Kenali Risiko dan Gejala Demensia Pada Lansia


Berita Lansia - Dalam Webinar Direktorat Kesehatan Keluarga series 4: Oma Opa, Waspada Demensia Alzeimer, dr. Tania Maria Setiadi M. Biomed (AAM) memaparkan pentingnya isu demensia.

2021-05-24 07:05:07

Geriatri.id--Demensia atau umum disebut pikun adalah penyakit yang sering diderita orang lanjut usia atau lansia.

Meski demikian demensia disebut bukan bagian normal dari penuaan. Karena tidak semua orang tua akan mengalami demensia.

Dalam Webinar Direktorat Kesehatan Keluarga series 4: Oma Opa, Waspada Demensia Alzeimer, dr. Tania Maria Setiadi M. Biomed (AAM) memaparkan pentingnya isu demensia atau pikun untuk diketahui dan dipelajari, bukan hanya orang tua tapi juga orang muda.

Berdasarkan hasil penelitian Alzheimer diseases international tahun 2015, disebutkan setiap 3 detik ada 1 orang terdiagnosa dengan demensia.

Bahkan disebutkan dari jumlah 48,8 juta ODD di seluruh dunia, 58% hidup di negara dengan pendapatan menengah ke bawah.

Asia menempati urutan tertinggi Orang Dengan Demensia (ODD).

Demensia sendiri disebutkan sebagai sekumpulan gejala dan tanda-tanda dari penurunan fungsi otak, baik itu memori maupun fungsi berpikir.

Terjadi perubahan dari sebelumnya dan perubahan ini dapat diamati. Bahkan perubahan yang terjadi ini bisa memengaruhi kemampuan aktivitas sehari-hari.

Demensia itu bersifat progresif dan terminal dengan kategori ringan, sedang, berat, dan bisa mengakibatkan kematian. 

Seperti disebutkan di atas, demensia bukanlah proses normal dari penuaan. Namun menua merupakan faktor resiko terjadinya demensia.

Untuk orang yang berusia di bawah 50 tahun dan mengalami demensia, bisa saja terjadi karena ada kelainan genetik.

Penyebab lain bisa berupa penyakit-penyakit yang menyerang organ tubuh utama, yaitu otak. 


Alzheimer dianggap sebagai penyebab demensia paling sering, selain gangguan dari stroke.

Belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit alzheimer. Namun sedari dini kita bisa fokus pada mengenali dan mengidentifikasi faktor-faktor risiko dan gejala. Ini dilakukan harapannya bisa memperlambat proses penurunan fungsi otak.

Meskipun belum ada obatnya, namun banyak penelitian-penelitan yang sudah dapat menggambarkan faktor-faktor risiko yang menyebabkan mudah terkena demensia.

Ada beberapa faktor risiko yang bisa dimodifikasi untuk bisa melindungi atau mencegah kita terkena demensia.

Faktor-faktor terebut di antaranya, masalah pendidikan, usia, kehilangan pendengaran, trauma di kepala, konsumsi alkohol, diabetes merokok, depresi, isolasi sosial, dan polusi. 

Adapaun gejala-gejala umum atau tanda-tanda demensia alzheimer, menurut Yayasan Alzheimer Indonesia adalah:

  1. Gangguan daya ingat, demensia yg disebabkan oleh Alzheimer adalah daya ingat

  2. Sulit fokus, bagian dari lupa dan gangguan dalam berpikir, 

  3. Sulit melakukan kegiatan yang familiar, sudah ada gangguan dalam otak dalam merencanakan atau menyelesaikan tugas

  4. Disorientasi, bisa disoreinteasi waktu, tempat dan arah. Contoh: lansia tersesat tidak bisa pulang, 

  5. Kesulitan dalam memahami Visio Spasial, mengenai jarak penglihatan, contoh: makan bingung sendok kiri atau kanan, pakai sendal kebalik

  6. Gangguan komunikasi, karena lupa atau sulit memilih kata-kata

  7. Menaruh barang tidak pada tempatnya, lupa. Yang semakin berat ada curiga yang berlebihan

  8. Salah membuat keputusan

  9. Menarik diri dari pergaulan, kalau dulunya aktif, bisa juga karena malu

  10. Gangguan perubahan perilaku kepribadian, gampang curiga, sensitif 

Gejala-gejala ini muncul tidak bebarengan atau bisa hanya salah satu. Untuk Alzheimer sendiri, yang ditampilkan adalah gangguan memori atau daya ingat.


Sementara untuk halusinasi atau delusi, gangguan perilakunya lebih dominan. 

Lalu apa yang harus dilakukan jika ada anggota keluarga yang sudah menunjukkan gejala-gejala ini?

Maka segeralah bawa ke dokter untuk bisa mengetahui gejala-gejala penurunan fungsi kognitif.

Beberapa penyebab penurunan fungsi kognitif di antaranya kadar hromon thyroid rendah, kadar gula tinggi.

Dokter juga akan melakukan diagnosis klinis dan mendengarkan riawayat pasien. Bisa jadi juga akan dilakukan tes tertentu pada penderita seperti test neuro imagine.***(Dewi Retno untuk Geriatri.id | Foto Pixabay)

Lansia,Demensia,Alzheimer,Tania Maria Setiadi ,Geriatri,Merawat Lansia,Lansia Sehat,Lansia Bahagia,Lansia Online

ARTIKEL LAINNYA

Tetap Bergerak di Hari Kurban, Sehat Jalan Terus

Selamat Idul Adha, Mari Saling Berbagi

Indonesia Semakin “Menua”, Keuangan Belum “Siap”

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026