Cegah Stres Lansia Menopause dan Andropause 


Berita Lansia - "Lansia sebaiknya harus siap mental dengan proses menua itu dengan kondisi psikis yang baik,” kata Hasto dalam dalam Webinar yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Rabu,15 Juli 2020.

2020-07-18 10:27:57

Geriatri.id - Menua merupakan proses alami yang akan dialami semua manusia. Dalam proses ini, manusia akan mengalami penurunan fungsi tubuh seperti penurunan hormon reproduksi sehingga kerap memunculkan stress. 

Gejala psikis yang menonjol pada orang tua adalah sulit tidur, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, mudah cemburu, dan mudah marah.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan banyak orang tua yang mengalami kondisi kurang menguntungkan seperti kesepian, kondisi sosial, ekonomi lemah, dan sakit. Padahal, lansia harus menjalani proses alami menua.

Proses menua adalah proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi.

Proses menua, seperti kulit keriput dan penurunan hormon reproduksi tetap akan datang.

Hasto mengatakan keluarga dan lansia perlu mengetahui perubahan perkembangan reproduksi. 

“Jadi, lansia sebaiknya harus siap mental dengan proses menua itu dengan kondisi psikis yang baik,” kata Hasto dalam dalam Webinar yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Rabu,15 Juli 2020.

Pada perempuan,  penurunan hormon reproduksi dikenal menopause. Proses penurunan hormon estrogen dialami perempuan berusia di atas 49 tahun.

Perempuan yang memasuki fase menopause ditandai dengan rasa lemah, hot flashes (panas di dada), perubahan suasana hati, dan insomnia.

Gejolak panas di dada ketika memasuki masa menopouse kerap membuat perempuan stress. Hot flashes ini seperti rasa panas berada di dekat tungku.

“Jangan merasa penyakit jantung, karena itu bagian dari sindrom menopouse,” kata Hasto.


Perempuan yang memasuki usia menopouse akan mengalami gangguan fungsi seks seperti vagina kering, hubungan seks sakit, lendir sedikit, dan nafsu seks turun.  Jadi, kata Hasto, para suami harus memahami kondisi istrinya. 

Penurunan hormon reproduksi pada laki-laki dikenal  dengan andropause. Penurunan hormon androgen ini ditandai dengan penurunan libido, kekurangan tenaga, penurunan kekuatan otot, sedih dan sering marah tanpa sebab, berkurangnya kemampuan ereksi, dan mudah mengantuk. 

Hasto mengatakan terapi untuk menggantikan hormon estrogen dan androgen tidak harus dalam bentuk obat.

Terapi estrogen dapat diberikan dengan pytoestrogen seperti kacang-kacangan atau bengkoang. Terapi ini dapat mengurangi sindrom menopouse dan andropouse. 

Selain terapi pytoestrogen, olahraga dan aktivitas fisik berperan penting dalam menghadapi proses menua.

Olahraga dapat memperkuat tulang dan membuat orang gembira sehingga mengeluarkan hormon dopamin.

Hormon ini memengaruhi berbagai aktivitas manusia, mulai dari kemampuan mengingat hingga menggerakkan anggota tubuh. 

“Cobalah 30-60 menit berjalan kaki, berenang, atau lari untuk meningkatkan kadar dopamin,” kata Hasto. 

Selain olahraga, tidur juga memberikan dampak positif. Tidur yang baik dan cukup, sekitar 7-8 jam setiap malam bisa menghasilkan dopamin.  (ymr)

*Foto Pixabay

lansia,geriatri,menopouse,lansia sehat,lansia bahagia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Renta Itu Apa? Ketika “Sudah Tua” Bukan Lagi Penjelasan yang Cukup

Singapura Putar Otak Wujudkan Negara Ramah Lansia

Mengapa Nafsu Makan Lansia Sering Menurun?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026