansia mungkin akan memahami cerita kita, lebih dari yang kita bayangkan.
Dengan menceritakan dan mengajak mereka bicara, kita bisa membantu mengusir perasaan kesepian atau terasing dari lansia.
Memaksimalkan komunikasi sentuhan
Selain bercerita, keluarga dan pendamping juga dapat menggunakan terapi sentuhan untuk memulai pembicaraan dengan lansia.
Sentuhlah lansia di lokasi-lokasi yang mereka merasa nyaman—tidak di lokasi yang merupakan privasi mereka, dan pastikan tidak menggunakan kekuatan dan kekerasan saat melakukan hal tersebut.
Anda dapat menanyakan pendapat mereka sambil menyentuh bahu mereka, atau melakukan hal menyenangkan seperti perhatian kecil dengan mengoleskan krim pelembab pada lansia—biasanya lansia perempuan akan menyukai perhatian seperti ini.
Namun perlu diingat, tidak semua lansia menyukai sentuhan, dan keluarga serta caregiver harus menghargai perasaan tidak nyaman yang mereka rasakan tersebut.
Memperhatikan gerak tubuh
Lalu bagaimana kita mengetahui respons lansia atas sentuhan dan ucapan yang kita sampaikan pada mereka? Jawabannya ialah dengan memperhatikan gerak tubuh mereka.
Caregiver dan keluarga haruslah lebih ‘peka’ terhadap perubahan yang ditunjukkan lansia, mulai dari perubahan gerak tubuh, sorot mata, dan bahasa tubuh yang mereka gunakan sebagai respon sdari upaya komunikasi kita terhadap mereka.
Dengan memahami ‘kode’ bahasa tubuh yang mereka sampaikan, lansia akan merasa terhubung dan meringankan kemungkinan frustasi baik pada lansia ataupun keluarga akibat komunikasi yang tidak tersampaikan dengan baik.
===
Video Lansia
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri