Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Seputar Vaksin COVID-19


Berita Lansia - Program vaksinasi COVID-19 terus berlangsung, termasuk buat Oma Opa lanjut usia (lansia). Berikut rangkuman pertanyaan yang sering dilontarkan dan jawabannya dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI).

2021-03-22 06:40:39

Geriatri.id--Program vaksinasi COVID-19 terus berlangsung, termasuk buat Oma Opa lanjut usia (lansia). Di tengah vaksinasi di berbagai wilayah itu, muncul banyak pertanyaan sesuai dengan perkembangannya. 

Berikut rangkuman pertanyaan yang sering dilontarkan dan jawabannya dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI). Jawaban pertanyaan ini diperbarui pada 1 Maret 2021:

Berita lansia lainnya:

Bila Lansia Sakit, Begini Cara Tepat Merawatnya

3 Kunci Sukses Agar Lansia Sehat, Apa Saja?

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia Tanpa Kerentaan

 

EFEKTIVITAS VAKSIN

Untuk vaksin yang seharusnya diberikan 2 dosis, apa akibatnya jika dosis kedua tidak diberikan? Bagaimana pula efeknya kalau dosis yang diberikan berlebihan? 

Suntikan pertama sudah meningkatkan antibodi tetapi kadarnya masih rendah. Seperti contohnya vaksin Sinovac®, suntikan pertama antibodi yang terbentuk hanya sekitar separuh daripada suntikan kedua. Titer antibodi yang dapat menetralisasi virus baru terbentuk maksimal setelah 14 hari pasca suntikan kedua. Jadi suntikan kedua amat penting untuk mencapai perlindungan yang diharapkan. 

Dosis Sinovac® yang digunakan termasuk kategori medium. Pada uji klinik tahap II, efektivitas dosis tinggi tidak terlalu berbeda dengan dosis medium tapi efek sampingnya lebih banyak. Jadi, kelebihan dosis mungkin menyebabkan efek samping lebih banyak, namun tak berbahaya.

Berapa lama vaksin COVID-19 ini akan bekerja atau memproteksi? Kapan harus diulang kembali? Apakah akan ada booster? 

Semua vaksin COVID-19 belum dapat ditentukan keperluan boosternya karena lama pengamatan titer antibodi paling lama baru 6 bulan setelah suntikan kedua.

Apakah vaksin COVID-19 yang ada di Indonesia dapat mencakup semua jenis strain SARS-CoV-2? Bagaimana dengan strain baru dari Inggris? 

WHO sedang mengamati berbagai mutan yang ada. Sampai sekarang WHO masih berpendapat reagen untuk tes serta vaksin yang digunakan sekarang masih efektif untuk mendeteksi dan memproteksi COVID-19, termasuk untuk mutan yang kemungkinan ada.

Apakah boleh dokter mengizinkan pasien tidak memakai masker lagi setelah divaksin COVID-19? 

Setelah vaksinasi tetap harus melaksanakan protokol kesehatan. Vaksinasi bukan menggantikan protokol kesehatan. Jika penularan COVID-19 dianggap sudah terkendali, pemerintah akan memberi petunjuk untuk mengurangi protokol kesehatan 

Berapa lama setelah vaksinasi terjadi serokonversi dan seroproteksi? 

Setelah penyuntikan pertama pada hari ke-14 sudah terjadi serokonversi dan seroproteksi. Untuk vaksin Sinovac® titer antibodi neutralisasi paling tinggi 14 hari setelah suntikan kedua, sehingga mampu mengurangi risiko penularan COVID-19

Bagaimana peran imunitas seluler pada infeksi COVID-19? 

Imunitas seluler berperan dalam eliminasi SARS-CoV-2 disamping imunitas humoral. Penelitian vaksin pada uji klinis biasanya bukan hanya menilai imunogenisitas dalam bentuk antibodi neutralisasi, tapi juga fungsi sel T secara tidak langsung dengan mengukur sitokin yang dihasilkan pada sel T helper 1. Jika T helper 1 berfungsi baik, biasanya efektivitas vaksin tinggi. 

Mengapa hasil uji klinis vaksin Sinovac® di Turki, Brazil dan Indonesia berbeda-beda? 

Hasil suatu penelitian memang dapat berbeda bila dilakukan di tempat dan waktu yang tidak sama, meskipun menggunakan jenis vaksin yang sama. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh besarnya subjek dan karakter subjek yang mengikuti penelitian tersebut serta paparan virus pada populasi tersebut.

 

EFEK SAMPING VAKSIN 

Bagaimana tingkat keamanan vaksin-vaksin COVID-19 yang tersedia? 

Pada umumnya semua vaksin yang sedang menjalani uji klinik tahap 3 atau yang sudah mendapat EUA keamanannya baik.

Bagaimana risiko antibody dependent enhancement (ADE) pasca pemberian vaksin COVID-19? 

Risiko ADE dilaporkan terjadi pada vaksin Dengue. Untuk vaksin COVID-19 dari semua penelitian di berbagai senter saat ini tidak ada laporan kejadian ADE. Kejadian ADE dipantau pada semua uji klinik, terutama pada uji binatang.

Apa standard operating procedure (SOP) yang harus diikuti penerima vaksin setelah divaksin? 

Jangan langsung pulang, tunggu sekitar 30 menit di ruang pemantauan. Jika ada reaksi, lapor petugas. Jika setelah 30 menit tak ada keluhan apapun akan diizinkan petugas untuk pulang.

Bagaimana cara mengatasi syok anafilaksis pasca vaksin? Apakah pasien yang pernah mengalami anafilaksis pada pemberian vaksin lain dapat diberikan vaksin COVID-19? Apa langkah yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah anafilaksis pasca vaksin ini? 

Anafilaksis dapat terjadi pada pemberian obat dan vaksin apapun. Sebagai standar, kit anafilaksis tentu harus disiapkan setiap memberikan vaksin. Mereka yang pernah mengalami anafilaksis atau reaksi alergi berat harus mendapat pemantauan ketat di tempat yang dianggap mampu mengatasi.  Mereka yang pada suntikan pertama mengalami anafilaksis tidak  akan diberikan suntikan kedua.

Jika terjadi kejadian reaksi alergi lokal berupa kulit kemerahan saja apakah perlu diterapi? 

Reaksi kemerahan di kulit biasanya akan hilang sendiri, namun boleh diberikan terapi simtomatik 

Apa efek samping vaksin COVID-19 yang sering ditemukan? 

Efek samping lokal contohnya kemerahan, nyeri tempat suntikan, bengkak. Efek samping sistemik contohnya sakit kepala, mialgia, fatig, ada juga yang suhunya naik tetapi tidak tinggi. Efek samping ini umumnya membaik sendiri.

Bagaimana pemantauan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) biasa dilakukan, terutama pada vaksin darurat seperti COVID-19 ini?  

KIPI adalah bagian dari proses vaksinasi yang selalu dipantau pada vaksinasi apapun. Untuk vaksin jenis baru, pemantauan akan lebih ketat karena efek samping yang mungkin timbul pada vaksinasi massal mungkin akan lebih banyak daripada efek samping yang ditemukan pada uji kilnik.

Apakah KIPI sama dengan efek samping? 

KIPI adalah semua kejadian yang terjadi setelah 28 hari pasca-vaksinasi. Kejadian tersebut dapat berhubungan atau tidak ada hubungannya dengan vaksinasi. Jadi cakupan KIPI lebih luas daripada efek samping 

Apa saja contoh KIPI yang kerap terjadi? 

KIPI yang dapat terjadi dapat berupa efek samping lokal atau sistemik atau kejadian lain yang terjadi dalam 28 hari setelah vaksinasi.

 

KELOMPOK YANG DIVAKSIN DAN KONDISI KHUSUS 

Penyakit penyerta sebenarnya bukan kontraindikasi mutlak dilakukan vaksinasi. Yang menjadi kontraindikasi adalah riwayat alergi berat pada vaksin COVID-19 sebelumnya atau salah satu komponen dari vaksin COVID-19. Kondisi-kondisi yang disebutkan dalam rekomendasi PAPDI masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut. Rekomendasi tersebut bersifat dinamis dan akan terus diperbarui. (Lihat Rekomendasi Baru PAPDI tentang Pemberian Vaksinasi COVID-19)

Apakah ibu hamil atau ibu menyusui dapat diberikan vaksin COVID-19? 

Belum ada data tentang kemanan dan efektivitas pada kelompok ini sehingga sementara belum akan divaksinasi, menunggu data yang diperlukan. Pemerintah Amerika dan Inggris saat ini sudah menyuntik jutaan orang, sebagian di antaranya ada yang hamil. Kita perlu menunggu laporan pengalaman dari negara tersebut karena memang uji klinis tidak mungkin dilakukan pada kelompok tersebut. 

Apakah pasien diabetes melitus dalam terapi namun tidak periksa HBA1C boleh diberikan vaksin COVID-19? 

Pasien diabetes terkendali boleh divaksinasi. Pada kasus diabetes yang saat tahap awal tidak bisa mengikuti vaksinasi karena belum terkendali, bisa mengikuti vaksinasi pada tahap berikutnya.

Apakah pasien lupus eritematosis sistemik (LES) atau penyakit autoimun lainnya yang sudah terkontrol dengan pengobatan dapat diberikan vaksin COVID-19? 

Belum ada data, masih menunggu data tentang kemanan dan efektivitas vaksin COVID-19 pada penyintas autoimun sistemik. Untuk vaksin yang lain pada penyakit autoimun sebenarnya para ahli masih mempunyai pendapat yang berbeda. 

Jika sudah pernah kena COVID-19, apakah saya perlu divaksin juga? Bukankah antibodi yang terbentuk setelah kena COVID-19 hanya bertahan 3-4 bulan? Jika memang akan divaksin, berapa lama sejak swab dinyatakan negatif? 

Penyintas COVID-19 divaksinasi pada saat antibodi sudah tak mempunyai daya lindung lagi. Berapa lama masa tersebut masih dalam penelitian. Namun pada prinsipnya akan dilakukan vaksinasi kemudian.

Pada pasien hipertensi, berapa batas tekanan darah untuk dapat diberikan vaksinasi COVID-19 ini? 

Hipertensi terkontrol dengan batasan <180/110 mmHg (dengan atau tanpa obat) 

Apakah semua pasien HIV atau imunodefisiensi lainnya tidak direkomendasikan untuk diberikan vaksin COVID-19? Bagaimana jika virus HIV sudah tidak terdeteksi dalam terapi antiretroviral? 

Pada pasien HIV, vaksin COVID-19 sebaiknya diberikan ketika jumlah CD4 lebih dari 200 sel/mm3 dengan klinis baik dan tidak ada infeksi oportunistik. Kadar viral load tidak menjadi pertimbangan tersendiri.

 

MASALAH PRAKTIS PELAKSANAAN VAKSIN 

Apakah vaksin COVID-19 bisa digunakan bersamaan dengan vaksin lainnya? Jika tidak, berapa lama jarak antara vaksin COVID-19 dengan vaksin jenis lainnya, misalnya hepatitis B yang diberikan 3 kali? 

Sebenarnya boleh, namun karena vaksin baru dan perlu pengamatan ketat untuk KIPI, sebaiknya jangan diberikan bersamaan dengan vaksin lain dulu. Disarankan diberikan jarak minimal 1 bulan. Untuk vaksin hepatitis B, yang diutamakan adalah vaksin pertama dan kedua yang akan meningkatkan antibodi. Suntikan ketiga boleh dimundurkan 1 bulan jika sekiranya bertepatan dengan jadwal vaksin COVID-19. 

Pada pemberian Sinovac®, bagaimana jika kita tidak dapat melaksanakan suntikan kedua pada hari ke-14, misalnya karena sakit atau ada halangan lain? 

Suntikan kedua dapat diberikan paling lambat 28 hari setelah suntikan pertama. Jika dilakukan setelah 28 hari kemungkinan, titer antibodi neutralisasi yang terbentuk mungkin kurang.

Apakah ada pemeriksaan sebelum dan sesudah vaksin COVID-19? Apakah sebelum vaksin COVID-19 perlu dilakukan swab PCR atau antigen? Apakah sesudah 2 kali vaksin perlu diperiksa kadar antibodi SARS-CoV-2? 

Pada vaksinasi untuk masyarakat, pemeriksaan tersebut tidak diperlukan. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut hanya dilakukan pada uji klinik atau penelitian 

Apakah ada obat yang tidak boleh dikonsumsi sebelum pemberian vaksin COVID-19?

Obat yang dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh, seperti misalnya sitostatika dan steroid dosis tinggi, sebaiknya tidak diberikan vaksin COVID-19

Apakah setelah diberikan vaksin COVID-19, dapat menyebabkan tes rapid antibodi reaktif? Bagaimana membedakannya dengan orang yang tes rapid reaktif tanpa vaksinasi? 

Kemungkinan imunoglobulin M dan G akan naik. Dibedakannya melalui anamnesis. 

Apakah ada tanda-tanda vaksin COVID-19 yang kita berikan berhasil membentuk antibodi yang memproteksi atau tidak? 

Pemeriksaan kadar antibodi hanya dilakukan pada uji klinik. Pada imunisasi massal tidak perlu dilakukan pemeriksaan kadar antibodi 

Apakah boleh jika vaksin COVID-19 pertama diberikan jenis A, sedangkan yang kedua jenis B, dua vaksin yang berbeda? 

Pada prinsipnya sebaiknya vaksin yang digunakan sama. Untuk vaksin dengan jenis yang berbeda, harus ada uji klinik dahulu.***

(ymr | Foto Pixabay)

Video Lansia:

 

Geriatri,Lansia,PAPDI,vaksin, covid-19,sinovac,geriatri,lansia sehat,lansia bahagia,lansia online,merawat lansia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Mobil-Mobil ini Mungkin Cocok untuk Lansia

Cara Penggunaan Tongkat agar Tetap Seimbang

Jangan Diabaikan, Ini 7 Tanda Lansia Kekurangan Protein

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026