Memahami Geriatri Itu Penting Bagi Para Dokter


Berita Lansia - Kementerian Kesehatan mengungkapkan, berdasarkan data proyeksi penduduk, jumlah penduduk berusia lanjut akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

2019-08-27 12:32:46

Wawancara dr. Arya Govinda Roosheroe, SpPD-KeGer:

Memahami Geriatri Itu Penting Bagi Para Dokter

Geriatri.id - Kementerian Kesehatan mengungkapkan, berdasarkan data proyeksi penduduk, jumlah penduduk berusia lanjut akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%).

Diprediksi jumlah penduduk lansia tahun 2020 akan meningkat menjadi 27,08 juta, dan di tahun 2025 akan meningkat lagi mencapai 33,69 juta. Tahun 2030 (40,95 juta) dan tahun 2035 (48,19 juta).

Peningkatan jumlah populasi ini membawa konsekuensi berupa semakin pentingnya menyiapkan layanan kesehatan yang terpadu dan multidisiplin bagi para pasien usia lanjut.

Pasien usia lanjut umumnya, memiliki permasalahan kesehatan yang lebih kompleks, karena adanya penurunan fungsi tubuh akibat penuaan.

Karena itu, dalam Temu Ilmiah Geriatri 2019 yang akan digelar pada tanggal 10-15 September mendatang, akan mengangkat berbagai isu dan strategi yang berkaitan dengan pedekatan komprehensif dan holistik terkait tatalaksana dari hulu ke hilir terkait pasien usia lanjut.

Apa makna penting dan hasil yang akan dicapai dari Temu Ilmiah Geriatri ini? Berikut petikan wawancara geriatri.id dengan dr. Arya Govinda Roosheroe, SpPD-KeGer, yang didaulat menjadi Ketua Pelaksana Temu Ilmiah Geriatri 2019.

Apa arti penting dari TIG kali ini, dan apa hasil yang ingin dicapai dari pertemuan ini?

Temu Ilmiah Geriatri adalah acara pertemuan ilmiah tahunan dari Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia Cabang DKI Jakarta. Ini sudah yang ke-16 sejak 2003 lalu.

Khusus tahun 2019 ini, hasil yang ingin kami capai adalah, agar setiap dokter umum ataupun dokter spesialis yang bukan geriatri, dapat memahami ilmu geriatri, sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan pada pasien usia lanjur secara optimal meski bukan spresialis geriatri.

Mengapa pehamanan terkait geriatri menjadi penting bagi para dokter umumnya?

Pertama, seiring bertambahnya umur harapan hidup yang sekarang mencapai rata-rata 71,5 tahun, maka sarana kesehatan tingkat pertama (klinik, puskesmas, maupun dokter pribadi-red) sampai tingkat kedua (rumah sakit tipe B dan C) hingga ketiga (rumah sakit tipe ), kebanyakan adalah pasien usia lebih dari 50 tahun. 

Dari pasien berusia lebih dari 50 tahun ini, kebanyakan adalah pasien geriatri atau pasien lansia yang sudah berusia 60 tahun ke atas, sehingga dokter umum ataupun spesialis lain yang bukan geriatri, suka tidak suka mau tidak mau akan berhadapan dengan pasien geriatri. 

Dengan acara ini (temu ilmiah geriatri-red), diharapkan dokter umum dan spesialis non geriatris, memiliki pengetahuan dasar terkait dengan bagaimana melakukan langkah-langkah penatalaksanaan secara menyeluruh dan terpadu terhadap pasien geriatri.

Pemahaman seperti apa misalnya yang harus diketahui para dokter?


Yang utama, harus tahu karakteristik pasien geriatri. Pertama, pasien geriatri bukan pasien dewasa tua seperti anak-anak bukan dewasa kecil. Permasalahan pasien lansia mulai dari adanya proses menua, penurunan fungsi organ tubuh, penyakitnya banyak atau multipatologi.

Kedua, jika ada penyakit, gejala atau tanda klinis tidak khas, banyak obat-obatan, yang belum tentu bagus karena ada interaksi obat. Ketiga, ada keterkaitan antara masalah fisik dan psikososial.

Dengan memahami hal-hal tersebut, diharapkan para dokter memahami apa itu penanganan paripurna pasien geriatri dan diharapkan dokter umum dan spesialis yang bukan geriatri memahami cara melakukan pendekatan interdisipilin dalam suatu tim terpadu geriatri.

