Waspada Caregiver Burnout, Kenali Gejalanya?


Berita Lansia - Ternyata pekerjaan caregiver juga mengandung risiko tinggi

2021-05-20 13:35:42

Geriatri.id - Menjadi perawat (caregiver) baik bagi orang sakit maupun lansia, merupakan pekerjaan mulia. Bahkan di beberapa negara, profesi ini sangat dihargai.

Di Jepang misalnya, caregiver di panti lansia, mendapat gaji tinggi, antara Rp16 juta sampai Rp20 juta per bulan. Mereka juga bekerja dengan didukung peralatan canggih dalam merawat lansia.

Meski demikian, pekerjaan caregiver juga mengandung risiko tinggi.

Caregiver bisa saja mengalami kondisi kelelahan fisik, emosi, dan mental yang berlebih karena merawat orang sakit, lansia, atau penyandang disabilitas.

Kondisi ini dikenal dengan nama "Çaregiver Burnout".

Mengutip laporan Cleveland Clinic, caregiver burnout dapat terjadi ketika pengasuh tidak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Kondisi caregiver burnout juga bisa terjadi ketika seorang caregiver mencoba melakukan lebih dari yang mereka mampu, baik secara fisik maupun secara finansial.

Mereka biasanya merasa bersalah jika menghabiskan waktu untuk diri mereka sendiri.

Akibatnya, mereka merasa kelelahan, stres, kecemasan, dan depresi berkepanjangan. Penyebab caregiver burnout.

Lantas seperti apa gejala terjadinya caregiver burnout?

Seperti dilansir dari WebMd, gejala caregiver burnout sangat mirip dengan gejala stres dan depresi.


Beberapa tandanya adalah seperti penarikan diri dari teman dan keluarga, kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dinikmati, dan merasa sedih, rewel, putus asa, dan tidak berdaya.

Kemudian, terjadi perubahan nafsu makan, berat badan, atau keduanya. Bahkan, pada tingkat yang akut, muncul perasaan ingin menyakiti diri sendiri atau orang yang disayangi.

Lantas bagaimana cara mengatasinya? Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi caregiver burnout:

1. Kenali batas lelah diri.

2. Temui seseorang yang dipercaya, seperti teman, rekan kerja, atau tetangga, dan curahkan segala kelelahan yang dirasakan.

3. Pikirkan untuk istirahat dan bagilah tugas dengan orang lain.

4. Bersikap realistis tentang penyakit yang diderita orang yang dicintai, terutama jika itu adalah penyakit yang progresif, seperti Parkinson atau Alzheimer.

5. Luangkan waktu untuk diri sendiri, meskipun hanya satu atau dua jam. Merawat diri sendiri adalah kebutuhan, bukan sesuatu yang egois.

6. Bicaralah dengan seorang profesional, seperti psikolog atau psikiater.***

(Geriatri.id)

foto: ilustrasi caregiver merawat lansia (stocksnap)
 

lansia, merawat lansia,lansia sehat,geriatri, caregiver,caregiver burnout,lansia bahagia,lansia online,merawat lansia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Pemerintah Dorong “Care Economy” untuk Lansia

Ketika Lansia Diajak Jalan-Jalan di HLUN 2026

Industri Robot Lansia di China Kian Melaju

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026