.jpg)
Geriatri.id--Demensia adalah pernyataan yang digunakan untuk menggambarkan beberapa gejala penurunan kognitif. Demensia disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak dan biasa terjadi pada lansia. Ciri-ciri demensia secara umum adalah suka lupa, sering lupa peristiwa yang baru, muncul khayalan yang tidak sesuai dengan faktanya dan bicara diulang-ulang. Orang dengan dementia juga kadang sensitive, secara emosional, mudah marah dan emosi tidak stabil.
Dalam webinar Yayasan Alzhemeir Indonesia, Sani Budiantini S.Psi, Psi memaparkan Tantangan Anak Hidup dengan Anggota Keluarga Dementia dan Tips Praktis. Sani yang juga seorang psikolog anak dan keluarga, menjelaskan perilaku-perilaku ODD (orang dengan demensia) yang membutuhkan perhatian keluarga.
Contoh-contoh perilaku yang mungkin terjadi pada ODD, di antaranya keterbatasan fisik, sulit makan atau makan terus menerus. ODD juga mengalami hambatan komunikasi, sulit menemukan bahasa yg tepat. Bahkan kalau sudah parah, kadang tidak mengenal cucu atau anaknya sendiri. Biasanya ia akan bertanya lebih dari 5 kali setiap bertemu dengan anggota keluarganya.
Belakangan juga sering ditemukan lansia yang tersesat di jalan atau hilang dari rumah, karena demensia. Mereka masih suka jalan, namun karena keterbatasan memori lupa jalan pulang. ODD juga masih punya perasaan diabaikan, tidak dilibatkan dan kesepian. Apalagi jika pasangan sudah tidak ada, yang bisa mengakibatkan semangat hidup menurun.
ODD di mata umum terlihat tidak berguna, menjadi beban hidup dan sumber stress keluarga. Hidup bersama ODD, memengaruhi secara kesehatan, emosional, psikologi dan finansial. Masalah yang terjadi di dalam keluarga yang merawat ODD tidaklah ringan. Permasalahan yang sering terjadi adalah masalah psikologis, merasa lelah dan stress.
Sumber stress pada keluarga penderita dementia adalah ketidakpastian, kapan semua akan berakhir. Karena manusia tidak bisa toleransi terhadap ketidakpastian. Adanya ketergantungan ODD terhadap keluarga, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Yang akhirnya bisa memunculkan amarah, stress dan perpecahan keluarga.
Sani menyebutkan pentingnya mengubah pola pikir pada pendamping ODD untuk mengatasi masalah ODD ini. Pendamping harus punya keyakinan yang kuat akan kapasitasnya mengurus ODD. Menganggap ODD adalah amanah dari Tuhan yang diberikan dan harus dijaga. Pola pikir seperti ini juga harus diberikan kepada anggota keluarga lain terutama anak.
Memberikan pemahaman pada anak mengenai ciri-ciri dementia secara menyeluruh. Biasanya reaksi anak dengan anggota keluarga ODD adalah tidak terima, kesal dan menghindar. Sebagai pendamping juga harus memahami anak namun juga terapi edukasi sangat penting untuk anak-anak, karena mereka hidup di tengah ODD. Anak-anak harus memahami kondisi mereka, sebelum melakukan pendekatan ke ODD.
Orangtua juga perlu membantu anak-anak untuk bisa membangun hubungan dengan ODD. Karena proses-proses marah dan tidak terima ini akan berlangsung pada anak sampai mereka dewasa, matang, dan dengan kesadaran baru bisa terima sepenuhnya. Jangan menghakimi anak dengan kalimat-kalimat negative yang membuat anak sedih, terpuruk dan depresi.
Perasaan anak ini juga harus dipahami dan tugas ortu untuk bisa menjembatani hubungan anak dengan ODD. Beberapa cara diantaranya perjuangan, usaha, kekuatan keimanan, meminta anak berbicara dengan lembut. Ajarkan anak untuk tidak perlu mengkritisi atau mengomentari ODD yang kadang bicara berulang-ulang. Alihkan pertanyaan-pertanyaan berulang dari ODD dengan melakukan kegiatan lain. Kegiatan yang bisa membangkitkan mood ODD, seperti menonton televisi, bernyanyi atau lainnya.
Anak juga perlu diberi motivasi untuk membantu dengan tulus. Setelahnya tidak lupa diberi apresiasi, pujian dan hadiah yang bisa membuat anak bahagia dalam membantu opa omanya. Terus memberi pemahaman seputar dementia kepada anak dan menjadi role model bagi anak. Orangtua juga harus memberikan waktu pada anak untuk bisa mengutarakan perasannya. Beri anak ruang untuk berbicara, tidak perlu ditolak dan cukup mengakomodir saja. Hal-hal seperti ini bisa membuat anak-anak menjadi senang karena sudah dipahami. (Dewi Retno untuk Geriatri.id | Foto Pixabay)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri