
Geriatri.id - Pemerintah terus mendorong upaya tercapainya target vaksinasi untuk tenaga kesehatan, petugas pelayanan publik, dan lansia.
Berdasarkan data per 19 April 2021, sudah 10,97 juta melakukan vaksinasi tahap I dan 6,1 juta untuk tahap II.
Dengan capaian ini, Indonesia menjadi negara terdepan dengan jumlah suntikan vaksin, terutama untuk negara yang tidak memproduksi vaksin sendiri.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam Webinar PB IDI yang bertema Upaya Akselerasi Pencapaian Target Vaksinasi Covid-19, Kendala & Solusi, 17/04/2021 juga mengharapkan tercapainya target harian vaksinasi.
Saat ini vaksinasi harian baru mencapai 300.000/hari dari target semula 500.000/hari.
Namun pencapaian itu juga didasari karena jumlah vaksin yang diterima oleh Indonesia tidak sesuai target.
Menurut Budi, hal ini disebabkan adanya lonjakan kasus di India, yang menyebabkan suplai vaksin terganggu. Yang rencana awal bisa memperoleh 15 juta vaksin di Februari dan Maret, hanya dapat 10 juta vaksin.
Pemerintah Indonesia sendiri memiliki target vaksinasi sebanyak 181,5 juta sehingga dibutuhkan 363 juta vaksin. Dengan cadangan 15%, Indonesia memerlukan, 426 juta dosis yang dibadi menjadi 4 produsen, yaitu Sinovac, Astra Zeneca, Novovac dan Pfizer. “Kenapa 4? kalau ada masalah dengan 1 yang lain bisa terima,” papar Budi.
Menkes Budi menyampaikan pada semester II nanti, jumlah stok vaksin akan lebih banyak. Hal ini lebih jauh dipaparkan oleh dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid, Direktur P2 Penyakit Menular Langsung dan juga Jubir Vaksin Covid-19 Kemenkes. Dimana menurut dr. Siti Nadia, pada semeseter II nanti yaitu bulan Juli-Desember, Indonesia akan segera punya 4 jenis vaksin.
Dengan demikian diharapkan target harian vaksinasi akan meningkat di bulan Mei-Juni menjadi 750.000/hari. dr. Siti Nadia memaparkan bulan Maret April rata-rata mencapai 500.000/hari. Namun terjadi penurunan karena bulan Ramadan dan jumlah vaksin yang terbatas sehingga diberikan prioritas. Dan setiap sabtu minggu seringkali terjadi penurunan penyuntikan dosis.
Untuk itu, dr. Siti Nadia meminta kepada seluruh jajaran untuk tetap membuka sentra pelayanan vaksinasi. Sentra pelayanan ini bisa berbasis pelayanan nakes di daerah-daerah khususnya pedesaan, basis posyandu dan berbagai pos-pos vaksinasi. Atau bisa juga berbasis institusi, vaksinasi massal di tempat sentra-sentra vaksinasi dibuka. Atau bisa dilakukan vaksinasi massal bergerak atau door to door.
Tentu saja dengan membuka lebih banyak sentra vaksinasi maka membutuhkan tenaga kesehatan dan non kesehatan. Dan dengan memperbanyak sentra vaksin dapat mempercepat cakupan vaksin. . Hal ini diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak, dan instansi. Juga elibatkan organisasi profesi dan tokoh agama dan masyrakat untuk mendorong kesuksesan vaksinasi.
Upaya ini juga didukung pemerintah daerah, sesuai dengan pernyataan dari Direktur Jendral Bina Administarsi Kewilayahan-Kemendagri yang juga Plt. Gubernur Kalimantan Selatan, DR. Safrizal ZA, MSi. Menurut Safrizal, pemerintah daerah telah menyiapkan infrastruktur pendukung dan sumber daya manusia. Vaksinator yang ada tidak hanya bertugas di satu tempat tapi juga bertugas di layanan regular lainnya.
Bahkan deberapa daerah sudah berkolaborasi dengan Direktorat Kesehatan POLRI, TNI dan berbagai macam dalam rangka menambah jumlah vaksinator. Selain itu pemda juga membuat desain rencana kerja untuk lancarnya proses vaksinasi. Namun demikian rencana ini, menurut Syahrizal tidak bisa terlalu kaku, harus fleksibel, sehingga cakupan vaksinasi sesuai dengan target bisa dilakukan.
Selain itu memaksimalkan penggunaan tempat-tempat yang digunakan masyrakat, mendekatkan lokasi vaksinasi dengan kegiatan masyrakat. Syahrizal mencontohkan tempat seperti terminal, pasar, dan bahkan dilakukan di sekolah.***(Dewi Retno untuk Geriatri.id)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri