
Geriatri.id - Tahun 2008 hingga tahun 2018 bisa jadi merupakan tahun-tahun 'neraka' bagi kehidupan Liana Caroline. Bagaimana tidak, di tahun-tahun tersebut, dia mendadak harus mengemban tanggung jawab merawat kedua orang tuanya yang menderita Alzheimer atau pikun.
Semua bermula di tahun 2008 ketika ibunda Liana, yang seorang guru, pensiun dari pekerjaannya.
"Mama pensiunan guru nggak ngapa-ngapain, pertama saat itu saya anggap mama reseh, tanya berulang kali, menuduh saya mencuri uang, padahal dia lupa menaruh dompet, salah mengambil keputusan," kata Liana di sesi Lansia Online (LOL) bertema: 'Merawat Lansia Dengan Hati' yang dihelat Geriatri.id, Minggu (29/11) lalu.
Kondisi ini kemudian mulai membuat Liana merasa terganggu dan mempengaruhi emosinya.
"Saya mengalami pergolakan batin, saya banyak mencaci maki orang tua, banyak kata-kata tak pantas yang saya utarakan, karena memang nggak nyambung, jadi saya marah dan keluar kata-kata tidak baik," kata Liana.
Kondisi ini memuncak memasuki tahun 2017. Ketika itu, mama Liana mengalami serangan stroke.
"Serangan stroke pertama saya bawa ke UGD sudah tidak bisa komunikasi dua arah, semua gula darah, kolesterol juga tinggi sehingga memicu serangan stroke," jelasnya.
Dari kakaknya yang bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta, Liana juga disarankan membawa sang ibunda ke psikiater.
Dari pemeriksaan psikiater, akhirnya Liana mengetahui bahwa sang ibu memang menderita alzheimer vascular yang disebabkan oleh serangan strokenya.
Berita Lansia:
LANSIA ONLINE, Kelas Kesehatan dari Rumah
Bila Lansia Sakit, Begini Cara Tepat Merawatnya
3 Kunci Sukses Agar Lansia Sehat, Apa Saja?
Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia Tanpa Kerentaan
Ini menjadi pukulan kedua bagi Liana, karena sebelumnya di tahun 2015, ayahanda Liana juga didiagnosa menderita Alzheimer vascular akibat adanya gangguan jantung.
"Dia pasang ring ada 3 yang tersumbat yang bisa dipasang hanya 2 dan sebelumnya juga punya riwayat stroke ringan, jadi faktor risiko itu memang ada," katanya.
Sebagai anak pertama, apalagi adiknya nomor dua yang laki-laki tinggal dan bekerja di Medan, jauh dari Jakarta, maka Liana pun akhirnya 'terpaksa' mengambil tanggung jawab merawat kedua orang tuannya yang menderita alzheimer.
Pergulatan batin bukannya tidak ada untuk menyerah pada keadaan. Liana mengaku pernah memutuskan untuk menyerahkan perawatan orang tuanya ke panti jompo.
"Ada perasaan benci ketika itu, saya berpikir mereka telah merusak masa depan saya, saya nggak bisa kemana-mana, saya nggak kuat ingin taruh mereka di panti jompo, adik-adik saya menangis dengar keputusan saya, karena mereka tahu saya orangnya keras kalau sudah ambil keputusan harus dilaksanakan," kata Liana.
Sempat menyurvei beberapa panti, namun akhirnya, ada suatu kejadian yang membuat Liana memutuskan untuk menuruti panggilan hati nuraninya merawat kedua orang tuanya.
Suatu ketika pada kesempatan pergi ke Bali, Liana 'terdampar' di sebuah perbukitan di kawasan Ubud yang asri. Di sanalah Liana 'berkomunikasi' dengan Tuhan.
Dalam keluh kesahnya, tiba-tiba terlintas episode demi episode dalam hidupnya dimana ibu dan ayahnya merawatnya dengan penuh kasih sayang.
"Tuhan membuka hati saya, membalikkan hati saya dengan secepat ini, walaupun saat itu, saya sudah putusin mau masukkan ke panti jompo," ujarnya.
Dalam perjalanannya merawat kedua orang tua penderita alzheimer, Liana mencoba mencari-cari orang-orang yang mengalami situasi dan kondisi yang sama untuk saling berbagi pengetahuan maupun perasaan. Dari upayanya itulah, dia kemudian berkenalan dan kemudian bergabung dengan Yayasan Alzheimer Indonesia (ALZI).
Liana kemudian ikut aktif dalam setiap pertemuan yang digelar ALZI di tahun-tahun 2018.
"Saat itu mama masih bisa diajak, mulai dari masih bisa memakai tongkat sampai akhirnya pakai kursi roda," kisah Liana.
Dia mengaku, awalnya tergabung dengan ALZI, agar tidak gamang.
"Saya harus mencari komunitas yang mengerti, senasib, sepenanggungan, akhirnya di instagram saya muncul akun ALZI, saya ikut, saya hubungi ketemu ibu Tuti, saya datang ke pertemuan sebulan sekali di Pondok Indah, sebelum masa pandemi. Dari situ saya tahu saya tidak sendiri, akhirnya saya merasa ada teman," paparnya.
Sejak tahun 2019, Liana memutuskan untuk bergabung sebagai relawan ALZI. Kini selain berbagi pengetahuan dan perasaan bersama ALZI, Liana juga mulai merambah ke dunia sosial media.
Dengan akun youtube miliknya, 'ODD Journey and Diary', Liana juga berbagai pengetahuan dan pengalaman merawat ibu dan ayahnya.
"Saya bikin video mulanya supaya nggak capek menjelaskan ke adik-adik, keluarga tentang kondisi papa dan mama, juga berbagi pengetahuan, saya mendapatkan banyak pengetahuan dari ALZI dan saya ingin giving back, ke caregiver di luar sana yang membutuhkan. Juga untuk kolase, kalau suatu saat beliau pergi, saya bisa play back kenangan bersama mama," katanya.*** (mag)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri