Menopause dan Rambut Rontok: Ujian Kepercayaan Diri pada Lansia Perempuan


berita Lansia - Rambut rontok pada usia lanjut mungkin dianggap wajar bagi pria, namun tidak untuk wanita. Gejala rambut rontok ini nyatanya cukup sering membuat perempuan pra-lansia merasa khawatir.

2022-03-14 07:37:59

Penulis: Husna Sabila

Geriatri.id - Menopause adalah kondisi ketika perempuan tidak lagi mengalami siklus menstruasi. Berdasarkan National Institute of Aging, menopause dihitung setidaknya 12 bulan setelah seorang perempuan mengalami datang bulan terakhirnya.

Pada saat seseorang mengalami menopause, perubahan hormon terjadi di dalam tubuhnya.

Gejala yang dirasa beragam seperti kelelahan, nyeri pada beberapa bagian tubuh, perubahan emosi, kesulitan tidur, kulit, mata, dan mulut kering, nyeri sendi dan otot, mengalami kenaikan berat badan, dan rambut rontok.

Rambut rontok pada usia lanjut mungkin terlihat hal yang biasa dan wajar bagi pria, namun ternyata tidak demikian bagi wanita.

Gejala rambut rontok ini nyatanya cukup sering membuat perempuan pralansia merasa khawatir sehingga memeriksakan diri mereka pada dokter.

Gejala kerontokan pada wanita dapat disebabkan oleh beberapa hal. Namun, dalam kasus kerontokan saat pralansia mengalami menopause umumnya disebabkan karena perubahan hormon dalam tubuh. 

Lebih lanjut menurut Cleveland Clinic, faktor penuaan dan perubahan lingkungan pada saat menopause menyebabkan beberapa folikel rambut benar-benar berhenti memproduksi rambut baru.

Seiring waktu, serat rambut menjadi lebih tipis dan rontok. Sayangnya, rambut yang rontok saat menopause ini tidak pernah beregenerasi, alias tidak tumbuh lagi.

Meskipun tidak dapat beregenerasi, Cleveland Clinic membagikan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merawat rambut yang tersisa sehingga lebih tebal dan mencegah kerontokan berikutnya terjadi, yaitu:


1. Jangan terlalu sering berkeramas. Rambut yang terlalu sering dikeramasi akan lebih mudah rapuh dan kering.

2. Jangan lupakan pelembab dan nutrisi rambut. Condisioner yang digunakan setelah keramas berfungsi untuk mengembalikan kilau rambut dan minyak alami rambut yang hilang saat berkeramas.

Nutrisi rambut lainnya yang digunakan dapat berfungsi menguatkan dan menebalkan rambut.

3. Pilihlah produk yang sesuai. Hindari produk shampo yang memiliki kandungan bahan yang mengganggu keseimbangan hormon seperti paraben.

4. Konsumsi makanan dengan nutrisi lengkap, perbanyak konsumsi protein. Folikel rambut sebagian besar tersusun atas protein, sehingga kurangnya konsumsi protein harian akan menyebabkan kemungkinan rambut rontok yang semakin banyak.

5. Tinjau kembali obat yang dikonsumsi dengan dokter anda. Beberapa jenis obat dapat menyebabkan efek samping kerontokan pada rambut.

Mengomunikasikan dan konsultasi dengan dokter akan membuat anda lebih paham mengenai efek samping ini serta dapat memilih langkah selanjutnya dengan lebih bijak.

*Foto Ilustrasi: clevelandclinic.org

Baca juga

Beda Lupa (Biasa) dengan PIkun 

Musik Bantu Kembalikan Ingatan Penderita Demesia

5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi

 

Video Lansia

 

kesehatan lansia, lansia sehat, geriatri, lansia bahagia, merawat lansia,lansia,lansia online,merawat lansia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Menghirup Udara Pagi di Taman Kota Salatiga

Rahasia 'SuperAgers': Lansia dengan Daya Ingat Setajam Orang Muda

Mengasuh Cucu? Boleh Banget tuh

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026