Pengabdian Sepanjang Hayat dr. Sedijono (1)


Berita Lansia - dr. Sedijono sebenarnya juga masih aktif berpraktik sebagai dokter geriatri.

2020-08-17 13:54:25

Geriatri.id - Di usianya yang sudah mencapai 82 tahun, dr. Mohammad Sedijono, SpPD, K-Ger, masih terlihat sangat bugar. Saat geriatri.id bertandang ke kediamannya yang asri di kawasan Semplak, Bogor, Kamis 13 Agustus lalu, sang dokter tampak tengah asyik mengepel lantai rumahnya. Dan begitulah memang kebiasaannya hampir setiap hari.

"Saya biasa bangun pagi sebelum subuh, setelah salat subuh, saya mengepel rumah, membersihkan rumah setelah itu saya kalau menyapu atau membersihkan rumput, setelah itu mandi dan berangkat memberikan kuliah secara daring, atau kalau ada pasien setelah mengajar saya ke tempat praktik. Kalau tidak hujan saya pergi naik sepeda," ujar pria kelahiran Madiun, 22 November 1938 itu. 

Bersepeda? Yup. Sang dokter yang juga mantan dokter tentara di TNI AU itu memang masih sanggup bersepeda menempuh jarak kurang lebih 20-an kilometer pergi pulang dari rumahnya, menuju ke tempat praktik di Kimia Farma di kawasan Jalan Merdeka, hingga ke tempat dia menumpang memberikan kuliah secara daring kepada mahasiswanya di kawasan Jalan Paledang.

Di rumahnya, dr. Sedijono memang tidak memasang jaringan internet, maka untuk mengajar atau menguji mahasiswanya, di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) Jakarta, dia menumpang internet di kantor koleganya di Paledang. Seperti pagi itu, dr. Sedijono juga punya jadwal menguji seorang mahasiswa. 

Pagi sekira pukul 8.30, dengan menggunakan helm, masker, kacamata anti debu, dia beragkat menggunakan sepeda yang setia menemaninya sejak tahun 1980-an, menyusuri jalanan di kota Bogor. Tujuan pertama adalah klinik di Kimia Farma. Hari itu dia ada janji untuk memeriksa seorang pasien di pagi hari.

Kelar melayani satu orang pasien yang memang dijadwal pagi itu, dr. Sedijono segera bergegas memancal sepedanya menuju Jalan Paledang untuk sidang ujian seorang mahasiswanya.

Sekira satu jam menguji, dia kembali bersepeda menuju klinik Kimia Farma. Siang itu cukup banyak pasien yang menunggunya, sehingga agak siang, sang dokter baru selesai melayani para pasiennya.

Selain di klinik, dr. Sedijono sebenarnya juga masih aktif berpraktik sebagai dokter geriatri (dokter yang menangani pasien lansia) di RS Hermina Bogor.

"Tetapi karena umur, yang di atas 65 tahun, diminta tinggal di rumah, kalau ada pasien dilayani dengan telemedicine, atau kalau ada perjanjian baru saya ke sana," jelasnya.

Berita Lansia:

LANSIA ONLINE, Kelas Kesehatan dari Rumah

Bila Lansia Sakit, Begini Cara Tepat Merawatnya

3 Kunci Sukses Agar Lansia Sehat, Apa Saja?

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia Tanpa Kerentaan

Bersepeda dengan jarak yang cukup jauh bagi dr. Sedijono memang bukan halangan yang berat. Pasalnya, memang dia hobi bersepeda sejak kecil.

"Saya senang naik sepeda sejak kecil saat di Madiun. Saya biasa bersepeda hingga Borobudur, atau kalau ke arah timur bisa sampai ke Surabaya atau Malang pergi pulang," kisahnya.


Kebiasaan bersepeda ini juga dia lakukan saat studi di Amerika Serikat, tahun 1971.

"Jadi ada perkumpulan ibu-ibu di sana, saya dipinjami sepeda," ujarnya.

Selain sehat, kata dia, tentu saja bersepeda sangat irit. "Karena nggak beli bensin," ujarnya sembari tertawa.

Maka tak heran, jika setelah selesai melakukan seluruh pekerjaannya, dr. Sedijono terkadang pergi bersepeda hingga ke sekitaran kawasan Kebun Raya Bogor.

Dan sepanjang pengalamannya bersepeda dia punya pengalaman yang menurutnya menarik. "Saya ini seringkali ditabrak ibu-ibu," ujarnya. 

Toh, kejadiannya tak pernah terlalu membahayakan, dan dr. Sedijono biasanya hanya tersenyum sembari memaafkan orang yang menabraknya.

"Biasanya nanti yang nabrak tergopoh-gopoh minta maaf, saya senyum saja memaafkan," katanya.

dr. Sedijono sendiri mengaku bersyukur ditakdirkan Tuhan menjadi seorang dokter.