Yang khas dari pasien lansia seperti apa yang sulit dipahami?

Yang penting diketahui, gejala klinis bisa tidak khas. Misalnya pasien infeksi, dia bisa datang tidak dengan keluhan adanya demam. Atau, kalau ada infeksi di paru-paru atau saluran pernafasan, bisa tidak ada keluhan batuk, melainkan justru dengan gejala bukan berasal dari sistem pernafasan, misalnya pasien jatuh, gelisah, nggak mau makan.

Ini yang yang harus dipahami, gejala bisa tidak khas, sehingga perlu tahu penyakit dasarnya ini. Misalnya keluarga mengeluh, sudah tidak nyambung ngomongnya dalam beberapa hari belakangan, nggak ada demam. Tetapi bisa saja setelah diperiksa ternyata pasien terkena infeksi paru-paru atau pneumonia.

Jadi pemahaman-pemahaman seperti ini yang akan ditekankan melaui TIG 2019?

Ya, justru melalui TIG 2019 ini kita berusaha agar memberikan pemahaman kepada para dokter, salah satunya tentang karakteristik pasien geriatri yang khusus.

Makanya dalam rangka TIG, selain simposium kita juga mengadakan workshop.

Ada pelatihan geratri dasar, geriatri lanjutan, dimana untuk ikut pelatihan geriatri lanjutan, harus lulus yang dasar. Kemudian, yang tak kalah pentingnya adalah workshop penatalaksanaan perioperatif atau persiapan operasi pada pasien geriatri. Bagi spesialis ini sangat penting.

Kenapa pelatihan geriatri dasar menjadi penting?

Pelatihan geriatri dasar penting karena ternyata syarat dari akreditasi rumah sakit adalah sudah memiliki pelayanan geriatri. Jadi workshop yang diberikan adalah workshop pelatihan dasar pembuatan atau pendirian pelayan geratri di rumah sakit.


Jadi  SNARS (Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit-red), itu sekarang menghendaki salah satu poin akreditasi yang penting adalah adanya pelayan geriatri, sehingga mesti disosialisasikan melalui media ini, bahwa ini lho, kalau mau mendirikan pelayanan geriatri, lebih baik memiliki panduan dan ikutilah panduan dalam workshop ini sehingga punya panduan dalam membangun layanan geriatri di rumah sakit.

Kapan workshop ini dilaksanakan?

Untuk workshop geriatri dasar atau panduan membuat pelayanan geriatri tingkat dasar akan dilaksanakan di tanggal 10-11 September 2019 ini.

Sedangkan untuk workshop panduan membuat pelayanan geriatri tingkat lanjut akan dilaksanakan tanggal 12-13 September 2019.

Untuk workshop peripoperatif, mengapa jadi penting?

Perioperatif ini juga penting untuk para dokter spesialis. Spesialis bedah misalnya, dalam menangani pasien geriatri, pertama harus memperhatikan indikasi operasi.

Kedua, ada nggak kontra indikasi operasi. Kalau tidak ada, dilihat lagi ada nggak persiapan khususnya pada pasien yang datang dengan keluhan berbagai macam pemyakit.

Ketiga, antisipasi dari komplikasi operasi termasuk dalam tindakan anestesi (pembiusan). Misalnya kalau ada indikasi harus operasi atau nggak, indikasi itu kadang harus kita lihat juga ada manfaatnya tidak kalau dioperasi pada pasien.

Jadi ini masalah risk and benefit. Untuk kontra indikasi, perlu misalnya persiapan khusus kalau, misalnya pasien memiliki diabetes bagaimana persiapannya? Kalau pasien memiliki gangguan ginjal bagaimana? Juga misalnya gangguan jantung bagaimana? Atau ada demensia mungkin, perlu nggak antisipasinya? Dan bagaimana nantinya kemungkinan komplikasi pasca operasi.

Kapan workshop perioperatif ini dilaksanakan?

Untuk workshop manajemen perioperatif akan dilaksanakan pada 12-13 September 2019. Sedangkan untuk puncaknya, TIG akan dilaksanakan simposium pada 14-15 September 2019.***

geriatri,lansia,dr arya,merawat lansia,rawat lansia

ARTIKEL LAINNYA

Kehidupan Lansia yang Menginspirasi Lewat 5 Drama Cina

Tetap Aktif, Tetap Sehat: Kunci Menjaga Jantung di Usia Lanjut

Cara Memilih Tensimeter yang Cocok di Rumah

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026