New Me? Lansia Juga Bisa Lho Menemukan Dirinya Yang Baru


Berita Lansia - Para lansia juga berpeluang besar untuk mampu menemukan 'New Me' dalam diri

2020-05-18 12:10:24

Geriatri.id - Masa pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksi kapan akan berakhir, membuat manusia berubah dan melakukan adaptasi untuk tetap bisa beraktivitas normal. Pada level individu, manusia semakin dituntut kreatif untuk memenuhi segala keperluan hidupnya dengan tetap mampu menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak fisik dan sosial seefektif mungkin.

Dalam situasi ini, menurut Coach Rully Mujahid, Praktisi Life Coach dan Talents Mapping, pandemi Covid-19 tidak hanya melahirkan situasi 'New Normal', tetapi juga 'New Me' yaitu individu-individu yang oleh keadaan "dipaksa" untuk beradaptasi dan berubah untuk bisa tetap beraktivitas dengan baik. Rully mengatakan, kreativitas merupakan kata kunci bagi setiap orang untuk menemukan 'New Me' dalam dirinya.

"Ketika mau membentuk 'New Me' kita, akhirnya kita perlu kapannya, kapan mau berubah, jawabannya adalah secepat mungkin. Karena di luar sana banyak yang berlomba-lomba mau kreatif," ujarnya kepada Geriatri.id.

Lantas apakah kreativitas untuk menjadi 'New Me' ini hanya ada pada orang muda? Jawabannya adalah tidak! Rully mengatakan, para lansia juga berpeluang besar untuk mampu menemukan 'New Me' dalam diri mereka. "Meski sudah berusia lanjut, kalau dia optimis akan masa depannya, atau masih memiliki tujuan hidup atau goal yang ingin dicapai, misalnya hidup bahagia di masa pensiun, di hari tuanya, maka dia mau mampu menemukan 'New Me' dalam dirinya," ujar Rully.

Untuk itu, sebelum menumbuhkan kreativitas, para lansia juga membutukan self awareness atau kesadaran diri. "Bagaimana kita mau berubah kalau kita nggak tahu mana yang diubah?" jelasnya.

Caranya adalah dengan memahami kondisi saat ini, berdamai dengan masa lalu dan merancang masa depan. Untuk bisa merancang masa depan, kata Rully, kita harus mampu berdamai dengan masa lalu kita. 

"Ketika menjadi 'New Me', masa lalu kita harus diberesin. Misalnya pikiran perasaan dari jiwa kita seperti perasaan dendam, ketakutan, kekhawatiran atau pengalaman masa lalu yang membuat kita tertekan, punya trauma dan sebagainya. Juga memaafkan orang atau kejadian di masa lalu, intinya bagaimana membereskan masa lalu," tegasnya.

Membereskan masa lalu menurut Rully, sangat penting untuk merancang masa depan, karena masa depan adalah masa yang tidak bisa diprediksi karena belum terjadi, artinya seseorang, termasuk lansia bisa memandang masa depan dengan pikiran positif ataupun negatif. "Ketika kita sulit membayangkan masa depan yang positif, berarti ada masa lalu yang belum beres. Ketika orang bilang susah, berarti dia sudah melihat masa depannya negatif," jelasnya. 


Kenapa seseorang bisa memandang negatif masa depannya meski logikanya masa depan harus dipandang sebagai sesuatu yang positif? "Karena dalam dirinya berisi hal-hal negatif.

Ketika saya mengkalibrasi klien saya, saya melihat kata-katanya, dia banyak bicara tentang dirinya hal-hal positif atau hal-hal negatif. Karena pada gilirannya pikiran saya sesuai dengan hal-hal yang saya pikirkan," tegas Rully.

Membangun self awareness lebih membutuhkan waktu yang cukup untuk kita mendalami diri kita sendiri. Untuk itu, kata Rully, butuh ketenangan dan keterbukaan untuk kita mengakuinya. 

"Kita menyadari tentang adanya dua dunia dalam diri kita. Ada dunia internal ada dunia eksternal. Ketika kita sudah menyadari si 'internalnya' ini, yang perlu dikuatkan, apakah di internal kita perlu menguatkan 'si bijaksana', atau 'si kreatif', atau 'si hebat', atau 'si pemikir dalam diri kita'," paparnya.

Ketika dunia internal sudah kuat dan menemukan dirinya yang baru dalam menghadapi situasi saat ini atau menemukan "New Me', maka dia akan mampu menghadapi dunia eksternal, atau kenyataan yang dia hadapi saat ini dan di masa depan.

Bagi lansia, kata Rully, selama masih beraktivitas dan agresif dalam mengisi kehidupan dengan hal-hal positif untuk diri dan orang di sekitarnya, maka dia akan mampu membentuk 'New Me' dalam dirinya.

"Apalagi kalau dia sudah menyadari peran dia dihadirkan di dunia oleh Tuhan," pungkasnya. (mag)

Ilustrasi - Lansia optimistis. (piqsels) 
 

lansia,lansia sehat,geriatri,merawat lansia,lansia optimis,new me,lansia bahagia,berita lansia,lansia online

ARTIKEL LAINNYA

Ini Tips Saat Merawat Hipertensi di Rumah

Ajaklah Orangtua ‘Keliling Dunia'

Berkebun Yuk, Guna Usir Kejenuhan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026