
Geriatri.id - Ketika memasuki usia lanjut, manusia secara alamiah mengalami penurunan fungsi tubuh. Sebagian lansia pun memiliki multimorbiditas atau banyak penyakit kronik degeneratif seperti hipertensi, diabetes, artritis, jantung, stroke, gagal ginjal, dan kanker.
Persatuan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi), Profesor Siti Setiati, mengatakan lansia cenderung memiliki penurunan nafsu makan, berkurangan sistem indera perasa dan penghidu, lambatnya pengosongan lambung.
"Masalah kesehatan ansia lainnya yang perlu diperhatikan adalah penurunan massa, kekuatan, dan performa otot, jatuh dan patah tulang,” kata Profesor Ati dalam Webinar yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), Rabu,15 Juli 2020.
Dengan berbagai masalah kesehatan itu, penting bagi semua orang untuk mempersiapkan agar menjadi lansia sehat. Profesor Ati memberikan 6 cara pencegahan penyakit pada lansia.
1. Pola makan sehat dan berhenti merokok
Pola makan sehat selagi muda sampai memasuki usia lanjut berperan penting menuju lansia sehat.
Kebutuhan nutrisi lansia agar sehat dapat diperoleh dengan makan teratur 3-5 kali sehari. Mengkonsumsi makanan variatif (karbohidrat, lemak baik, protein, buah dan sayur).
Dalam pola makan ini juga perlu mempertimbangkan diet tinggi protein (tergantung penyakit penyerta), membatasi penggunaan gula dan garam tambahan pada makanan.
Hal yang mutlak harus dihindari adalah merokok dan konsumsi alkohol. Merokok merupakan sumber radikal bebas dan menurunkan sistem imun terhadap infeksi.
Merokok pun dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit (jantung, pembuluh darah, paru-paru, kanker, keropos tulang, dan lain-lain. “Dengan berhenti merokok sekitar 4 tahun, risiko demensia juga turun,” kata Profesor Ati.
2. Vitamin dan Mineral
Asupan berbagai vitamin sangat penting mencegah penyakit pada lansia, misalnya Vitamin D. Vitamin ini bersumber dari cahaya matahari, ikan, jamur, kuning telur, dan lain-lain.
Vitamin D dapat meningkatkan penyerapan mineral Kalsium dan Fosfor di saluran pencernaan. Selain itu, vitamin ini dapat meningkatkan kekuatan otot dan tulang.
Vitamin D juga memiliki efek tambahan seperti menurunkan resistensi insulin (Diabetes tipe 2), menurunkan aktivitas RAAS yang berhubungan dengan tekanan darah, meningkatkan imunitas tubuh, serta melindungi diri dari infeksi saluran pernapasan akut.
3. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik sangat diperlukan sebagai bagian dari pencegahan penyakit lansia. Dalam seminggu setidaknya 150 menit aktivitas aerobik tingkat sedang atau 75 menit aktivitas aerobik berat atau ekuivalen dari kombinasi keduanya.
Aktivitas fisik tingkat sedang seperti jalan cepat (> 5km/jam), bersepeda (< 16 km/jam), berkebun, tenis (ganda), senam aerobik, dan lain-lain. Setiap sesi olahraga tersebut berlangsung minimal 10 menit.
Aktivitas fisik yang melibatkan otot-otot besar di tubuh: otot tangan, dada, paha, setidaknya 2 kali seminggu.
Lansia dengan gangguan gerakan: aktivitas fisik setidaknya 3 kali seminggu. Aktivitas fisik untuk lansia sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan keseimbangan tubuh dan menghindari jatuh.
Jika lansia tidak dapat melakukan aktivitas fisik karena masalah kesehatan, usahakan selalu aktif bergerak disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
4. Tidur yang cukup
Usahakan menjalani Sleep Hygiene yaitu aktif di siang hari dan tidur 6-8 jam di malam hari. Tidur berperan dalam pembentukan memori sistem imun. Tidur setelah imunisasi (cth: Hepatitis A) meningkatkan antibodi dan jumlah sel imun yang persisten.
Ketika tidur terjadi slow-wave sleep di mana terjadi perubahan hormon seperti penurunan hormon stres (kortisol), peningkatan hormon pertumbuhan (GH), penurunan hormon adrenalin.
5. Kelola stress
Stres lama dan berkepanjangan (kronis) dapat menurunkan sistem imun. Beberapa kegiatan yang dapat mencegah stres seperti melakukan hobi berkebun, membaca buku, mengisi teka-teki silang, dan lain-lain.
Upaya mencegah stres juga dapat dilakukan dengan maksimalkan kontak dengan keluarga dan teman melalui telepon dan media sosial online.
6. Keterlibatan sosial
Keterlibatan sosial merupakan interaksi sosial dan koneksi emosional. Keterlibatan sosial adalah prediktor kuat untuk kesehatan. Lansia dengan keterlibatan sosial memiliki fungsi kognitif global.
Sebuah studi longitudinal di Harvard menunjukkan bahwa hubungan sosial yang erat, lebih berkaitan dengan kebahagiaan dibandingkan kekayaan/popularitas.
Bahagia, dengan adanya dukungan sosial, hubungan yang baik dengan sesama pada usia 50 tahun berkorelasi positif terhadap kesehatan di usia lanjut, dibandingkan level kolesterol.***(ymr)
*Foto Pixabay
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri