Oleh: dr. Arya Govinda Roosheroe, SpPD-KGer
geriatri.id - Data BPS memprediksi, jumlah penduduk lansia tahun 2020 akan meningkat menjadi 27,08 juta, dan di tahun 2025 akan meningkat lagi mencapai 33,69 juta. Tahun 2030 jumlahnya akan meningkat lagi menjadi 40,95 juta dan tahun 2035 jumlahnya akan menjadi 48,19 juta. Suka tidak suka, mau tidak mau, ke depannya, maka sarana atau fasilitas kesehatan mulai dari tingkat pertama hingga ketiga akan berhadapan dengan pasien geriatri atau pasien lansia yang sudah berusia 60 tahun ke atas.
Karena itu, penting bagi para dokter umum, dokter spesialis maupun tenaga kesehatan lainnya, untuk memiliki pengetahuan pengetahuan dasar terkait dengan bagaimana melakukan langkah-langkah penatalaksanaan secara menyeluruh dan terpadu terhadap pasien geriatri. Kesan pertama merawat pasien lansia memang sulit. Ada beberapa penyebab yang membuat kesan sulit ini muncul.
Pertama, pasien lansia umumnya memiliki lebih dari satu jenis penyakit atau multipatologi. Merawat pasien dengan satu penyakit tentu akan berbeda dengan kondisi bila pasiennya mempunyai 3-4 penyakit. Terlebih memiliki komplikasi penyakit sehingga tingkat kesulitannya berbeda.
Kedua, gejala dan tanda klinisnya kadang tidak khas sehingga yang merawat kerap kali bingung, kenapa sebenarnya lansia ini? Ketiga, pasien lansia erat hubunganya antara kondisi fisik dan psikososial.
"..gejala dan tanda klinisnya kadang tidak khas sehingga yang merawat kerap kali bingung."
Misalnya pasien dengan demensia. Pasien demensia kerap mengalami lupa, misalnya lupa apakah dia sudah makan atau belum. Jika kondisi ini terjadi terus menerus, lama-lama pasien bisa mengalami penurunan daya tahan tubuh karena kekurangan gizi atau malnutrisi atau dehidrasi, karena kerap merasa sudah makan padahal belum. Akhirnya dari kondisi tersebut timbul penyakit fisik, infeksi dan sebagainya.
Atau sebaliknya dari kondisi fisik berpengaruh kepada kondisi psikosisial. Misalnya, ada pasien lansia berusia 65 tahun, yang tampak sehat dan bugar tiba-tiba mengalami stroke, sehingga mengalami kelumpuhan separuh badan. Selesai serangan stroke, pasien bisa mengalami depresi karena biasanya aktif tiba-tiba tidak bsa beraktivitas normal dan harus selalu dibantu.
Keempat, pasien lansia kerap kali juga terbebani masalah sosial dan finansial. Pasien usia lanjut pendapatannya, tentu sudah berkurang karena umumnya sudah pensiun dan tidak semua pasien lansia anak-anaknya mampu mendukung biaya perawatan orang tuanya. Ini kerap menjadi beban bagi pasien lansia dimana dia sudah pensiun, pendapatan berkurang namun masih dibebani biaya untuk pelayanan perawatan kesehatannya sendiri.
Hal-hal seperti ini yang menimbulkan kesan merawat pasien lansia sangat sulit. Karena itu, dalam Temu Ilmiah Geriatri kali ini, Pergemi Jaya mengambil tema: "Geriatric Medicine: From Genomic to Daily Practice". Tema ini akan mengangkat berbagai isu dan strategi dengan pendekatan komprehensif dan holistik terkait tatalaksana dari hulu ke hilir terkait pasien usia lanjut. Intinya, melalui rangkaian acara TIG kali ini, para dokter dan tenaga kesehatan akan diberikan pemahaman bahwa sebenarnya merawat pasien lansia itu mudah, asal mengerti caranya.
Meski tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan menangani pasien dewasa, bisa menjadi mudah jika kita tahu caranya. Misalnya mengetahui bagaimana penyakitnya, bagaimana gejalanya, dan yang terpenting bagi pelaku rawat adalah sebisa mungkin mencegah pasien mendapatkan perawatan ulang di rumah sakit. Mengapa? karena perawatan ulang atau re-hospitalisasi biayanya akan lebih tinggi karena penyakitnya pasti lebih banyak dan angka survival juga berkurang.
Bagaimana memahami penyakit lansia menjadi penting, karena pasien lansia umumnya datang dengan keluhan yang tidak khas. Misalnya, keluhannya sakit kepala, nyeri tulang dan sendi, tidak mau makan, malas bergerak, lebih banyak diam, lupa, bicara tidak nyambung, atau mengalami jatuh. Itu keluhan yang sering dialami pasien usia lanjut. Namun untuk penyakitnya, seringkali yang dialami ternyata seperti hipertensi, diabetes, pengapuran atau osteoatritis, pikun atau demesia, infeksi saluran pernafasan dan juga kanker.
Jika pasien mengalami keluhan yang perlu dilaksanakan operasi, salah satu yang terpenting diketahui adalah persiapan operasi yang harus optimal betul, karena akan mempengaruhi hasil akhir. Karena itu, dalam rangkaian TIG, Pergemi Jaya juga mengadakan workshop perioperatif, yang melalui workshop ini, kita ingin memberikan pemahaman terkait pentingnya persiapan operasi pada pasien usia lanjut.
Jangan sampai terjadi, seorang pasien usia lanjut menjalani operasi namun ternyata masih memiliki penyakit seperti infeksi paru-paru. Menjalani operasi tetapi ternyata pasien sudah demensia sedang atau berat. Jika kondisi ini terjadi, maka operasi tidak akan ada manfaanya untuk pasien. Misal dalam kasus pasien patah kaki, operasi tidak akan banyak memberikan pengaruh pada kualitas hidup pasien yang mengalami demensia sedang atau berat, karena misalnya, meski ada tulang yang patah, tetapi tidak mengalami nyeri, pasien masih bisa berjalan dan sebagainya.
Dalam kasus lain misalnya, pasien dengan penyakit kanker, operasi tidak akan banyak mempengaruhi kualitas hidup pasien jika misalnya sudah terjadi penyebaran. Atau dalam kondisi harus menjalani operasi jantung, harus dipastikan pasien tidak memiliki kelainan jantung tersembunyi atau ada sumbatan lain pada jantung dan komplikasi lainnya. Juga misalnya, menjalani operasi jantung padahal, saat dilakukan pemeriksaan kemampuan jantung melalui ekokardiogram, kemampuan jantungnya memang sudah menurun.
Hal-hal semacam ini harus bisa terdeteksi sebelum dilakukan tindakan operasi, karena itu tahap persiapan operasi menjadi penting untuk dipahami para dokter dan pelaku rawat pasien lansia. melalui TIG 2019 ini kita berusaha agar memberikan pemahaman kepada para dokter, salah satunya tentang karakteristik pasien geriatri yang khusus, sehingga dengan memahami caranya, maka merawat pasien lansia akan terasa lebih mudah.