
Geriatri.id | Berita lansia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan memutuskan akan melakukan vaksinasi untuk 14 jenis antigen secara nasional. Rencana ini akan mulai berlaku tahun depan sesuai dengan revisi rencana strategis reformasi kesehatan. Sebelumnya Indonesia sudah melakukan vaksinasi massal untuk 11 antigen.
Rencana ini dipaparkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam sambutan di acara Webinar Pekan Imunisasi Dunia 2021: Bersatu Sehatkan Negeri, 08/05/2021. Selain vaksinasi nasional untuk 11 antigen, ada vaksinasi yang sifatnya sub nasional untuk 2 jenis antigen lain yaitu PCV dan HPV. “Kita akan melakukan vaksinasi PCV dan HPV secara nasional dan menambah dengan vaksinasi rotavirus,” ujar Menkes.
Menurut Menkes, rencana ini merupakan bagian dari salah satu target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 untuk mengurangi kematian ibu dan anak. Saat ini di Indonesia, banyak anak lahir, neonatal, meninggal karena diare dan pneumonia. Sehingga dengan vaksinasi Rotavirus dan PCV diharapkan bisa mengurangi kematian ibu dan anak secara signifikan.
Selain itu kanker juga masih menjadi penyebab kematian paling tinggi di Indonesia. Pada wanita, kanker cerviks menjadi penyebab kematian utama selain kanker payudara. Sehingga dengan memasukkan 3 antigen atau vaksinasi baru tersebut, PCV, HPV dan Rotavirus diharapkan bisa mengurangi tingkat kematian karena kanker. “Bisa menciptakan anak-anak muda masa depan bangsa yang jauh lebih sehat,” tambah Menkes.
Menurut Menkes, program vaksinasi ini adalah salah satu program utama di sektor promotif dan kuratif. Saat ini biaya kesehatan di banyak negara di dunia tumbuh lebih pesat daripada ekonomi dunia. Hal tersebut terjadi karena banyak sekali biaya kesehatan yang dialihkan ke sektor kuratif. Di Indonesia sendiri 80% anggaran kementerian kesehatan dan alokasi anggaran yang di BPJS dialihkan ke sektor kuratif.
Untuk bisa membandingkan biaya yang perlu dilakukan di sektor promotif dan kuratif dapat diambil contoh adalah Covid 19. Perbedaan biaya karena fokusnya terlalu banyak di sisi kuratif dan terlambat di sisi promotif, maka terjadi lonjakan biaya kesehatan sampai ratusan kali. “Sehingga pemerintah mendukung program vaksinasi sebagai program utama di sektor promotif dan kuratif di luar germas,” imbuhnya.
Berikut adalah imunisasi lengkap yang harus didapatkan oleh anak sesuai rekomendasi IDAI dan Permenkes 2017.
Imunisasi untuk anak umur 0 – 18 bulan antara lain
Segera setelah lahir : Hepatitis B 0
Usia 1 bulan : BCG + bOPV 0
Usia 2 bulan : Pentavalent 1 + bOPV 1
Usia 3 bulan : Pentavalent 2 + bOPV 2
Usia 4 bulan : Pentavalent 3 + bOPV 3 + IPV
Usia 9 bulan : MR 1
Usia 18 bulan : Pentavalent 4 + MR 2
Dapat juga ditambah dengan imunisasi berikut :
Usia 2 bulan : PCV1
Usia 4 bulan : PCV2
Usia 6 bulan : PCV3 + Influenza 1
Usia 7 bulan : Influenza 2
Usia 12 – 15 bulan : PCV4
Imunisasi untuk anak umur >18 bulan
6 – 7 tahun (SD kelas 1) : DT atau Td + MR
7 – 8 tahun (SD kelas 2) : Td
11 tahun (SD kelas 5) : Td
dan HPV I (untuk provinsi tertentu)
12 tahun (SD kelas 6) : HPV II ( untuk provinsi tertentu). (Dewi Retno untuk Geriatri.id)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri