
Geriatri.id - Sebagai orang tua, baik sebagai orang tua bagi anak-anak atau kakek-nenek bagi para cucu, parenting adalah sebuah peran yang harus dijalani. Neurosemantic Trainer Prasetya M. Brata mengatakan, sebagai orang tua, baik itu ayah-ibu, om-tante, kakek-nenek, parenting adalah sebuah tugas.
"Orang tua itu merupakan sebuah peran, tugasnya meng-orangtuai, atau parenting. Tetapi banyak orang yang kemudian belajar sana-sini tentang parenting. hanya fokus pada 'ting'-nya saja," ujar Pras, di acara live Instagram bersama Melly Kiong dari komunitas eMKa Menata Keluarga, beberapa waktu lalu.
Pras mengatakan, banyak orang yang kemudian lupa bagaimana cara berkomunikasi sama anak, bagaimana membuat anak itu menurut. Lupa bahwa unsur dalam parenting itu minimal ada 3, yaitu: parent, si diri orang tuanya, kemudian siapa yang mau di-orangtuai. "Kemudian baru 'ting' yang sifatnya operasional," ujar Pras.
Akibatnya, banyak orang tua secara tak sadar melakukan apa yang disebut sebagai 'manipulative parenting'. "Karena dirinya belum beres dengan trauma masa lalu, dimana dulu dia dididik dengan cara yang menimbulkan trauma pengasuhan oleh orang tuanya, ketika parenting diterapkan kepada anaknya, bukannya anak jadi baik malahan jadi jelek karena korban dari trauma, pikiran, dan frame masa lalu," kata Pras.
Di saat orang tua di masa lalu mempunyai harapan, cita-cita, impian yang tidak tercapai karena waktu itu tidak diperbolehkan sama orang tuanya, tanpa dia sadari dia memproyeksikan hal-hal itu kepada anaknya. Padahal, boleh jadi lingkupnya sudah berbeda, waktunya, tempatnya, intensinya berbeda.
"Karena ada dendam masa lalu, kemudian orang tua itu tidak membereskannya, saat dia belajar cara berkomunikasi dengan anak, tanpa disadari dia berkomunikasi supaya anaknya memenuhi hasrat dirinya di masa lalu yang tidak tercapai," papar Pras.
Orang tua yang belum membereskan dirinya yang menjadi korban, sehingga anaknya kemudian menjadi korban dari orang tua. Inilah yang bernama manipulative parenting. "Saat melakukan manipulative parenting, kita tidak memberesi diri kita, tapi belajar kepada para ahli tentang parenting, dalam rangka supaya anak manut pada dirinya. Anak itu kemudian menjadi cetakan dari dirinya," tegasnya.
Agar dapat terhindar dari melakukan manipulative parenting, sebelum kita berkata-kata, yang kita perlu pahami siapa diri kita. Setelah memahami diri kita adalah memahami anak yang perlu kita ajak bicara. "Kata-kata yang sama yang kita ucapkan kepada anak yang lain yang berbeda pola pikirnya, hasilnya bisa berbeda. Pemahaman ini tidak khusus kepada anak, ini adalah dasar komunikasi secara umum,"ujar Pras. (mag)
foto: orang tua memarahi anak (pexels)
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri