
Geriatri.id—Pandemi COVID-19 telah menggeser banyak kebiasaan dalam masyarakat, termasuk dalam bidang kesehatan. Misalnya, layanan kesehatan berbasis daring (online) atau telemedisin yang menjadi pilihan untuk mengjangkau pasien di rumah, termasuk pasien lanjut usia.
Upaya menggalakkan telemedisin tampaknya tak semudah membalikkan telapak tangan. Di Amerika Serikat sekalipun, telemedisin sulit dilakukan terutama bagi pasein lansia selama masa pandemi. Padahal Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan telah merekomendasikan dan mendorong penggunaan konsultasi virtual (video dan audio) yang dapat menjangkau pasien di rumah.
Peneliti dari Divisi Geriatri Universitas California menunjukkan adanya celah di mana telemedisin ini lebih sulit menjangkau lansia di Amerika. Banyak orang dewasa yang lebih tua bersedia dan mampu belajar menggunakan telemedisin selama pandemi.
“Tetapi harus diakui juga bahwa telemedisin ini sulit bagi orang-orang tertentu, misalnya lansia dengan demensia. Klinik dan model perawatan geriatri seperti kunjungan rumah sangat penting,” tulis peneliti Kenneth Lam dalam Jurnal JAMA Network.
Pendapat Lam itu mengacu pada data National Health and Aging Trends Study pada 2018 yang meneliti 4.525 pasien di atas usia 65 tahun. Mereka berusaha mengidentifikasi pola demografis dalam populasi sasaran, dan memahami subpopulasi mana yang kurang lebih siap untuk peralihan perawatan kesehatan ke telemedicine.
Penggunaan telemedicine membutuhkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengoperasikan peralatan teknis, terhubung ke internet, dan memecahkan masalah audio atau visual. Namun banyak pasien yang lebih tua dianggap tidak siap untuk melakukan perubahan ini, catat para peneliti.
Studi ini mendefinisikan 'ketidaksiapan' dalam kunjungan video berdasarkan kriteria mulai dari komunikasi dan gangguan pendengaran hingga akses terbatas / tidak ada ke internet dan teknologi komunikatif lainnya.
Penyelidik melanjutkan dengan mempertimbangkan fakta bahwa konsultasi telepon pada umumnya merupakan alternatif yang diterima untuk kunjungan video telemedicine. Peneliti memperkirakan bahwa pada tahun 2018, 13 juta (38%) dari semua orang dewasa yang lebih tua dianggap tidak siap untuk kunjungan video.
Lalu, bagaimana di Indonesia? Belum ada penelitian mengenai efektivitas telemedisin ini. Pemerintah lewat Kementerian Kesehatan telah memiliki program Temenin alias Telemedicine Indonesia dalam rangka penyediaan konsultasi online di rumah sakit hingga Puskesmas.
Telemedicine atau konsultasi online didefinisikan oleh American Academy of Family Physicians sebagai praktik penggunaan teknologi untuk memberikan pelayanan kesehatan secara jarak jauh. Seorang dokter di satu tempat menggunakan teknologi komunikasi untuk melayani pasien yang berada di tempat lain.
Menurut WHO, praktik telemedicine bisa dibedakan menjadi dua, yakni asinkronis dan sinkronis. Perbedaan keduanya terletak pada pengiriman data terkait yang diperlukan dalam konsultasi online. Dengan telemedicine asinkronis, data pasien bisa dikirim lewat email kepada dokter. Lalu dokter mempelajari data itu untuk kemudian menyampaikan diagnosis.
Sedangkan telemedicine sinkroinis dilakukan dengan cara interaktif secara langsung, misalnya lewat video call. Jadi baik dokter maupun pasien dapat berinteraksi secara langsung untuk konsultasi. Meski demikian, data pasien dapat lebih dulu dikirim ke dokter untuk dijadikan dasar diagnosis yang melengkapi konsultasi online.
Fungsi utama telemedicine adalah mempermudah pelayanan medis oleh fasilitas kesehatan, terutama bagi masyarakat yang sulit terjangkau atau mengakses fasilitas tersebut. Namun dibutuhkan dukungan infrastruktur dan pemahaman mengenai teknologi informasi yang memadai dalam penerapan telemedicine. (ymr)
*Foto pixabay
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri