Pengabdian Sepanjang Hayat dr. Sedijono (2)


Berita Lansia - Tahun 1978 dr. Sedijono mulai berpraktik dokter di luar dinas AU.

2020-08-19 16:57:00

Geriatri.id - Mendampingi seorang suami yang seorang dokter, sekaligus seorang anggota TNI, bukanlah sesuatu yang mudah bagi Siti Apsari. Saat sang suami dr. Sedijono, harus pergi bertugas, dia hanya bisa menunggu dan terus berdoa untuk keselamatan sang suami.

Toh, kata perempuan kelahiran Jakarta, 6 Februari 1944 itu, tak selamanya pengalaman menunggu suami yang pergi bertugas adalah pengalaman yang menakutkan. "Ada juga kejadian yang lucu menurut saya," ujarnya kepada Geriatri.id.

Salah satu yang diingat Siti, adalah saat dr. Sedijono harus bertugas menumpas gerombolan PGRS/Paraku di perbatasan Sabah-Sarawak.

Saat itu, pasangan yang menikah pada 17 Agustus 1964 ini, baru saja dikarunai seorang putri yang usianya baru beberapa bulan ketika dr. Sedijono harus meninggalkan mereka karena panggilan tugas.

"Bapak tugas selama enam bulan, itu di tahun 1966, kami baru punya putri usianya baru beberapa bulan. Yang lucu adalah, ketika Bapak pulang, putri saya takut melihat bapaknya sendiri, jadi nggak kenal," kisah Siti Apsari.

Dia mengakui, kekhawatiran pasti ada saat ditinggal bertugas sang suami. Selain waktu bertugas ke Kalimantan dan wilayah lain di nusantara, Siti juga pernah ditinggal tugas belajar oleh dr. Sedijono saat belajar ke Amerika Serikat dan Inggris.

Namun, semua kekhawatiran itu, dia tepis dengan berbagai kesibukannya sebagai dokter gigi.

Siti adalah dokter gigi yang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga, namun menyelesaikan pendidikannya di Universitas Indonesia, karena setelah menikah dengan dr. Sedijono, dia ikut sang suami tinggal di kawasan Halim, Cililitan, Jakarta.


"Saat Bapak tugas ke Kalimantan, saya masih kuliah juga, jadi tidak perlu terlalu khawatir," ujar Siti.

Berita Lansia:

LANSIA ONLINE, Kelas Kesehatan dari Rumah

Bila Lansia Sakit, Begini Cara Tepat Merawatnya

3 Kunci Sukses Agar Lansia Sehat, Apa Saja?

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia Tanpa Kerentaan

Siti dan dr. Sedijono saling mengenal sejak kecil ketika mereka sama-sama tinggal di Madiun.

"Mulai kenal saat saya masih di SD kelas 3, Bapak sudah SMP. Kita pernah sama-sama menyanyi seriosa, saya juga pernah juara di RRI," kisah Siti.

Hubungan mereka berlanjut saat kuliah karena dr. Sedijono mengambil jurusan kedokteran umum di Universitas Airlangga dan Siti menyusul kemudian mengambil jurusan kedokteran gigi di kampus yang sama. "Kebetulan kampusnya berdekatan," ujar Siti.

Hingga suatu ketika, dr. Sedijono memberikannya kejutan. Tanggal 17 Agustus 1964, Siti yang baru kuliah di tingkat 2, diajak mudik ke Madiun oleh Sedijono.

Tanpa ada pikiran apa-apa dia menurut saja, karena saat itu toh mereka memang libur kuliah. Tapi tak dinyana, momen itu dimanfaatkan Sedijono untuk melamar Siti dan langsung mengajaknya menikah.

"Orang tua mengizinkan kami menikah, hanya mereka titip kuliah saya harus selesai. Tingkat 3 karena Bapak menjadi anggota TNI AU, kami pindah ke Halim, dan saya meneruskan kuliah di UI sampai selesai, saya menamatkan di bidang pembuatan gigi," ujar Siti.

Pasca mengabdi sebagai dokter di TNI AU, dr. Sedijono sendiri kemudian berpraktik umum.

Sebelumnya saat masih aktif, dia mendapatkan sempatan menjalani pendidikan kedokteran spesialis penyakit dalam di FKUI tahun 1970, dan di Amerika Serikat.

Tahun 1987, dr. Sedijono berkesempatan mengikuti kursus geriatri di Inggris.

Tahun 1978 dr. Sedijono mulai berpraktik dokter di luar dinas AU.

"Saya nggak pernah menentukan tarifnya, semampu mereka saja. Kalau mampu silakan bayar, kalau tidak mampu tidak apa-apa, saya justru berterimakasih kepada mereka, saya diberi kesempatan untuk menolong," ujar dr. Sedijono.

Enday, tetangga dr. Sedijono di kawasan Semplak Bogor--dimana dr. Sedijono tinggal sejak tahun 1985-- mengatakan, sang dokter memang sosok dokter yang baik dan bijaksana.

"Dia mah tekun ibadahnya, tetangga kalau berobat sama dia nggak usah bayar, kalaupun ada yang mau membayar dia juga nggak mau dibayar, orangnya sederhana, kemana-mana aja naik sepeda dia mah,"ujar Enday.


Tak heran dengan sikapnya yang ramah, banyak orang yang merasa cocok untuk 'berobat' kepada dokter Sedijono.

Asistennya di klinik Kimia Farma bercerita, pasien dr. Sedijono bahkan ada yang berasal dari Papua dan sebulan sekali pasti datang menyempatkan diri sekadar untuk berkonsultasi dengan sang dokter.

"Ya kalau ditanya kenapa mau jauh-jauh datang, alasannya cocok," ujarnya.

Dengan usianya yang merambat senja, dr. Sedijono sendiri tak berkeinginan untuk 'pensiun' dari tugasnya merawat kesehatan masyarakat, khususnya lansia.

"Saya masih banyak kekurangan, dan selama masih diberi kesempatan untuk hidup saya akan terus berusaha berbuat kebaikan," ujarnya.  

Dia pun punya pesan khusus kepada para lansia di Indonesia.

"Lansia di Indonesia, sadarlah, kita diberi anugerah berumur relatif panjang, karenanya disyukuri, kalau kesehatan terganggu, kemampuan berkurang, terimalah apa adanya, jangan mengeluh, jangan menyalahkan orang lai. Bersyukurlah, kalau kita bisa menerima kekurangan yang kita miliki, maka rasa tidak nyaman itu akan pergi," pungkasnya.*** (mag)

Foto: dr Sedijono dan istrinya Siti Apsari (geriatri.id)

Video Lansia:

 

lansia,merawat lansia,lansia sehat,geriatri,dr sedijono,berita lansia,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026