.jpg)
Geriatri.id - Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan kembali menegaskan untuk menjadikan lansia sebagai prioritas penerima vaksin. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam Webinar PB IDI yang bertema Upaya Akselerasi Pencapaian Target Vaksinasi Covid-19, Kendala & Solusi, 17/04/2021 menyebutkan alasan mengapa lansia harus diproritaskan.
Menurut Menkes Budi, di bulan Syawal atau Hari Raya nanti, lansia akan menjadi golongan yang berisiko tinggi. Meski pemerintah telah melarang mudik di hari raya, namun tidak ada yang bisa menahan mobilitas. Bahkan beberapa hari ini, sudah ada pemudik yang mulai kembali ke kampung halamannya.
Sehingga, melalui IDI, diharapkan banyak kantung-kantung lansia yang bisa berhasil disuntik. Diharapkan sebelum lebaran nanti sebagian besar lansia sudah bisa disuntik. “Kalau ada mekanisme membantu suntikan ke lansia saya akan terbantu,” ujar Menkes.
Sementara DR. Safrizal ZA, MSi, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan – KEMENDAGRI dan juga PLT. Gubernur Kalimantan Selatan menyebutkan adanya kesulitan tersendiri untuk vaksinasi lansia. Beberapa diantaranya sulit mengajak manula antri di tempat yang massal dan manula sulit diminta menunggu lebih dari 2 jam.
Lebih jauh Safrizal memaparkan masalah keterbatasan vaksin juga menimbulkan keraguan terutama di tahap kabupaten/kota untuk menyuntikkan sasaran vaksin. Takutnya, tahap pertama mereka bisa divaksin, namun karena adanya keterbatasan, tahap kedua tidak bisa divaksin atau divaksin dengan merk berbeda.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah menerapkan beberapa strategi untuk mengejar angka vaksinasi bagi lansia. Salah satunya dengan mengirim tenaga vaksinator melakukan vaksinasi sampai ke desa dan kelurahan. Tentu saja harus dibarengi dengan jumlah vaksinator yang cukup. Hal ini sudah diantisipasi dengan mengajak tenaga kesehatan dari POLRI, TNI dan berbagai instansi.
Selain itu pemda juga menyiapkan rencana seperti mendahulukan zona resiko tinggi dan menentukan target penerima vaksin. Menggunakan tempat-tempat yang digunakan masyrakat, mendekatkan lokasi vaksinasi dengan kegiatan masyrakat. Dan menerapkan skenario vaksinasi bagi masyarakat yang super prioritas, misalnya tenaga kesehatan, pelayan publik, kelompok lansia, dan kelompok masyarakat dengan mobilitas tinggi.
Sementara dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid DIrektur P2 Penyakit Menular Langsung dan Jubir Vaksin Covid-19 Kementrian Kesehatan menyebutkan, lansia merupakan kelompok rentan. Meski kasus Covid-19 pada lansia 12% dari total kasus nasional, namun angka kematian pada lansia 50% lebih tinggi dari kasus lainnya.
Pemerintah sendiri mencanangkan untuk bulan April ini, target prioritas vaksinasi adalah lansia dan tenaga pendidik. Terutama lansia yang berada di daerah-daerah tujuan mudik. Meski ada larangan dari pemerintah untuk mudik lebaran tahun 2021 ini, namun pergerakan awal sudah dilakukan.
Oleh karena itu, lansia menjadi prioritas penerima vaksin dan harus didukung proses vaksinasi untuk lansia ini. Salah satunya dengan memperbanyak sentra vaksin dan mempercepat cakupan vaksin. Selain itu perlunya melibatkan organisasi profesi dan tokoh agama dan masyrakat untuk mendorong kesuksesan vaksinasi ini.
dr. Siti Nadia menyebutkan berbagai sentra vaksinasi merupakan kolaborasi lintas sektor, pemerintah dan swasta. Dan sentra vaksinasi ini gunanya untuk mempermudah akses dan cakupan vaksinasi. Ia mencontohkan yang dilakukan Pemda Bali, yang menggandeng perusahan taksi online untuk ikut mengantar dan menjemput lansia ke tempat vaksinasi. Atau Pemda DKI Jakarta yang melakukan vaksinasi pintu ke pintu bagi lansia.
Mengapa ini perlu dilakukan? dr. Siti menilai angka partisipasi pada lansia cenderung menurun. Meski di awal-awal vaksinasi, partisipasi lansia ini sampai menimbulkan antrian, namun belakangan cakupannya malah ketinggalan jauh. Hal ini dikarenakan kekhawatiran lansia terkait keamanan dan keterbatasan akses mendatangi sentra-sentra vaksinasi.
Kolaborasi harus terjadi, misalnya bisa meminta sentra vaksinasi untuk membantu mengantarkan dan menjemput lansia. Bagaimana mempermudah pelayanan, karena adanya kendala registrasi yang dilakukan secara elektronik. Penggunaan sarana umum seperti gedung sekolah atau balai desa. Memaksimalkan bantuan kader kesehatan, karang taruna bisa mengidentifikasi lansia yang belum dapat.
Perlu adanya kerjasama dengan komunitas lokal, organisasi swasta, organisasi seperti PBNU dan PP Muhammadiyah sebagai upaya percepatan proses vaksinasi pada lansia. Penyediaan tenaga vaksinator siap pakai di wilayah kerjanya, bekerjasama dengan pemerintah setempat. Menggerakkan dan mengajak masyrakat untuk vaksin dengan edukasi massal atau personal tentang pentingnya vaksinasi Covid-19.
dr. Siti Nadia juga memberikan salah satu cara mempercepat program vaksinasi lansia dengan mekanisme 1:2. Dimana 1 orang non lansia bisa divaksinasi jika bisa membawa minimal 2 orang lansia. Namun satu paket vaksinasi dosis I harus sama dengan dosis II. Sehingga dengan demikian target 140 juta sasaran bisa diselesaikan di bulan Juli.
Upaya pemerintah ini didukung oleh Majelis Ulama Indonesia melalui pernyataan dari Dr. H. Asrorun Ni’am Sholeh MA, Ketua Majelis Ulama Indonesia. Menurut Dr. H. Asrorun, vaksin didudukan sebagai tindakan pengobatan prventif, dalam fiqih islam, masuk sebagai langkah preventif. Landasan normatifnya, diperintahkan menjaga kesehatan, berobat jika sakit.
Ia juga menambahkan vaksinasi ini menjadi cara mengaja kesehatan selain dengan menjalankan pola hidup sehat, sesuai protokol kesehatan. Menurutnyanya protokol kesehatan itu bukan hanya sekedar tuntutan kehidupan, tapi tuntutan kehidupan beragama. Ada dan tidak adanya protokol yg wajib, langkah menjaga kesehatan adalah tanggung jawab syar’i.
MUI kembali menegaskan boleh melakukan vaksinasi di bulan Ramadan. Hal ini didasarkan atas vaksinasi Covid-19 dengan menggunakan injeksi, sehingga tidak membatalkan puasa. Puasa Ramadan yang dilakukan tidak halangan untuk mengendorkan vaksinasi, baik untuk partisipan, vaksinator maupun nakes. (Dewi Retno untuk Geriatri.id)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri