
Geriatri.id--Hasil uji klinis tahap I dan II vaksin Covid-19 Sinovac terhadap penduduk lanjut usia (lansia), 60 tahun ke atas di China menunjukkan bahwa vaksin aman menimbulkan respons kekebalan pada lansia sehat. Uji klinis itu melibatkan 422 orang dewasa berusia 60 tahun ke atas di kota Renqiu, Provinsi Hebei China Utara antara Mei dan Juni 2020.
Melansir Global Times, hasil uji klinis vaksin Sinovac terhadap orang dewasa berusia 60 tahun ke atas itu terbit di jurnal medis Lancet Rabu (3/2/2021). (PDF). Uji klinis itu merupakan program dari pusat penelitian dan pengembangan China serta program sains dan teknologi beijing.
Kemanjuran vaksin biasanya berkurang pada lansia karena proses penuaan sehingga kekebalan tubuhnya pada lansia. Tetapi temuan menunjukkan vaksin Sinovac dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh dan imunogenik pada lansia sehat berusia 60 tahun ke atas.
Beberapa efek samping yang muncul dari vaksin Covid-19 itu berada pada level ringan atau sedang. Reaksi yang paling sering dilaporkan adalah nyeri tempat suntikan, yang terjadi di antara 39 peserta, dan demam, yang terjadi di antara 14 orang. Sebagian besar reaksi merugikan terjadi dalam tujuh hari setelah vaksinasi dan peserta pulih dalam waktu 48 jam.
Presiden Asosiasi Industri Vaksin China, Feng Duojia, mengatakan pemberian vaksin terhadap lansia tetap harus menunggu uji klinis tahap III dan persetujuan dari otoritas China.Uji klini tahap II ini berfokus pada pemantauan antibodi, sedangkan tahap III mengevaluasi tingkat pengurangan risiko vaksin.
Sebelumnya, pemerintah China menetapkan vaksin Sinovac akan diberikan kepada penduduk berusia 18-59. Profesor dari Universitas Jilin, Jiang Chunlai, mengatakan kelompok lansia seharusnya menjadi prioritas vaksinasi. Meski menjadi prioritas, pemberian vaksin terhadap lansia harus ekstra hati-hati. “Uji klinis pada orang tua harus lebih diawasi,” kata Jiang.
Pemberian vaksin terhadap lansia menjadi sorotan ketika muncul kasus di Norwegia. Otoritas Norwegia telah menyatakan bahwa kematian lansia bukan disebabkan karena pemberian vaksin. Pemberian vaksin terhadap lansia juga menjadi sorotan ketika sejumlah lansia di Spanyol kembali postifi Covid-19 setelah mendapat vaksin dosis pertama. (Baca juga: Lansia Renta dan Vaksin Covid-19, Berkaca dari Kasus di Norwegia).
Vaksin yang digunakan di Norwegia dan Spanyol menggunakan teknologi mRNA yang membuat sel tubuh memproduksi protein yang memicu respons imun. (Understanding mRNA COVID-19 Vaccines). Sementara vaksin Sinovac masih menggunakan cara memasukkan virus yang sudah dilemahkan.
Wakil direktur departemen biologi patogen di Universitas Wuhan, Yang Zhanqiu, percaya bahwa vaksin dengan virus yang dilemahkan paling aman untuk orang tua dan sedikit efek sampingnya. Hanya sedikit kemungkinan mengalami kejadian ekstrem seperti kematian dengan penggunaan vaksin virus korona yang tidak aktif. (ymr)
*Foto Pixabay
Baca juga:
Lansia Akan Divaksin Pada Maret-April
Opa-Oma, Yuk Kita Pahami Apa Itu Efikasi Vaksin
BPPOM Terbitkan Izin Darurat Penggunaan Vaksin COVID-19 Sinovac
MUI Tetapkan Vaksin Covid-19 Sinovac Halal dan Suci
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri