Mengenal Delirium, Gejala Baru Covid-19 pada Pasien Lansia


Berita Lansia - Sebuah studi menyatakan delirium menjadi gejala baru Covid-19, khususnya pada kelompok lanjut usia atau lansia.

2020-12-12 09:50:57

Geriatri.id--Sebuah studi menyatakan delirium menjadi gejala baru Covid-19, khususnya pada kelompok lanjut usia atau lansia. Gejala ini ditemukan setelah mengamati pasien yang positif terinfeksi Covid-19.

Berdasarkan studi yang dipublikasi dalam Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy, ditemukan adanya kaitan antara virus Corona COVID-19 dengan otak sebagai sistem saraf pusat.

Peneliti dari Universitat Oberta de Catalunya (UOC) Spanyol menemukan adanya indikasi bahwa virus tersebut mempengaruhi sistem saraf pusat, hingga mengakibatkan perubahan pada neurokognitif seperti delirium dan sakit kepala.

"Delirium adalah keadaan kebingungan yang menyebabkan seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi," ujar peneliti Javier Correa. “Kita perlu waspada, terutama dalam situasi epidemiologis seperti ini, karena seseorang yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan mungkin indikasi infeksi virus corona”.

Para peneliti menegaskan bahwa gejala delirium bisa muncul bersamaan dengan gejala COVID-19 lainnya seperti kehilangan kemampuan indra perasa dan penciuman serta sakit kepala. Gejala ini bisa muncul lebih awal sebelum batuk dan sesak napas.

Gejala delirium yang umum, antara lain sulit fokus, suka melamun, daya ingat menurun, kesulitan berbicara, dan berhalusinasi. Perubahan kognitif lainnya juga menyebabkan mudah tersinggung atau mood berubah mendadak, sering gelisah, dan pola tidur berubah.

Secara harfiah delirium adalah perubahan tiba-tiba yang terjadi pada fungsi mental seseorang. Gangguan ini menyebabkan perubahan cara berpikir dan perilaku serta tingkat kesadarannya. 

Delirium juga mempengaruhi kemampuan berkonsentrasi, berpikir, mengingat, dan pola tidur seseorang. Delirium dapat terjadi akibat penuaan, keracunan alkohol, konsumsi obat-obatan tertentu, dan kondisi medis yang mendasari.

Para ahli dan dokter telah mengidentifikasi penyakit ini dan menggolongkan dalam 3 jenis, yaitu: 

  1. Delirium hiperaktif yang ditandai dengan kegelisahan, agitasi, perubahan suasana hati yang cepat atau halusinasi, dan penolakan untuk bekerja sama. 

  2. Delirium hipoaktif, diketahui dengan sikap yang tidak seaktif biasanya atau berkurangnya aktivitas motorik, kelesuan, rasa kantuk yang tidak normal, atau tampak linglung pada seseorang 

  3. Delirium campuran yang memiliki tanda dan gejala yang sama antara delirium hiperaktif dan hipoaktif. Seseorang dapat dengan cepat beralih dari keadaan delirium hiperaktif ke hipoaktif. (ymr)

*Foto Pixabay

lansia,covid19,delirium,merawat lansia,virus corona,geriatri,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026