"Kenapa? Karena kalau menjadi dokter, mau mengabdi, mau menolong orang yang kesusahan, tidak harus pergi ke mana-mana, orangnya yang datang. Kalau jadi pejabat publik kan, kalau menolong, dia yang harus mendatangi orang yang hendak ditolong, nah dokter ini ladang pahalanya sudah disediakan tanpa harus kemana-mana," paparnya.

Menempuh pendidikan dokter di Universitas Airlangga, dr. Sedijono lulus di tahun 1965 dan langsung mengabdi sebagai dokter TNI-AU.

"Saat itu jumlah dokter cum sedikit, saya dinas nggak pernah menetap, pos pertama saya di RS Halim, sampai tahun 1978 hampir semua daerah yang ada lapangan terbang TNI AU saya pernah tugas di sana, termasuk di Nias," ujarnya.

Ada beberapa kisah yang berkesan yang dialami dr. Sedijono selama berdinas sebagai dokter TNI AU.

"Di Irian (Papua-red), saya banyak menemukan kasus malaria. Tetapi beda dengan di Jawa, di Jawa kan keluhannya panas dingin. Tapi kalau di sana mereka keluhannya sakit perut. Ini aneh. Nah, setelah diperiksa ketahuan kalau kena malaria limpa mereka membesar jadi disenggol sedikit saja sakit di sekitar perut," ujarnya.

dr. Sedijono sendiri mengaku kagum dengan orang-orang Papua yang menurutnya ramah. "Mereka gampang diajak bersahabat, sebetulnya kalau kita mau belajar memahami mereka, mereka sangat baik," ujarnya,


Tugas berkesan berikutnya adalah saat dia diterjunkan dalam menumpas pemberontakan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS)/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Sebagai dokter tentara, Sedijono yang saat itu masih berpangkat letnan satu, bukan hanya bertugas sebagai dokter tetapi terkadang memimpin pasukan ketika komandan peleton yang sama-sama berpangkat letnan satu berhalangan.

"Karena saya saat itu bersama komandan pasukan yang pangkatnya paling tinggi," ujarnya.

Sedijono menggunakan kedudukannya sebagai dokter untuk mendekati dan merebut hati rakyat agar membantu pasukan dalam menghadapi pemberontakan.

Kebetulan, karena sanitasi yang masih buruk, di sana banyak masyarakat yang terkena penyakit kulit frambosia.

"Kami di dinas militer kebetulan dibekali beragam obat-obatan salah satunya penicilin," kata dr. Sedijono.

Nah, penicilin ini ternyata manjur mengobati frambosia. "Kalau disuntik penicilin, seminggu sudah kering itu lukanya," ujarnya.

Lantaran manjur, maka cerita dari mulut ke mulut tersebar tentang 'keampuhan' sang dokter.

"Akhirnya suatu kali saya belum lagi bangun tidur, ternyata sejak pagi rakyat sudah antre minta diobati," ujarnya. 


Karena tugas dinas militer menggratiskan pengobatan, masyarakat pun senang. Tetapi sekali waktu mereka ada juga keinginan membalas jasa sang dokter. Maka tak jarang ada saja masyarakat yang membawakan ayam, rambutan, talas dan beragam hasil bumi lainnya untuk pasukan TNI. 

Nah, karena merasa dibantu oleh TNI, masyarakat pun bersimpati.

"Saya lapor komandan, bagaimana kalau masyarakat kita jadikan penunjuk untuk mengetahui posisi lawan. Masyarakat pun bersedia, dan akhirnya mereka menunjukkan dimana sarang pemberontak sehingga mudah diatasi," kisah dr. Sedijono.

Tak lupa selama bertugas selama enam bulan di tengah hutan itu, dr. Sedijono juga mendidik masyarakat agar rajin menjaga kebersihan badan, mandi dengan sabun dan sebagainya. Tapi sekali waktu ada juga kejadian dimana orang justru memang harus dibiarkan apa adanya, termasuk soal jarang mandi. 

"Waktu saya tugas di Dili, masih Timor Timur itu, ada pembantu yang membantu mengurus mess, pas kita lewat baunya nggak enak badan dia. Saya perintah piket agar dia dimandikan tiap hari. Tetapi ternyata begitu dimandikan, malamnya dia panas-dingin, saya takut dia meninggal. Akhirnya saya bilang lagi ke piket, sudah biarkan saja nggak usah dimandikan," katanya, sembari tersenyum mengingat kejadian unik itu.***(mag)

Video Lansia:

lansia,lansia sehat,merawat lansia,geriatri,dr sedijono,profil dokter,lansia bahagia,berita lansia,lansia online

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026